Allah memberikan banyak kemudahan di dalam perjalanan, karena perjalanan itu sejatinya berat. Hal ini diungkapkan oleh Pembina Unit Kegiatan Kerohanian Universitas Negeri Padang, Indah Mulyati, M.Ag., dalam acara Kacamata di Aula Gedung Terpadu Fakultas Metematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNP, Jumat (23/3).
Indah menyampaikan bahwa perjalanan layaknya keimanan. Kita memiliki pengharapan pada keimanan semoga membawa ke surga, begitulah perjalanan yang memiliki pengharapan sampai ditujuan. "Keimanan dan perjalanan memiliki kesamaan pada pengharapan," ujarnya.
Lebih lanjut, Indah mengatakan bahwa hendaknya setiap perjalanan yang ditempuh disertai dengan doa. Pasalnya, dalam perjalanan, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Apakah akan ada kecelakaan, musibah, atau rezeki yang akan datang. Hal ini juga yang menjadikan setiap perjalanan itu berat, karena belum pasti akan sampai dengan selamat ke tujuan.
Namun, Allah memberikan kemudahan pada perjalanan yang berat tersebut. Diantaranya seperti boleh meninggalkan puasa, menjama' salat, menqasar salat, dan lain sebagainya.
Rasulullah SAW hampir selalu menqasar salat pada perjalanan. Bahkan, dikarenakan seringnya Rasulullah melakukannya, madzhab hanafi mewajibkan qasar ini pada setiap perjalanan. Sedangkan madzhab malikiyah mensunnah muakadkan qasar dan madzhab syafi'i menda'ifkan yang mana cendrung memperbolehkan dilakukannya qasar ini.
Hukum qasar ini, kata Indah tidak mensyaratkan apa kendaraan yang dipakai, karena setiap perjalanan itu berat, baik perjalanan darat, laut, maupun udara. "Dalam perjalanan yang berat ini dianjurkan berdzikir agar lebih mudah," katanya.
Komentar (0)