Hening mencekam di setiap sudut-sudut atap berlumuran sawang dan abu. Hanya suara jangkrik yang terdengar sedikit merdu. Pilu, lima waktu tak lagi dipenuhi kaki-kaki yang menapaki jalan setapak menujuku. Terdengar suara pintu terbuka.
"Siapa yang datang mengunjungi kita kali ini?" tanya jendela kepada pintu.
"Lelaki tua berserta tongkat kayunya." jawab pintu.
Lelaki itu selalu datang memberi seruan, mengajak penghuni kampung untuk berkunjung sejenak menilik surau tua yang sudah berdiri sejak zaman Belanda dulu. Tak ada yang kunjung mendatangi surau itu.Hanya lelaki tua itu yang selalu setia dan tak pernah berubah untuk mengunjungi surau tersebut. Saf-saf tak pernah lagi terisi, sajadah panjang yang terbentang hanya menjadi hiasan dan pajangan di dalam surau.
"Kenapa tak ada lagi yang ingin mengunjungi kami?" tanya sajadah kepada lelaki tua itu.
"Orang-orang dewasa mungkin sibuk mengais rezeki untuk memenuhi hidup." jawabnya.
"Lalu bagaimana dengan anak-anak pengajian yang dahulu selalu berlari-lari di depan halaman. Mereka sungguh meramaikan surau ini."tanya sajadah lagi.
"Mereka sudah tumbuh dewasa sibuk dengan kehidupan duniawinya, sementara anak-anak sibuk dengan gawainya. Tak sempat pula mereka mengunjungi surau ini." ujar lelaki tua.
Jawaban lelaki tua itu membuat seisi surau bersedih. Zaman semakin canggih ternyata membuat manusia melupakan surau, tapi seisi surau masih beruntung memiliki lelaki tua bertongkat kayu yang masih saja setia berkunjung. Jalan membungkuk tak pernah menghalanginya menapaki setapak demi setapak tanah berlubang dari rumah menuju surau.
"Apakah kau akan tetap mengunjungi kami?" tanya Al-Quran yang berbaris rapi di lemari.
"Tenang saja, aku akan selalu menjadi sahabat surau. Aku akan selalu berkunjung setiap lima waktu. Walaupun tak bisa beramai-ramai seperti dulu." ucap lelaki tua menenangkan seisi surau.
***
Fajar hampir menyapa, mikrofon di surau sudah menunggu lelaki tua mengumandangkan suaranya yang merdu. Al-quran yang berbaris rapi di lemari sudah bersiap-siap untuk dibaca ayat demi ayatnya. Pagar dan pintu sudah tidak sabar menunggu lelaki tua bertongkat kayu datang berkunjung diawal subuh. Lama sekali, sinar mentari pagi sudah mulai masuk dari jendela, tetapi lelaki tua belum jua datang.
Seisi surau masih menunggu lelaki tua datang dimulai dari tergelincirnya matahari dari tengah-tengah langit ke arah barat sampai langit diselimuti awan gelap gulita, lelaki tua tak kunjung jua datang.
Sudah sepekan lelaki tua itu tak berkunjung ke surau. Seisi surau sudah agak kumuh karena tak dibersihkan oleh lelaki tua bertongkat kayu.
"Apakah dia begitu sibuk mengurusi urusan duniawi hingga tak pernah berkunjung lagi. Bukankah terakhir kali kita bercakap dengannya ia mengatakan akan terus mengunjungi surau ini." isak tangis seisi surau yang kian hari kian berdebu.
"Siapa itu yang datang beramai-ramai?" teriak pagar bambu dari luar kepada seisi surau.
Lelaki tua itu datang beramai-ramai membawa warga sampai jalan setapak penuh. Ia tak lagi datang bersama tongkat kayunya. Ia datang dengan keadaan berbeda, diangkat oleh warga di dalam keranda bertuliskan kalimat tarji. Ia solat di saf paling depan, tetapi bukan sebagai imam. Tubuhnya bisu, membeku.
Seisi surau dipenuhi duka. Sepekan lalu ia tak berkunjung ke surau bukan karena tak mau, tetapi sakit keras tak mampu membawa ia beserta tongkatnya menuju surau. Kini lelaki tua tak lagi menapaki jalan menuju surau. Kini lelaki tua tengah berjalan menuju dzat pencipta kalbu.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!