"Punya mata tak melihat, punya telinga tak mendengar, punya otak tapi tak berpikir, punya hati tapi tak punya perasaan. Inilah kebanyakan penghuni publik yang kita cinta."
Kalimat ini merupakan sebuah pembukaan esai Abdur Rahma, peserta Pelatihan Penulisan Esai Balai Bahasa Sumatra Barat Tingkat Remaja 2015. Pelatihan esai hari kedua itu membahas satu per satu esai peserta di Kompleks Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau.
Selaku pemateri, Gus tf Sakai mengatakan bahwa seorang penulis harus tahu tentang kalimat dan tulisannya. "Bagaimana seseorang bisa bergaya dalam berjalan, kalau seorang itu tidak tahu cara berjalan," analogi Gus, Selasa (15/12).
Lanjut Gus, seorang penulis harus tahu tentang kalimat yang akan dituliskan dalam esai. Karena dari kalimat akan terbentuk sebuah paragaraf, setelah paragraf padu barulah menjadi sebuah tulisan yang runtut.
Selain itu, Gus juga menyampaikan mengenai panjang tulisan dalam sebuah tulisan. "Sebuah tulisan yang pendek belum tentu jelek dan sebuah tulisan yang panjang belum tentu itu bagus," paparnya.
Gus menjelaskan bahwa sebuah tulisan adalah sepanjang bahan yang ada. Jangan terlalu pendek dan jangan pula terlalu panjang. "Kembangkanlah sebuah tulisan berdasarkan pengetahuanmu dan perdalam lagi dengan materi yang ada. Jadi menggali ke dalaman sebuah tulisan itu penting agar tulisan tak lagi bolong," tutup Gus.
Salah seorang peserta, Muslimai Murni mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol Padang, mengungkapkan rasa senang dengan adanya pembahasan esai peserta satu persatu ini. "Saya lebih paham tentang esai karena belajar melalui kesalahan-kesalahan yang terdapat pada esai saya maupun peserta lain. Itu akan memuat kami mengenal tulisan sendiri," ungkap Murni.
Penulis: Ratmiati
Editor: Wici Elvinda Rahmaddina
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!