Setitik nila dalam bejana nirwana
Memporak-porandakan bias sinaran
Tiba-tiba setiap umat merasa bak pahlawan berlipat nyawa,
Padahal hanya menunduk di balik perisai seolah melawan.
Mereka mengecam,
padahal secarik nasib menjadi bulan-bulanan derita.
Bersembunyi di balik reruntuhan peduli,
padahal hanya memendam ketakutannya.
BACA JUGA:
Kenyataan Pahit Negeri Ini
Atas nikmatnya kopi panas, senyum tipis memerah.
Menelan ikhlas, memendam amarah.
Menyaksikan yang terjadi biar terjadi,
memetik api dalam senyap ambisi.
BACA JUGA:
Pada Hari yang Mengingat
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!