Telusur

Menelusuri Los Tjan Boen Seng, Komplek Pemakaman Tionghoa Terbesar di Sumbar

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Sabtu, 1 April 2023 23:28 WIB • 👁 2.967 Pembaca
Menelusuri Los Tjan Boen Seng, Komplek Pemakaman Tionghoa Terbesar di Sumbar
Los Ziarah Pemakaman Tjan Boen Seng

Mengulik bahasan bertemakan kebudayaan di Sumatera Barat memang tidak ada habisnya. Sumatera Barat terkenal akan berbagai kebudayaan, baik itu budaya asal Minangkabau maupun budaya-budaya etnik pendatang yang sudah menjadi sautu kesatuan seperti budaya Tionghoa, India, Jawa dan sebagainya. Namun, kita tidak akan membahas mengenai budaya Minangkabau, akan tetapi penulis tertarik mengulas budaya Tionghoa khususnya didaerah asal penulis yaitu Kota 'Randang' Payakumbuh.

Kota Payakumbuh merupakan kota yang tidak jauh beda dengan kota-kota besar lainnya, kota yang juga hunian penduduknya multi etnis. Golongan masyarakat antara penduduk asli dan warga pendatang, termasuk masyarakat etnis Tionghoa, yang berlangsung secara terus menerus dan paripurna. Terdapat banyak suku dan beberapa agama juga ada di Payakumbuh, tentu saja masyarakat harus rukun antar umat beragama serta saling menghargai mulai dari perayaan atau upacara agama apapun.

Etnik Tinoghoa mulai bermigrasi ke Payakumbuh semenjak sejak pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan peraturan tentang hak milik tanah liar pada tahun 1873, banyak orang Tionghoa yang tinggal di kota-kota di pedalaman Sumatera Barat, seperti di Padang Panjang, Bukittinggi, Payakumbuh, Sawahlunto, Solok. Biasanya mereka tinggal secara berkelompok di daerah pecinan. Orang Tionghoa berhasil membangun perekonomiannya dengan keahliannya dalam berdagang. Walaupun dengan kesempatan yang terbatas, namun mereka mampu menguasai beberapa komoditi penting, terutama ekspor dan impor serta peranannya yang penting dalam perekonomian desa dengan memperkenalkan sistem 'mindering' dan 'julu-julu'.

Minggu 5 Maret 2023, penulis menelusuri rekam jejak etinik Tionghoa yang ada di Payakumbuh tepatnya di Bukit Panjomuran, tepatnya di Kelurahan Padang Karambia, Kenagarian Limbukan, Kecamatan Payakumbuh Selatan. Bukit Panjomuran atau masyarakat setempat sering menyebut "Bukik Cino" merupakan tempat pemakaman mayarakat Tionghoa yang berada di Payakumbuh. Secara umum komplek pemakaman tersebut diisi anggota dari Kongsie Heng Beng Tong dan Konsie Hok Tek Tong atau sekarang yang lebih dikenal Himpunan Bersatu Teguh (HBT) dan Himpunan Tjinta Teman (HTT).

Komplek pemakaman Tionghoa itu dinamai sesuai dengan tokoh yang sangat berjasa dalam membangun komlek pemakaman tersebut yaitu Los Tjan Boen Seng. Bagunan semi permanen yang digunakan sebagai tempat persinggahan sementara bagi pelayat dan peletakan peti sementara sebelum menuju ke pemakaman serta sebagai tempat sembahyang bersama pada saat peringatan hari Cheng Beng .

Penulis sempat bertanya kepada penduduk sekitar terkait awalmula terbentuknya komplek pemakaman Los Tjan Boen Seng ini. Asril (60) menjelaskan komplek pemakana etnik Tionghoa tersebut pada berada di Bukit Ngalau dekatKantor Walikota Payakumbuh, namun akhirnya dipindakan ke Bukit Panjomuran dikarenakan faktor sengketa lahan. "Mungkin lahan yang sudah di tempati itu sudah terlebih dahulu di klaim Pemerintah," jelasnya. "Kata nenek saya dulu komplek pemakaman ini sudah digunakan dari tahun 1900 dan pemakaman ini merupakan pemakaman terbesar yang ada di Sumatra Barat," lanjutnya.

Informasi mengenai sejarah keberadaan Los Tjan Boen Seng ini juga dapat kita temui pada prasasti yang tertulis dekat pintu masuk komplek pemakaman. Dituliskan pada prasasti tersebut pada tahun 1981 oleh Tan Hock Tijong dan Tjan Boen Seng, yang merupakan dua orang sahabat baik yang yang telah merantau dan meninggalkan kota kelahiranya Payakumbuh. Kedua tokoh tersebut berinisiatif merenovasi & memperpanjang bangunan rumah singgah yang bangunannya diresmikan bersama pada hari cheng beng pada tanggal 5 april 1981 ,dengan menamakan rumah singgah mejadi nama bangunan Los.

