Pekarangan Masjid.
Sore hari ini suara nyiur terdengar berbeda, langit berwarna jingga kemerahan, nuansa sepi terasa begitu kental. Tidak terlihat jiwa-jiwa yang biasanya berdatangan seperti beberapa tahun lalu, tidak terasa aroma petang seperti sebelum-sebelumnya. Sebentar lagi Adzan Magrib akan berkumandang, namun tak seorang lelaki pun terlihat di halaman Masjid.
Allaahu Akbar Allaahu Akbar …
Allaahu Akbar Allaahu Akbar …
Suara panggilan itu terdengar cempreng, tidak bariton ataupun maskulin.
Asyhadhu allaa illaaha illallaah …
Asyhadhu allaa illaaha illallaah …
Terlihat seorang gadis duduk sendirian di dalam masjid, mulutnya bergerak menjawab panggilan Adzan, tangannya saling bertaut bergerak cemas. Gadis itu sesekali menoleh ke belakang melihat pada simpang jalan yang masih tampak sepi. Gadis itu menunduk memejamkan matanya, kembali menjawab panggilan-panggilan dari sang imam yang menggema di toa Masjid.
Asyhadu anna Muhammadar rasuullullah …
Asyhadu anna Muhammadar rasuullullah …
Gadis berkerudung putih itu bernama Aisyah, meremas kedua tangannya semakin kencang kembali memeriksa keadaan di luar masjid. Terlihat beberapa orang yang berjalan mendekat, dari hanya satu dua sekarang menjadi rombongan besar. Orang-orang itu datang menuju Masjid, mungkin untuk memenuhi tanggung jawab Magrib ini atau mungkin juga tidak. Aisyah kembali menunduk, dia mulai cemas.
Hayya 'alashshalaah … 2x
Hayya 'alalfalaah … 2x
Allahu Akbar Allahu Akbar …
Laa ilaaha illallaah …
Adzan selesai berkumandang, bersamaan dengan itu segerombolan orang kampung memasuki Masjid.
Tidak telihat bekas air wudu' di wajah mereka, tidak ada senyuman penyambut panggilan itu. Wajah-wajah yang penuh dengan ketegangan dan sedikit memerah, ada juga yang memasang wajah bingung. Sepertinya Adzan kali ini berhasil memanggil sebagian besar isi kampung, terasa sudah sangat lama sekali.
"Aisyah! Siapa yang Adzan?!" pertanyaan itu datang dari Bapak kepala desa.
"Itu …,"
Perhatian semua orang yang ada di Masjid teralih pada seorang gadis yang berjalan keluar dari ruangan spiker Masjid. Gadis tinggi sedikit berbadan mengenakan mukena hitam.
"Jamilah, kamu ngapain?!" Ibu Jamilah memanggil anaknya histeris.
"Jamilah tahu apa yang sudah kamu lakukan?!"
Pertanyaan dari Pak kepala desa dan tatapan segerombolan orang yang menatapnya marah, sangat mengintimidasi. Jamilah hanya diam, sedikit cemas berjalan mendekati Aisyah. Sedari awal dia sudah ragu dengan rencana ini, karena apa yang dibayangkan belum tentu persis sama dengan apa yang terjadi.
"Aisyah kok yang minta Kak Jamilah buat Adzan."
Perkataan dari gadis bertubuh mungil itu membuat semua orang menatapnya tidak percaya, apakah perkataannya barusan bisa dibilang pemberani.
"AISYAH!"
Ayah Aisyah marah, semua orang tidak mengerti dengan jalan pikir dua gadis remaja ini. Umur mereka masih kecil namun bukan berarti mereka tidak mengerti, tidak paham dengan apa yang baru saja mereka lakukan. Satu kampung gempar dengan apa yang terjadi. Bagaimana bisa mereka membiarkan seorang gadis Adzan menggunakan toa Masjid di saat masih ada laki-laki, masih banyak laki-laki di dalam kampung.
Penduduk kampung yang ada di belakang pak Kepala Desa, berbisik membicarakan dua gadis yang menurut mereka terlalu lancang. Dua gadis itu tampak seperti disidang oleh seisi kampung, hanya saja mereka tidak terlihat takut, hanya cemas dan terus menyuarakan bahwa apa yang mereka lakukan sudah benar.
"Kalian tahu apa yang sudah kalian lakukan?"
Pak Kepala Desa mungkin masih berusaha untuk tenang, tapi bukan berarti orang-orang di belakangnya bisa tenang juga.
"Kami hanya Adzan," Aisyah membela diri.
"Selama masih ada laki-laki di sini, perempuan tidak diperbolehkan untuk Adzan."
"Lalu mana laki-laki itu?" pertanyaan itu cukup untuk membuat yang lain bungkam.
"Tapi kalian tetap tidak boleh melakukan hal ini Aisyah, Jamilah."
"Hari sudah petang, sudah saatnya mengumandangkan Adzan! tapi kenapa tidak ada seorangpun laki-laki yang berjalan menuju Masjid? Kenapa Masjid kita dibiarkan sepi? Jika benar hanya laki-laki yang diperbolehkan kenapa tidak dimulai? Bukan kah sekarang seluruh orang kampung sudah ada di sini? Kenapa tidak langsung salat saja?"
