Rumah ini tampak indah bila dipandang dari jauh, mendekatlah lagi maka akan kau temukan banyaknya daun kering yang rontok tersapu angin. Angin yang bergerak tadi seakan mengabarkan duka cita si pemilik rumah dalam waktu senjanya.
"Sudah lama sekali dia tak pulang," ucap seorang tua.
"Ia sedang sibuk dengan sekolahnya Pak, nanti pasti dia akan pulang," kata seorang tua lagi.
Kemudian hening melanda. Raut kerinduan dan kekhawatiran begitu kentara di wajah orang tua itu.
"Mengapa ia tak jua kunjung pulang, apakah tiada rindu hatinya pada kita?" ucapnya.
Seorang tua yang jadi lawan bicaranya tadi hanya terdiam saja mendengar ucapan suaminya. Dalam hatinya pun begitu gundah. Banyak tersimpan kegetiran, adakah perihal yang menimpa anak perempuannya di negeri nun jauh di sana.
"Bersabarlah sebentar lagi. Barangkali tugasnya begitu banyak. Aku yakin ia tidak lupa jalan pulang," ucap istrinya.
Matanya membentuk sungai tanpa aliran. Tetapi berusaha dia tahan. Selama enam puluh tahun penghidupannya, tak pernah dirasakannya sedih yang teramat sangat seperti ini. Anak perempuannya yang seorang, telah membuat seluruh jiwa dan raganya gelisah.
"Ada baiknya dulu tak aku sekolahkan dia jauh-jauh. Telah kurasakan kini, sudah dipenghujung senja umurku. Telah meredup cahaya dimataku. Tiada anakku yang mendampingi. Bagaimana jika nanti aku telah berpulang, siapakah yang kan mengirim doa," kata lelaki tua itu.
"Kalau dulu ia tak di sekolahkan, mau jadi apa ia. Lebih baik diteruskannya sekolahnya itu, biar tak buram jua masa depannya" jawabnya.
"Tapi lihatlah, tiada pernah dia pulang. Rumah ini sudah semakin sepi. Untuk apa gunanya ilmu tinggi-tinggi tapi lupa dengan adat, lupa dengan kampung, lupa dengan keluarganya" terangnya.
"Sekarang bukan dahulu lagi Pak. Ia mestilah berilmu biar tak celaka hidupnya," kata istrinya.
"Tidaklah mengerti aku tentang zaman yang kau sebutkan itu. Banyak yang tiada bersekolah sejahtera saja hidupnya, dia urus rumahnya, tidak lupa mereka dengan kampungnya, buat apa sekolah tinggi-tinggi tapi tak ingat rumah sendiri" ketus lelaki tua itu.
"Sudahlah, yang sudah berlalu cukuplah tertinggal. Lebih baik berkirim doa untuknya,mudah-mudahan tergerak hatinya untuk pulang" jawab istrinya.
Semua penantian hanyalah waktu-waktu yang dipaksa bertahan. Bagaimana pun sang tua itu tegar dengan setiap kesabarannya, rindu dan kerisauan yang dia simpan selalu datang tanpa pernah diundang. Air mata selalu jatuh dalam setiap doa yang mereka langitkan.
"Malam kini semakin meredup, penglihatan tak lagi seterang dahulu, menjadi tua tidak pernah aku cita-citakan" ucapnya.
"Tak ada orang yang bercita-cita menjadi tua pak" kata seorang tua lagi.
"Apa salah jika menjadi tua? Apa dia tak suka dengan orang tua seperti kita?" ucapnya sedih.
Istrinya hanya terdiam. Semua yang dilakukan layaknya jalan buntu. Tiada yang dapat diperbuatnya selain hanya doa. Sang tua itu mencari kekuatan dalam sujudnya yang panjang.
**
Esoknya pegantar surat datang. Ia berikan sebuah amplop putih kepada orang tua itu.
"Apakah itu dari anakku?" tanyanya.
"Tidak ada nama pengirimnya Bu" ucap si pengantar surat.
Air mata orang tua ini berderai. Betapa bahagia dirinya menerima surat itu, itulah kali pertama anaknya mengirim surat.
"Apa
itu surat dari Ia? Apa isi suratnya, bacakanlah untukku" ucap seorang tua lagi.
Bergegaslah istrinya mengambil kaca mata. Lalu mulailah ia membaca.
"Biarlah
malam itu tetap mengelam untukku
Ragaku
adalah kapal yang kehilangan
nahkoda
Bangau
yang telah kau lepas itu Telah lupa jalan pulang
Dunia kini tak
lagi sama seperti
inginmu yang kemarin
Maaf dan memohon ikhlas adalah jalan terbaik untukku pulang"
"Apa arti isi surat ini Pak?" tanyanya.
Iatertegun, tak mampu menjawab. Kemudian tangisnya pecah apa yang ada dalam dirinya tak lagi mampu ia bendung.
"Aku hanya ingin Ia pulang" ucapnya pilu.
"Sudah berputih mata aku menanti ke pulangannya. Andai dia tahu betapa berat penanggungan kita berpisah dengannya" ucap orang tua itu.
"Aku hanya ingin Ia pulang" ungkapnya lagi.
Begitulah setiap harinya kedua orang tua itu bercakap tentang kepulangan si jantung hati. Hingga pada suatu hari tiada terdengar lagi percakapan mereka dan jendela rumah ini pun tak lagi terbuka. Pada senja yang buram, kedua orang tua itu harus mengalami kekalahan dalam kalutnya kehilangan.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!