Aku memilih duduk paling pojok di ruangan itu, sesekali berpangku lutut sambil terus merutuki tindakan Mamak kepada Uda tempo hari, meskipun begitu Uda selalu mengatakan bahwa ia tak apa, nanti Mamak juga akan mengerti sendiri. Sebegitu tak inginnya Uda berprasangka buruk kepada Mamak yang telah memperlakukannya dengan amat buruk.
Uda memang selalu begitu, dadanya luas, pikirannya dingin, dunia terasa lapang jika hendak berbincang masalah hidup dengannya. Mungkin pengecualiannya hanyalah orang-orang seperti Mamak yang berkepala batu, congkak dan selalu membangga-banggakan tanggung jawabnya sebagai Mamak dalam kaum keluarga Amak. Namun, kali ini rasanya jiwa pemberontakku tersentuh, harimau yang mati-matian aku lena-lenakan agar tertidur lelap dalam diriku terbangun karena kata-katanya kepada Uda.
"Keponakan tidak tahu di untung" begitu pekiknya, mendapati Uda baru pulang dari kota.
Belum lepas lelah Uda setelah empat sampai lima jam perjalanan ke rumah Amak, ia sudah disemprot dengan kata-kata tak berperikemanusiaan semacam itu.
Aku langsung naik pitam, rasanya jika bukan Mamak inginku cerca habis mukanya dengan kata-kata sehingga tak kuasa lagi dia memalingkan wajah menaiki jenjang rumah Amak.
Siang itu satu jam sebelum Uda sampai di rumah, Mamak datang duduk di ruang tengah bersama Amak membicarakan masalah gadis anak kepala desa kampung sebelah yang katanya meminta Uda datang ke rumahnya. Tak jauh-jauh dari perkiraan, rupanya anak gadis pak kades itu sudah menaruh hati kepada Uda sejak duduk di SMA.
Kini Uda sudah bekerja di kota, menjadi salah satu staf pengajar di sana, enam bulan lagi juga akan menyelesaikan pendidikan doktornya. Memang beberapa bulan lagi usia Uda sudah mendekati kepala tiga. Tapi di zaman sekarang usia bukan lagi patokan kapan seseorang harus menikah atau tidak. Satu hal yang perlu dicamkan mungkin Mamak merasa bertanggung jawab dengan kemenakannya terutama kami setelah ayah tiada, tapi tanggung jawabnya tak serta merta membenarkannya harus besar kepala dan semena-mena kepada kami dan Uda.
Tiga tahun silam, Uni Lina anak Mak Uniang juga dinikahkan dengan laki-laki dari kampung sebelah pilihan Mamak. Baru kemarin laki-laki tak bertanggung jawab itu hengkang dari rumah Mak Uniang. Pasalnya dia adalah laki-laki pemalas, hobinya keluyuran tiap malam atau menunggu subuh di lapau Mak Etek di ujung jalan sambil terus mematik rokok, bak keturunan sultan yang hartanya takkan habis-habis hingga ia tak harus pusing memikirkan makan bini dan anaknya, kalau-kalau Uni Lina melahirkan anak dari laki-laki tak beradab itu.
Sementara Uni Lina adalah perempuan yang sangat patuh dan menghormati siapa saja. Saking patuhnya ia juga manut saja dijodohkan Mamak dengan laki-laki yang hari ini terpaksa telah menghadiahkan status baru pada dirinya, seorang janda. Melalui laki-laki jahanam itu, Mamak sudah menunjukkan pencapaian terbesarnya kepada keponakannya, telah ia hadiahkan sekeping neraka dalam rumah tangga anak kemenakannya. Lalu hari ini dia datang, menaiki tangga rumah Amak dan akan mengulangi hal yang sama pada Uda.
Pasalnya anak pak kades, yang bernama Monik itu adalah gadis yang suka keluyuran. Hampir setiap sore jika aku hendak ke kedai Mak Etek membelikan gula ataupun garam untuk Amak di ujung jalan sana, tak pernah sekalipun alfa melihat ia berbonceng dengan pria dan teman-teman gengnya, dengan pakaian yang tak patut dipakai seorang gadis di kampung ini.
Celana jeans ketat selutut ditambah sepotong baju kaos yang membentuk setiap lekuk tubuh dan tak sempurna menutupi punggungnya, ditambah lagi dengan rambutnya yang dibiarkan terurai dikibas-kibas angin di jalanan, sungguh sempurna untuk membuatnya terlihat seperti sebangsa nenek sihir atau mak lampir dengan menampakkan rambut acak-acakannya yang khas didukung pula make-up yang ditumpuk di wajahnya.
"Begitulah jika anak gadis terlalu dimanjakan, pergi ke negeri orang lupa dengan adat sopan santun tempat dia lahir. Pulang-pulang bukan membawa maslahat bagi nagari, malah mencontohkan hal yang tidak baik bagi anak nagari," begitu ceramah Mak Etek yang tiap sore telah bosan melihat kelakuan tak beradabv si Monik anak pak kades itu.