Sangat banyak pertanyaan yang ingin Aisyah tanyakan, apakah orang-orang dewasa itu bisa menjawabnya?
Kampung mereka dibiarkan sepi, Masjid mereka sunyi. Jika anak lelaki yang bersekolah di pondok pesantren pulang barulah Masjid akan kembali ramai. Namun, pada hari-hari biasa seperti sekarang, mereka telah kembali ke sekolahnya masing-masing, tidak akan ada lagi yang meramaikan Masjid. Seolah kampung ini hanya berharap akan kehadiran anak-anak itu, seolah Masjid hanya akan hidup jika mereka pulang. lalu bagaimana dengan anak-anak yang tetap di kampung? Mengapa mereka tidak melakukan hal yang serupa, mengapa memilih tongkrongan di warung dari pada datang ke Masjid?
Lalu bagaimana dengan bapak-bapak dan para remaja yang ada di kampung itu? Bukan kah tubuh mereka masih kuat, kepala mereka masih jernih, suara mereka masih bagus, mungkin ingatan mereka juga masih kuat, mereka masih berdiri dengan kaki mereka sendiri, lalu apa yang mereka tunggu?
.
.
.
"Kalau seperti itu kampung kita akan gempar."
Perkataan itu membuyarkan lamunan Aisyah, dia yang sempat berhenti dan melamun kembali menyapu keramik Masjid yang telah berdebu tebal. Aisyah melirik Jamilah di belakangnya, sibuk dengan jendela Masjid yang kotor. Entah siapa yang melempar lumpur pada kaca-kaca itu.
"Kalau tidak seperti itu, tidak akan ada yang datang ke sini."
Aisyah menundukan kepalanya, kemarin mereka mendapati Masjid dalam keadaan kotor. Ada seekor anjing yang membuang kotorannya di tengah Masjid dan entah siapa yang melempar kaca masjid dengan lumpur, alhasil dua gadis remaja itu menghabiskan waktunya dengan membersihkan Masjid siang tadi. Malam ini mereka kembali menyelesaikan pekerjaannya setelah selesai salat Magrib.
"Lalu kakak yang Adzan?" Jamilah bertanya.
"Iya, biar nanti aku yang jawab pertanyaan orang-orang."
"Memang kamu berani?" Jamilah tampak ragu.
"Kan kita hanya menjawab, bukan melawan," bagi Aisyah ini jalan yang benar untuk dilakukan.
"Nanti mereka nanya, kenapa kalian Adzan?"
"Nanti aku jawab, ya karena tidak ada yang Adzan," Aisyah terus menyapu.
"Nanti orang-orang akan marah pada kita."
"Kenapa marah? Kan kita meramaikan Masjid, kampung kita tidak ada laki-lakinya jadi tunggu apa lagi?" Jamilah tertawa kecil mendengar Aisyah yang terlihat begitu percaya diri.
"Nanti ada yang bilang, cuma laki-laki yang boleh Adzan."
"Lalu aku akan bilang, kalau bapak merasa laki-laki kenapa tidak Adzan?" Jamilah kembali tertawa.
"Bukan kah kita terlalu berlebihan?"
"Kalau tidak berlebihan tidak akan ada yang datang ke Masjid kan?" Aisyah tersenyum kecil, dalam keadaan seperti ini dia merasa menjadi seorang gadis yang sangat keras kepala. Entah apa dia akan berani, tapi saat ini dia merasa sangat berani.
"Kenapa pikiran kita jauh sekali? Aku bahkan sampai membayangkannya," Jamilah menggelengkan kepalanya, menghalau segelintir rekayasa yang mulai menyeruak menjadi gambar di ingatannya.
"Bagaimana kalau kita mencoba?" Aisyah ragu tapi dia juga ingin tahu.
"Kiamat makin dekat nggak sih kalau kita ngelakuin itu?"
Aisyah terdiam, melirik Jamilah yang juga diam. Sepertinya Jamilah telah menyelesaikan pekerjaannya, mulai membentang tikar-tikar yang sebelumnya mereka gulung. Untuk pertanyaan yang Jamilah lontarkan tadi Aisyah tidak tahu harus bagaimana menjawabnya, dia juga bukan pakar Agama yang mengerti tentang itu. Dia hanya gadis SMP yang merasa jenuh dengan orang-orang di kampung, gadis dengan banyak pertanyaan di kepalanya. Bukan kah pada umur seperti ini lah anak-anak akan dipenuhi dengan rasa tanya dan kepercayaan yang lumayan berlebih.
"Pasti masih ada cara lain kan?" Jamilah mengalihkan perhatiannya pada Aisyah yang juga melihatnya.
"Mungkin, tapi apa?"
Jamilah diam, mengalihkan perhatiannya. Dia juga tidak tahu harus menjawab apa.
Malam itu tidak banyak hal yang terjadi, tetapi ada banyak khayalan yang diiringin oleh rasa ingin tahu berlebih. Aisyah dan Jamilah hanyalah dua gadis remaja yang mendapati Masjid dan kampung mereka terasa sangat sunyi. Bukankah kepala mereka terlalu liar hingga pikiran bisa sejauh itu.
(12 Juli 2022)
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!