Sosok

Lebih Dekat dengan Mursal Esten; Awak Redaksi Ganto hingga Calon Rektor

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Rabu, 17 Agustus 2022 19:25 WIB • 👁 2.637 Pembaca
Lebih Dekat dengan Mursal Esten; Awak Redaksi Ganto hingga Calon Rektor
Foto Mursal Esten: Arsip SKK Ganto

Mursal Esten, nama yang tidak asing lagi di telinga sivitas akademika Universitas Negeri Padang (UNP). Nama yang kemudian dijadikan sebagai nama sebuah Gedung Teater Tertutup di Kampus Ungu, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Padang. Tidak hanya itu, nama Mursal Esten juga dijadikan nama teater di Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang. Lalu, sebenarnya siapakah sosok Mursal Esten itu?.

Bersama tulisan ini penulis mengajak pembaca untuk sedikit berkenalan dengan beliau. Mursal Esten lahir di Kanagarian Kacang Kabupaten Solok, pada 5 September 1941. Mursal adalah anak kedua dari 7 bersaudara, sosok yang kemudian namanya melegenda dalam dunia kesusastraan Sumatera Barat. Mengutip dari sebuah wawancara mantan wartawan Ganto, Yurnaldi, tahun 2000 silam dengan Mursal Esten.

Mursal Esten merupakan sosok yang mempunyai pandangan berbeda terhadap perilaku konservatif orang Minangkabau. Kehidupan maupun perilaku orang Minang tahun 2000 silam tentu sangat berbeda dengan orang Minang pada tahun 2022 ini. Dalam pandangannya, orang Minang tidak ada bedanya seperti tokoh legenda Datuk Meringgih, yang memiliki sifat kikir, suka pamer, dan berkepribadian gila hormat.

Sosok Datuk Meringgih sangat multidimensional, sebagai pedagang ia kaya-raya. Dengan kekayaannya itu ia membabat saingan-saingan bisnisnya, sehingga bisa melakukan praktik monopoli. Dengan kekayaannya itu pula ia dapat dengan mudah menarik wanita-wanita cantik untuk dijadikan istri, tidak terkecuali si cantik Sitti Nurbaya.

Dalam tataran inilah kisah Datuk Meringgih tampil sebagai fenomena menarik. Sosok tipikal Datuk Meringgih yang dibangun Marah Rusli di awal 1920-an itu pada hakikatnya adalah potret dari perubahan dan pergeseran yang terjadi dalam masyarakat Minangkabau, khususnya di Kota Padang yang ketika itu tengah berkembang menjadi bandar perniagaan pada saat romanSitti Nurbayaditulis.

"Akan tetapi, jangan lupa!. Tokoh seperti Datuk Meringgih ini ternyata tetap hadir dalam berbagai zaman; dahulu dan sekarang," ucap Mursal, lelaki kelahiran Kacang, suatu daerah di pinggiran Danau Singkarak.

Melirik karir Mursal Esten sebagai seorang pegiat literasi beliau menghabiskan masa kecilnya di Solok, sampai pada akhirnya ia diterima di IKIP (sekarang UNP) pada 1960 silam. Masa-masa di IKIP inilah Mursal giat mengikuti dunia tulis menulis.

Awal tahun 1978, ia ikut serta dalam mengisi rubrik di koran kampus Tridharma (sekarang Surat Kabar Kampus Ganto). Mursal yang saat itu telah menyandang gelar Doktorandus (Drs) hanya bertahan selama satu tahun. Selain kesibukannya sebagai sarjana, ia juga aktif menggarap karya lainnya.

Mursal Esten adalah seorang yang sangat keras mengomentari budaya orang Minang yang terbilang otoriter, salah satunya pepatah-petitih adat Minang yang berbunyi,"titiak dari ateh" sangat ditentang Mursal.

Junior Mursal di Tridharma, Harris Effendi Thahar mengungkap Mursal merupakan sosok orang lama yang baru. Dalam pandangan Harris, Mursal adalah laki-laki Minang modern yang tidak lagi menempatkan diri dibalik mitos-mitos kebesaran Minangkabau masa lalu.

Oleh karena itu, seorang Mursal Esten tidak akan berkata di 'bawah-bawah', tetapi sesuai konteks dan proporsinya. Ia juga tidak akan mandi dibaruah-baruah, melainkan akan 'memandikan' orang lain, jika memang mitra bicaranya itu perlu 'dimandikan'.

"Oleh karena itu, tidak heran kalau sebagian teman sejawat menilainya arogan," kata Harris mengomentari posisi Mursal.

Keberanian dan kelugasannya dalam mengkritik perilaku orang Minang inilah yang juga mengantarkan ia bersaing dalam memperebutkan kursi Rektor IKIP tahun 1999 silam. Namun Mursal harus kalah oleh kandididat lainnya, Prof. Dr. A. Muri Yusuf.

Dalam catatan arsip Ganto, isu-isu sekuler dikaitkan pada Mursal Esten. Maklum saja saat itu orang Minang masih mempercayai "titiak dari ateh" dan hanya segelintir orang yang memiliki pandangan seperti Mursal Esten.

Prof. Drs. Mursal Esten hingga akhir hayatnya pernah menjabat di berbagai institusi, diantaranya sebagai Guru Besar di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni UNP, Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padang Panjang, Ketua Pusat Kesenian Padang (1974-1979), Kepala Taman Budaya Provinsi Sumatera Barat (1979-1989), Ketua Badan Koordinasi Kesenian Nasional Indonesia (BKKNI) Padang (1986), dan Ketua Pengurus Pusat Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (PHSKI) tahun 1997.

Di bulan-bulan terakhir sebelum kepergiannya saat sakitnya mulai parah, ia masih menyempatkan diri untuk datang ke ruang sidang Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS UNP, "habitat"-nya, dengan mengendarai mobil sendiri meski hanya untuk silaturahmi. Banyak teman sejawatnya yang menyarankan untuk beristirahat di rumah dan melepas rindu lewat telepon saja. Tetapi ia langsung menjawab, "Saya tidak bisa istirahat!"

Kini, Mursal Esten benar-benar telah beristirahat untuk selamanya. Sebelum meninggal, ia meminta agar dikuburkan di kaki kuburan ibunya di Kacang, Kabupaten Solok. Ia meninggal bertepatan dengan HUT RI ke-58 pada 17 Agustus 2003 dalam usia hampir 62 tahun. Mursal Esten meninggalkan seorang istri, tiga putra, dan dua orang menantu. Semoga Tuhan mengasihi dan memberinya tempat yang sebaik-baiknya.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Rino Warisman Putra
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

3 + 7 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.