Aku hanya mengangguk-angguk saja mendengar ceramah Mak Etek, karena jika aku layani mungkin magrib aku baru bisa pamit untuk pulang ke rumah.
"Jadi bagaimana kata si Aris, Fatma?" tanya Mamak sambil menyeruput kopi yang disuguhkan Amak di meja.
Agaknya Mamak berharap betul Amak akan mendukung keputusannya menjodohkan Uda dengan anak pak kades itu, dia berharap Amak akan mengiyakan pertanyaannya.
"Anak Pak Johan, kepala desa kampung sebelah itu baru tiga bulan lalu wisuda S2 di kota, cocoklah dengan Aris, sama-sama berpendidikan," celotehnya kepada Amak.
Amak masih diam, agaknya beliau tak mau mengecewakan Mamak dengan mengatakan bahwa Uda tak mau dijodohkan dengan si Monik yang lebih mirip nenek lampir itu dibandingkan anak gadis berpendidikan.
"Tanah dekat masjid di kampung sebelah sampai depan kedai nasinya Pak Amir itu miliknya Pak Johan. Si Aris tak perlu risau memikirkan bagaimana ia akan membiayai Monik jika gajinya tak cukup sementara dia juga harus membantu biaya pendidikannya si Depa."
Si Depa yang disebutnya itu adalah aku, tapi namaku bukan Depa, hanya Mamak yang memanggilku demikian. Namaku Adeeva. Orang-orang lebih senang memanggilku Adef, sementara Uda lebih suka memanggilku Sheen, itu ada di nama tengahku. Adeeva Afsheen Myesha. Uda bilang Afsheen itu memiliki arti bersinar seperti bintang. Katanya setelah kepergian ayah dan rutinitas Uda antara tetap melanjutkan pendidikan sekaligus bekerja di kota, maka akulah yang bertanggung jawab menjaga cahaya di wajah Amak agar tak redup, agar tak membiarkan beliau merasa kehilangan siapa-siapa.
"Menurut Fatma, biarlah Aris mencari pasangan yang cocok untuknya Uda, yang sesuai dengannya. Tidaklah kita yang tua juga ikut campur masalah ini. Jaman mereka dengan jaman kita sudah berbeda. Tugas kita hanya menuntun mereka menemukannya dengan jalan yang benar menurut agama dan patut menurut adat," dengan nada suara yang lemah dan berat hati disampaikan juga oleh Amak keberatan Uda dan tentunya keberatan kami sekeluarga jika Uda hendak dijodohkannya dengan anak pak kades yang katanya berpendidikan itu.
"Sudah nyata tampak di depan mata saya Fatma, jika anak kemenakan tidak lagi menghargai keputusan Mamaknya, sudah seperti orang hebat yang tidak lagi butuh nasehat, tidak lagi butuh diarahkan," Mamak menaikkan nada suaranya, wajahnya merah padam seperti menahan malu ditelanjangi orang sekampung.
Mendengar nada suaranya yang semakin meninggi di hadapan Amak, rasanya ingin sekali aku membasuh habis muka Mamakku itu dengan kata-kata. Agar matanya bisa melihat dengan jelas kehendaknya tak selalu benar untuk dituruti. Agar matanya bisa melihat dengan benar bahwa si Monik yang dikatakannya berpendidikan itu tidak lain hanyalah jelmaan dari mak lampir modern yang suka gentayangan di jalanan.
Jika tak ingat kata-kata Amak dua tahun lalu semasa aku berkasam dengan Mamak, masalah pendidikanku.
"Anak perempuan tak perlu sekolah tinggi-tinggi, nanti kalau sudah bersuami juga hanya akan di rumah mengurus anak dan sia-sialah uang yang dihabiskan untuk sekolah itu," begitulah konsep yang dikedepankan Mamak kepadaku kala itu.
Aku yang sudah setengah dirasuki setan ketika itu menjawab "Tak tahukah Mamak yang bertuah ini dengan peribahasa yang mengatakan: jika kau mendidik seorang pria maka seorang pria akan terdidik, jika kau mendidik seorang wanita maka sebuah generasi akan terdidik," aku yang setengah kerasukan amarah tak lagi melihat Mamak itu sebesar adanya jasad dia, saat itu dia sudah terlihat seperti anak kecil yang tak berhenti mencerca sementara dia tak tahu yang terjadi.
"Jika Mamak memandang pendidikan seorang anak perempuan itu tidak penting, maka generasi seperti apakah yang lahir dari wanita semacam itu, mungkin Mamak adalah contoh produk gagal yang dilahirkan wanita semacam itu, atau mungkin Mamak perlu melihat lebih jauh lagi, agar Mamak sadar bahwa konsep yang Mamak paksakan kepadaku hari ini, sudah ditinggalkan orang ratusan tahun yang lalu?" aku memang sudah tidak memikirkan apa-apa lagi ketika itu.
Sejak saat itu Amak menasihatiku untuk pandai-pandai menahan diri, kata Amak meskipun yang kita sampaikan itu benar, tapi tak benar caranya jika disampaikan ketika marah dan menghinakan martabat orang lain, terlebih orang tua seperti Mamak.
