Pulau itu tanpa signal, penuh rimba, tidak ada pasar apalagi supermarket, dan alat transportasi ke sana hanya berupa kapal kecil yang datang 2 kali sehari. Begitulah gambaran kecil kehidupan nyata anak-anak SMPN 6 Koto XI Tarusan di Pulau Sungai Nyalo, Pesisir Selatan. Guru-guru dan kepala sekolah mereka setiap paginya harus menyeberangi lautan terlebih dahulu untuk bisa mengajar.
Untuk menyambung sekolah, lulusan SMP ini pun harus bersedia untuk kos di kecamatan karena tidak adanya SMA atau SMK di pulau tersebut. Tidak ada kemewahan. Tidak ada teknologi canggih. Yang ada hanyalah kesederhanaan di tengah kecantikan pulau yang mereka miliki.
Pada 12-14 Desember 2014 lalu, keluarga Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Padang (UNP) bekerja sama dengan Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) UNP melakukan pengabdian masyarakat di Pulau Sungai Nyalo tersebut. Agenda ini merupakan sambungan dari Pelatihan Keterampilan Kerja Kayu dan Meubiler pada 18-21 Agustus 2014 yang diadakan di Jurusan Teknik Sipil FT UNP untuk para pemuda sekolah dan putus sekolah daerah Sungai Nyalo-Mandeh, Pesisir Selatan. Hasil dari pelatihan itu berupa kursi dan meja belajar yang langsung disumbangkan ke sekolah yang ada di daerah mereka, SMPN 6 Koto XI Tarusan. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pengabdian oleh mahasiswa Jurusan Teknik Sipil pada Desember.
Rombongan yang berjumlah 20 orang ini terdiri 1 dosen pembimbing, Dr. Indrati Kusumaningrum, M.Pd., dan 19 mahasiswa. Mereka melakukan renovasi terhadap ketiga kelas SMPN 6 Koto XI Tarusan, seperti kegiatan pengecatan, memperbagus interior ruangan, dan sebagainya.
Salah seorang peserta pengabdian masyarakat, Rita Yuliana Sari, mengatakan pihak sekolah dan masyarakat sekitar sangat merespon positif kegiatan ini. "Mereka ramah dan sangat menghargai mahasiswa," ujar Rita saat ditemui pada Senin, (9/2).
Hari pertama kegitan dilakukan sosialisasi, perkenalan, dan permintaan izin kepada para pemuda dan wali kampung. Kemudian, di hari kedua dilanjutkan dengan kegiatan renovasi di SMPN 6 Koto XI Tarusan.
"Kebetulan pada hari itu murid-murid mengadakan goro di luar kelas, dan kami para mahasiswa merenovasi ruang kelas mereka," kenang Rita.
Menurut Rita, perekonomian masyarakat setempat masih menengah ke bawah. Sangat jarang ditemukan rumah-rumah dari tembok. Yang ada rumah yang terbuat dari kayu. Pada umumnya penduduk setempat bekerja sebagai nelayan, bahkan anak-anak mereka pun di usia SD sudah melaut.
"Sungguh sedih sekali ternyata masih ada di Indonesia daerah-daerah seperti itu di mana anak-anak masih semangat-semangatnya sekolah, tetapi untuk menyambung ke tingkat yang lebih tinggi pun susah," ujar Rita.
Kegiatan renovasi berakhir di hari ketiga. Setelah berpamitan mereka pulang melanjutkan kegiatan masing-masing. Rita mengakui bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat mengingat masyarakat setempat memang sangat membutuhkan bantuan. Ia berharap program ini dapat berlanjut karena masih banyak daerah-daerah terisolir lainnya yang butuh uluran tangan. Gumala
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!