"Yang saya rasakan ketika melihat website UNP pertama kali adalah karakter yang ditampilkan oleh website ini menonjolkan pimpinan, padahal pembaca dari website kebanyakan adalah mahasiswa," ujar Syofiardi Bachyul JB, Koresponden The Jakarta Post yang menjadi pemateri dalam acara Pelatihan Website Universitas Negeri Padang (UNP) di Ruang Senat Rektorat, Jumat (13/10).
Menurut Syofiardi, hal ini berbeda sekali dengan beberapa website universitas lain seperti Harvard, Stanford, Universitas Gajah Mada, Universitas Indonesia dan Samritulangi Manado. Pada halaman website mereka, lebih ditonjolkan kegiatan dari mahasiswa dan akademiknya, "Memang tidak ada salahnya karakter web UNP, tapi apakah itu yang dibutuhkan oleh mahasiswa," tanyanya.
Padahal, kata Syofiardi, website universitas yang paling banyak mengakses adalah mahasiswa, jadi yang harus dipasang adalah informasi yang dibutuhkan oleh mahasiswa. "Jadi informasi mengenai mahasiswalah yang harus ditonjolkan," ujarnya.
Afnesha Noveriana Chang, salah satu peserta pelatihan dari balai bahasa yang pernah punya pengalaman mengakses beberapa website universitas untuk melanjutkan study- nya mengatakan bahwa yang dibutuhkan oleh mahasiswa ketika membuka web adalah mereka dapat mengetahui kegiatan akademik di universitas tersebut tanpa harus pergi ke sana.
Misalnya, mahasiswa dapat mengetahui bagaimana labor universitas, mengetahui dosen, dan apa penelitiaanya, mengetahui bagaimana kegiatan akademik mahasiswanya dari website, "Itu sangat membantu saya sebagai calon mahasiswa, dan di UNP ini masih kurang," ungkapnya.
Di akhir acara, Syofiardi mengatakan bahwa jika UNP mau mengembangkan websitenya untuk skala yang lebih luas lagi, maka seharusnya UNP memperhatikan kebutuhan dari pembacanya, "Aturan dalam mendesain web yang baik itu sebenarnya adalah memberikan pelayanan kepada pembaca, jadi tonjolkan informasi yang paling dibutuhkan," tutupnya.
Komentar (0)