"Uda, anak-anak Fatma sudah besar. Terutama Aris, dia sudah bisa dibilang laki-laki dewasa, sudah bisa menimbang, mana yang baik untuknya mana yang tidak. Pula anak gadis yang Uda tawarkan untuk dijodohkan dengan si Aris itu tindak lakunya, tidak tampak sebaik pendidikannya. Engganlah Fatma bila harus melihat pemandangan keluarga anak Uni terulang juga di dalam rumah tangga anak Fatma kelak, Uda." Amak tampak sabar memintal emosinya, ia sampaikan juga maksud baik Uda dan kami sekeluarga menolak anak pak kades itu untuk dijadikan istri Uda.
"Lina yang kau maksud? Dia saja tak pandai bersuamikan orang berada, tak pandai mengelola harta suami. Patutlah suaminya berlaku demikian," celoteh Mamak tak ingin dipersalahkan karena dirinyalah yang telah memilihkan suami untuk uni Lina.
Patut katanya? Jangankan sebagai seorang suami, sebagai seorang laki-laki saja, jika ia beradab, bermartabat tak patutlah ia menyentilkan ujung jarinya pada anak perempuan, orang yang telah bersabung nyawa dibesarkan oleh mak dan bapaknya, apalagi sampai mengangkat dan melayangkan tangan padanya. Itu yang disebutnya patut? Entah katarak macam apa yang menghinggapi mata Mamak sehingga tak mampu melihat penderitaan keponakannya tersebab suami pilihannya.
Selesai berkata demikian, dikantunginya lagi kotak rokok di saku jaket kulitnya, lalu beranjak meninggalkan Amak di ruang tengah, sampai di pintu ia mendapati Uda.
"Assalamualaikum, Mamak. Bagaimana kabar Mamak?" sapa Uda dengan sopan santunya seraya menjulurkan tangan hendak menyalami Mamak yang bermuka masam itu.
"Keponakan tak tahu di untung," pekiknya ke Uda, sambil membuang muka bergegas menuruni tangga rumah. Jangankan menjawab tangan Uda yang hendak bersalaman dengannya, membalas salam Uda saja tidak dilakukannya. Mamak macam apalah yang seperti itu. Berharap seorang Mamak dapat digugu dan ditiru keponakannya. Berharap jadi pelita di dalam gelap, penunjuk jalan di kala tersesat, nampaknya Mamak kami bukanlah orang yang tepat untuk didatangi jika tak ingin tambah tersesat.
"Nak," terdengar suara Amak dari balik daun pintu kamarku.
"Pintunya tidak dikunci, Mak. Masuk saja," seruku.
Bidadariku muncul dari balik daun pintu itu dengan wajah yang teduh, sinar matanya meluluhkan hatiku yang sejak tadi bergumul dengan cacian-cacian tak berujung pada Mamak.
"Adef kenapa, Nak? Masih kesal dengan tindakkan Mamak pada Udamu tempo hari?" tanya beliau dengan lembut.
Aku tak sampai hati mengabaikan Amak, "Rasanya jika tak akan dikatai orang anak tak tahu sopan santun, aku tidak mau lagi memanggil Mamak itu dengan sebutan mamak, dia tidak pantas dipanggil begitu," ucapku masih setengah kesal.
"Sudahlah, Amak paham bagaimana posisi Mamakmu. Mungkin dia merasa bertanggung jawab masalah kamu dan Aris," ucap Amak sambil mengela nafas.
"Tidakkah Mamak itu belajar dari kejadian yang menimpa Uni Lina, Mak? Akibat dijodohkan dengan orang yang tidak ditelisik dulu dari dasarnya, mentang-mentang terlihat sedikit berada lalu dia menyerakkan hidup keponakannya kepada orang asing tanpa pertimbangan, harta tak menjamin orang bisa hidup dengan baik dan bahagia, kapankah konsep kuno Mamak yang tak mau mengambil pelajaran dari kejadian itu berubah?" gerutuku.
Amak mengusap kepalaku dengan lembut, agaknya ia tahu betul yang membuat kekesalanku tak berujung pada Mamak, "Jika Mamak belum mau mengambil pelajaran dari kejadian seperti itu, kitalah yang harus mencontohkannya lebih dulu. Nak, pergi ke negeri orang menuntut ilmu, apa lagi bagi seorang perempuan bukanlah ajang untuk membebaskan diri, lalu membawa pengaruh buruk itu pulang ke kampung halaman. Perempuan Minang punya prinsip sehingga selalu teguh pendirian; jika singgah di kali tidak meniru, menetap di laut tidak asin," paparnya.
Tak perlulah ditanya lagi apa maksud Amak berkata demikian, jelaslah ia ingin menyampaikan jika seorang perempuan Minang mendapati lingkungan yang tidak baik, ia tak akan mudah meniru lingkungan yang tak baik tersebut. Jika ia mendapati lingkungannya penuh dengan kemajuan ia takkan melupakan budayanya dengan mudah tanpa pertimbangan baik dan buruknya sesuatu.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!