Cerpen

SARANG

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Selasa, 26 Oktober 2021 10:50 WIB • 👁 2.576 Pembaca

"Jika bersama terlalu lama, pasti kau akan merasa jengah. Namun jika tidak berjumpa, kau pasti merasa rindu, siapalah lagi namanya, jika bukan saudara."

"Kak, kalau sudah mandi handuknya tolong taruh di rak, jangan ditaruh di atas kasur. Sudah berapa kali Tika bilang!!!" Teriakku pada seorang gadis berambut ikal, yang sedang asyik mengunyah keripik kentang kesukaanya. Wajahnya tampak acuh seperti hal yang barusan kulakukan adalah hal yang sudah biasa terjadi. Tampaknya gertakan yang kuberikan setiap hari, tidaklah cukup untuk membuatnya sadar bahwa di usianya yang sudah matang, sudah seharusnya memilih pola hidup yang lebih baik.

Maksudku begini, dia memang anak pertama yang tangguh, pekerja keras dan juga cerdas, tapi lihat kelakuannya saat ini, setiap hari bangun dengan tergesa-gesa karena terlambat, lalu handuk basah yang diletakkan di tempat favoritnya yaitu, kasur. Tempat tidur yang tidak pernah dibersihkan, dan satu lagi hobinya yang paling kubenci adalah, makan apapun di atas tempat tidur. Ku rasa anak di usia 3 tahun pun sudah mengerti bahwa kasur adalah tempat yang digunakan untukmu beristirahat atau tidur, dan tidak ada pengalihan fungsi kasur menjadi tempat untuk makan dan menaruh handuk kan? Beritahu aku jika aku salah.

Begitulah kira-kira gambaran jika kau memiliki saudara pemalas yang ingin sekali kau kubur dalam tanah tetapi kalian malah disatukan di kamar yang berukuran 3x4 meter, dengan risiko kau tak bisa mendekorasi kamarmu sesuai yang kau inginkan, halah, jangankan memberikan bubuhan ornament kamar, untuk terlihat bersih pun kamar ini akan terasa jarang. Sehingga banyak sekali keluarga besarku yang jika singgah dan melihat kamar kami berdua, menyebutnya seperti sarang. Bahkan yang lebih buruknya lagi, ibu kamilah pencetus dari kata "sarang" ini. Tapi apa boleh buat, bukanya membantah, tapi memang benar, kamarku lebih terlihat seperti sarang dibandingkan dengan kamar manusia pada umumnya. Dan ya! Itu semua adalah ulah Kakak perempuanku tercinta yang bernama, Randita.

Dari segala kebiasaan buruk yang dia punya di dalam kamar, sialnya akulah yang harus menanggung semua akibatnya. Setiap hari aku harus mendengar suara merdu Ibu saat mengoceh yang asal muasalnya adalah keadaan kamar kami yang memprihatinkan. Lalu akulah yang harus mengalah dan turun tangan untuk membersihkan semuanya, mulai dari produk-produk perawatan kakakku yang diletakkannya dengan sesuka hati nuraninya, baju-baju yang berserakan, dan segala hal yang berhamburan di sana.

Jika kau bertanya kenapa aku tidak bisa protes dengan apa yang terjadi padaku, jawabannya adalah Kak Dita yang agak manipulatif ini akan mengancamku untuk tidak memberikan uang saku tambahan, dan ini tidak akan pernah aku biarkan. Hey, ayolah aku adalah seorang mahasiswa, angkat tanganmu jika kau adalah mahasiswa namun tidak membutuhkan uang. Itulah kenapa dengan sungguh sangat amat berat hati, aku harus membereskan kekacauan di kamarku yang merupakan ulah Kakakku.

Sebenarnya, hal ini adalah bagian terberat dalam hari-hariku. Terkadang aku iri dengan orang-orang yang bisa memiliki kamarnya sendiri. Memiliki ruang pribadinya untuk menjadi dirinya sendiri. Semenjak usiaku 17 tahun, aku merasa bahwa aku membutuhkan privasi yang lebih dan untuk membangun batasan rasanya sulit sekali bagiku, Karena aku harus berbagi ruang dengan seseorang, meskipun ia adalah saudara kandungku. Tak dapat dipungkiri, besar keinginanku untuk memiliki kamar sendiri, lalu mendekorasinya dengan hiasan cantik dan menata ruang pribadiku sesuai dengan keinginanku. Yah sekecil apapun itu bagimu, tapi itulah mimpi besarku dulu.

Aku tak terlalu mempermaslahkan kebiasaan Kak Dita yang suka mengkambing hitamkan aku atas segala kekacauan kamar yang dia buat. Yah, aku juga mengakui, dia adalah pendengar yang baik dan seorang yang cukup bijak untuk membantuku dalam mengambil beberapa keputusan besar dalam hidupku. Contohnya saat ini, aku bisa sampai universitas dengan jurusan impianku, semua itu karena bantuan Kak Dita yang memberiku nasihat dan dorongan agar aku tidak menyerah. Ah, aku rasa aku mulai merindukannya.

Dan satu lagi impian terbesarku bisa terwujud, yaitu memiliki kamar sendiri, meskipun aku harus tinggal jauh dari keluargaku. Mimpi besarku sudah tercapai dan kamar kosku sudah ku tata dengan gaya vintage yang aku impikan sejak dulu. Meskipun begitu, aku tetap rindu kamarku bersama Kak Dita. Walaupun aku harus berbagi kasur dan meja belajar bersamanya. Rasanya rindu saat pagi itu aku meneriakkinya karena meletakkan handuk basah di atas kasur. Rindu saat melempar pakaian kotor ke arahnya dan memintanya untuk segera membersihkannya, hal yang tidak dapat saat aku sendiri di sini.

Kau mungkin takkan percaya hal ini, tetapi aku bersungguh-sungguh saat mengatakan aku lebih suka dengan kamarku dan Kak Dita dibandingkan harus tinggal sendirian. Begitulah kenyataannya bukan? Jika bersama terlalu lama, pasti kau akan merasa jengah. Namun jika tidak berjumpa, kau pasti merasa rindu, siapalah lagi namanya, jika bukan saudara. Tapi tak apa, aku tetap mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan, walau terkadang aku sering berkata pada Kak Dita "Aku ingin pulang Kak, aku rindu tidur di SARANG."

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Farisyah Safitri
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

6 + 9 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.