Lebih lanjut dalam catatan sejarah itu menjelaskan mengetahui kondisi bangunan yang mulai rusak dan sering terjadi genangan air akibat rendahnya lantai los dari jalanan, dimana Tan Hock Tiong selaku toako honor HBT menyampaikan keinginannya untuk membangun dan membiayai sepenuhnya sebuah bangunan los yang baru untuk mengembalikan fungsi menjadi sebuah bangunan los yang peruntukannya murni sebagai tempat transit dan istirahat serta tempat sembahyang bagi pelayat dan peziarah yang membutuhkannya.

Atas kesepakatan bersama dalam pengurus Himpunan Sosial Ziarah pemakaman yang merupakan perkumpulan gabungan masyarakat tionghoa payakumbuh yang bearanggotakan HBT& HTT yang diketahui oleh Thalib & Hauwanto Budiman dilakukan perbaikan los dengan pengdaman tanah samping los yang penggunaanya diresmikan pada tanggal 11 september 1999. Pada tanggal 26 jaunuari 2016 dilakukan pembongkarang seluruh bangunan LOS lama dan pembngunan los baru dimulai oleh Toako kehormatan HBT Tan Hock Tjiong menyerahkan bangunan los ini kepada Toako Sho Yong Tjuan, dan pelaksannannya kepada Hiati Gho Han Fei.

Keberadaan Los Ziarah Tjan Boen Seng ini sangat berarti bagi etink Tionghoa yang bermukim di Payakumbuh. Masyarakat Tionghoa menganut sistem kekeluargaan bilineal dan selalu mengharuskan untuk menghorti orang tua (xiao). Sebagian besar orang Tionghoa di Sumatera Barat menganut ajaran Konghucu,Budha, Kristen, dan sebagian kecil Islam, namun mereka pada umumnya lebih mendahulukan pelaksanaan upacara leluhur. Anak-anak Tionghoa belajar di sekolah khusus untuk orang Tionghoa yaitu Tiong Hoa Hwe Koan (THHK) atau di sekolah yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1908 yaitu Hollands Chineesche School (HCS).

Tionghoa peranakan aktif dalam politik di Hindia Belanda, sedangkan Tionghoa totok berorientasi kepada budaya dan negara leluhur Cina dengan aktif menjalankan propaganda- propaganda politiknya melalui bidang pendidikan (THHK). Tionghoa peranakan yang memperoleh pendidikan Eropa mendirikan Chung Hua Chung Hui (CHCH) dan mempunyai wakilnya di Minangkabau Raad.

Komplek pemakaman Tjan Boen Seng ini akan ramai pada saat perayaan Cheng Beng atau dalam istilah polulernya disebut ziarah kubur. Ceng Beng merupakan tradisi warga keturunan Tionghoa yang setiap tahun dilakukan pada awal bulan April. Pada saat Ceng Beng, ribuan warga biasanya memadati pemakaman untuk menghormati jasa-jasa orangtua dan leluhur mereka. Selain itu mereka juga membersihkan makam, bersembahyang dan meninggalkan karangan bunga, makanan dan uang kertas di kuburan orang yang mereka hormati. Serta mereka juga memberikan angpau kepada masyarakat sekitar maupun masyarakat yang sekedar datang untuk melihat perayaan mereka.

Dikutip dari laman sudut payakumbuh.com Perayaan Hari Ceng Beng yang jatuh setiap 5 April, sampai hari ini masih mengikutsertakan seluruh masyarakat yang berada di kelurahan Padang Karambia. Dalam Perayaan Ceng Beng ini nanti akan ada dua makanan pokok yaitu babi dan kambing, babi diberikan kepada orang Tionghoa sedangkan kambing diperuntukkan untuk yang masyarakat Padang Karambia yang beragama Islam.

Sebelum menggelar perayaan Cheng Beng itu, masyarakat etnik Tionghoa juga punya tradisi unik yaitu mengajak masyarakat setempat untuk ikut makan bersama dengan masyarakat Padang Karambia. Beberapa ekor kambing nanti akan diserahkan kepada masyarakat untuk diolah dan akan di makan secara bersama-sama pada puncak perayaan Cheng Beng. Hubungan sosial yang baik itu sudah lama terjalin secara harmonis. Tentu nilai-nilai kebersamaan tersebut yang selalu dijunjung tinggi oleh seluruh etnik Tionghoa dalam menjalani kehidupan disamping menghormati para leluhur mereka yang sudah mendahuluinya.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Wafik Nur Aziza
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

9 + 7 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.