"Selalu belajar," prinsip yang dipegang teguh oleh Romi Mardela, dosen muda Departemen Kepelatihan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Padang. Baginya tidak ada rasa bahwasanya kita sudah memiliki ilmu yang cukup. Senantiasa merasa kekurangan ilmu menjadikan kita pribadi yang akan selalu meningkatkan ilmu dengan belajar lebih banyak. Dosen muda dengan segudang prestasi ini mengawali karir dalam bidang olahraga dengan menempuh pendidikan bidang Ilmu Pendidikan Kepelatihan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Padang.
Semenjak menjadi seorang dosen, banyak prestasi yang telah diraih oleh dosen berusia 37 tahun tersebut. Baru-baru ini beliau berhasil mengukir prestasi tingkat internasional dengan diakui sebagai tutor (instruktur untuk menyelanggarakan sertifikasi pelatih cricket level 1 dari International Cricket Council (ICC) lembaga cricket dunia untuk east asia pacific setelah mengikuti tutor training di Nadi, Fiji dari 23 s/d 27 Mei 2022.
Dosen Universitas Negeri Padang yang juga merupakan alumni Surat Kabar Kampus (SKK) Ganto ini mengaku sudah menggeluti bidang olahraga cricket sejak 2013, "Khusus cricket, saya kenalnya sejak 2013. Jadi, sebelum menjadi dosen di sini saya ditawari untuk menjadi ketua bidang prestasi, mengurusi cricket ketika masih di Malaysia karena cricket itu cukup maju di Malaysia. Jadi, mereka dibawa ke sini untuk memperkenalkan tentang cricket," ungkapnya saat diwawancarai penulis di ruangannya, Jum'at (24/02). Semenjak itu beliau mengaku mulai banyak mengikuti kegiatan dan mendalami hal-hal yang berhubungan dengan olahraga cricket.
Sembilan tahun yang lalu, tepatnya 2013 dapat dikatakan sebagai awal perjalanan karir pemuda yang lahir di lima puluh kota tersebut. Bertindak sebagai pemakalah seminar ilmiah International Scientific Seminar on Sport and Sportscience, hingga meraih penghargaan Pertukaran Pemuda Antar Negara Indonesia-China (PPAN) bisa dikatakan sebagai langkah awal petualangan karir penuh prestasinya di bidang olahraga.
Tidak hanya itu, pada tahun 2016 Romi kembali mengukir prestasi dengan memperoleh medali perunggu PON 2016 Jawa Barat cabang olahraga cricket, "Kalau untuk olahraga memang lebih kepada cricket, saya juga sebagai pelatih cricket di PON. Sudah 2 kali meraih medali perunggu di PON pada 2016. Itu cricket pertama kali dipertandingkan dan 2020 juga di Papua mendapatkan medali perunggu," jelasnya.
Bidang olahraga cricket nampaknya memang ditekuni dengan baik oleh Romi. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya prestasi yang diperolehnya kurang lebih selama sepuluh tahun belakangan, dan itu di bidang cricket. Tidak hanya penghargaan dalam kegiatan berolahraga saja, dosen muda ini juga banyak mengukir prestasi perihal cricket lainnya, seperti pendanaan, penelitian, pengabdian masyarakat, publikasi lebih dari tiga puluh artikel ilmiah dalam jurnal, pemakalah seminar oral presentation, hingga menerbitkan buku.
Tak kalah mengagumkan, pada tahun 2020 Romi memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dengan judul/tema "Validitas dan Realibilitas Tes Batting Cabang Olahraga Cricket 'Drive Shoot Cricket Batting Test'". Selain itu, beliau juga pernah melakukan penelitian dengan pendanaan mencapai Rp.75.000.000 pada tahun 2020. Dan lagi, semua prestasi ini dari cricket.
Berpegang teguh pada prinsip "selalu belajar" mengantarkan dosen kelahiran Limapuluh Kota, 5 Maret 1985 ini kepada keberhasilan, terutama mengenai bidang keolahragaan cricket, "Jadi, saya menganggap semua itu dimulai dari keinginan untuk belajar. Saya pun di cricket bukan sebagai orang yang paham diawalnya, saya juga tidak tahu apa-apa tentang cricket, sampai akhirnya saya belajar terus menerus, mengikuti berbagai pelatihan, dan tidak ada rasa bahwasanya kita sudah memiliki ilmu yang cukup," ujarnya.
Dengan segudang prestasinya ini, Romi selalu berusaha sebaik mungkin menjaga hubungan baik dengan Allah, yaitu sholat tepat waktu, berusaha menjauhi maksiat dan lain sebagainya, "Jika kita senantiasa berusaha menjalankan perintah Allah, Allah akan memudahkan urusan kita dan kita harus yakin," jelasnya.
"Kejar akhirat maka dunia akan mengikuti," itulah semacam keyakinan yang selalu dipegang teguh oleh Romi Mardela. Baginya memiliki segudang prestasi hanyalah sebatas kenikmatan dunia yang tidak akan didapat tanpa memprioritaskan akhirat sebelumnya. Maka setelah itu, urusan akhirat dan urusan dunia haruslah bisa diseimbangkan.
Dosen muda yang dulunya juga merupakan aktivis kampus saat masih menjadi mahasiswa ini, ketika ditanyakan bagaimana beliau membagi waktu antara prestasi, menjalankan tanggung jawab sebagai dosen yang mengajar, dan melakukan penelitian, serta melatih cricket, jawaban beliau, yaitu memprioritaskan apa yang harus disegerakan dan yang paling baik adalah tidak menunda pekerjaan. Baginya, pemilihan yang prioritas itulah yang menjadi penting dalam hal membagi waktu, karena tidak semua hal bisa kita kerjakan dalam satu waktu, "Membagi waktu bukan kita menargetkan waktu untuk ini segini banyaknya, untuk ini segini, tetapi kalau saya membagi waktu itu adalah memprioritaskan apa yang harus disegerakan," jelasnya
Hal yang paling utama untuk mencapai keberhasilan menurut Romi adalah menyenangi apa yang kita lakukan. Berprestasi menurutnya bukan berarti kita melihat orang lain berprestasi di bidang tertentu, kemudian kita berkeinginan pula untuk berprestasi di bidang tersebut, tetapi apa yang kiranya membuat kita senang terlebih dahulu, "Berprestasi itu bukan berarti kita melihat prestasi orang lain kemudian kita ingin pula berprestasi seperti itu, tidak, tetapi prestasi itu, apa yang kita mampu, kita senangi. Nah, kalau kita sudah senang, kita pasti bisa melakukannya, apapun kendalanya tetap kita menjalaninya. Jadi, yang paling utama untuk meraih, mencapai keinginan atau mencapai keberhasilan harus menyenangi apa yang kita lakukan," tuturnya.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!