Cerpen

Kami Juga Korban

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Jumat, 29 Mei 2020 20:08 WIB • 👁 1.638 Pembaca
Kami Juga Korban
Grafis oleh Mitha Melanie Putri

Ingin rasanya aku mengutuk dunia. Mengeluarkan sumpah serapah yang tertahan tanpa mampu terucap. Inginku beristirahat dengan tenang, sejenak tepekur merindukan kedamaian. Dua minggu sudah hidupku berantakan. Kota yang dulu berwarna kini hampa, hanya cerita yang tersisa. Tak ada lagi riuh tawa, apalagi kendaraan berlalu lalang memadati jalanan ibukota ditemani mentari senja. Aku Salma, seorang warga negara Indonesia yang mengadu nasib di perantauan, Wuhan. Dua tahun lima bulan sudah tepatnya aku mulai mengais rezeki di tanah orang ini, membawa serta dua anak yang mulai beranjak remaja. Aku seorang single parent sejak lima tahun lalu, tepat saat anak bungsuku berulang tahun pertama.

Kursi goyang yang memikul tubuhku kembali berayun. Hela nafasku terasa berat, gemeretuk gigi terdengar tajam. "Astagfirullahalazim," ujarku mengurut dada dengan tangan kanan. Lunglai terasa tangan kiri tempat ponsel pintar ini bersemayam. Kedua anakku menoleh bersamaan, kedipan polos si bungsu membuat semangatku kian bertambah rasanya.

"Jangan ditonton lagi, Bu" ujar Sheren, anak sulungku seraya lembut menarik ponsel ditanganku.

Semenjak virus ini menyebar, aku tak pernah absen membaca berita. Apalagi media sosial yang dengan gencarnya meng-update jumlah korban terbaru. Bahkan tak jarang aku juga membaca komentar netizen yang membombardir jagat maya. Mereka hanya menyalahkan warga Wuhan, mengatakan bahwa adanya virus ini karna perbuatan kami. Dengan kasarnya mereka tega menuliskan bahwa hal ini pantas kami terima, apa mereka Tuhan yang menentukan?

"Tak apa Nak, barangkali terdapat berita sudah ada vaksin yang ditemukan," balasku menghibur diri sembari mengusap lembut kepala Sheren dan Syena anak bungsuku.

"Jangan bersedih lagi Bu, kita pasti akan pulang dengan selamat," lanjutnya kini menggenggam tanganku. Masa kanak-kanak ku dulu begitu tenteram, walau hidup serba kekurangan. Namun masa kecil yang anak ku lalui kini, lebih menakutkan dari bayang kemiskinan dahulu. Sebaran virus ini menyebabkan mereka tak bisa bermain bebas mengenal alam lepas.

Perlahan aku mengajak keduanya ke kamar, berupaya menidurkan mereka karena gelap telah menyelimuti langit di angkasa. Sembari membacakan kisah inspirasi pengantar tidur, pikiranku kembali berkelana. Kutukan yang mereka berikan pada masyarakat Wuhan karena mengonsumsi makanan yang diharamkan. Padahal makanan ini telah lama menjadi kuliner popular, sebelum adanya virus yang diduga disebabkan karena hewan yang dilarang ini tak ada satu pun yang menegur. Namun tidakkah mereka berpikir, bagaimana dengan aku, serta muslim lainnya yang tinggal di kota ini. Kami tidak pernah mengonsumsi makanan yang jelas telah dilarang tersebut. Apakah kami pun pantas turut menerima caci dan maki tersebut?

"Ya Allah," pedih rasanya hingga bulir air mata ini mulai menyerbu hendak keluar. Semakin larut dalam renungan, aku berpikir apakah tak bisa mereka menilai dari sisi kami. Kami juga korban di tanah asing ini, berniat untuk pulang ke kampung halaman. Tak bisakah mereka hanya menilai kami sebagai saudara yang terkena musibah dan butuh pertolongan?

Sejak virus Corona menyebar, kota ini bak kuburan, kota zombi kata orang di luar sana. Logistik di tiap rumah kian menipis. Semua orang dilanda kecemasan dan harapan yang tak kunjung terwujud. Ketakutan menjadi bayang-bayang untuk saling berinteraksi. Semua orang saling mencurigai, mengira virus mematikan itu telah bersarang di tubuh kawan bicara.

Jangankan bertegur sapa di satu lingkungan apartemen, dalam ikatan berlabel keluarga sudah tak saling bicara. Semua mencemaskan kondisi masing-masing, padahal di depan mata tak jarang keluarganya tengah berjuang mempertahankan kewarasan di antara virus.

***

Sepuluh hari kemudian, kudapat sepucuk kabar bahagia. Pemerintah Indonesia memfasilitasi warganya untuk dievakuasi pulang. Kedua anakkupun menyambut dengan sumringah.

Setelah proses yang cukup panjang, kepulangan kami dijadwalkan tujuh hari lagi. Masih dengan raut bahagia semua telah kami persiapkan untuk pulang. Namun nahas, lima hari sebelum keberangkatan anakku Sheren terserang flu dan didiagnosa terjangkit virus Corona.

Demamnya tak kunjung reda, hingga kesulitan bernapas. Dua malam lamanya aku berdoa, tak kenal letih berteman air mata. Nyawa anakku tak tertolong, hingga dikebumikan seadanya. Perasaanku campur aduk, tak ingin berpisah dengan nisannya. Di lain sisi ada Syena yang aku khawatirkan semoga tak ikut terjangkit. Dengan berat hati membawa perasaan yang telah hancur, rasa kehilangan yang belum lunas kami pulang ke Indonesia.

Sebelum pesawat mengudara kupandangi Kota Wuhan, meski sebenarnya aku membayangkan raut wajah Sheren. Ia akan selalu hidup di kota ini tanpa ada yang mengunjungi. Tak mungkin rasanyaku tinggalkan ia di negeri asing tanpa pernah mengunjungi. Sekarang ia telah pulang, seperti katanya dulu. Kini ia bisa bermain dengan bebas tanpa rasa khawatir di sisi yang kuasa. "Sampai jumpa lagi sayang" lirihku terbawa angin.

***

Sesampainya di Indonesia belum mampu menjawab rasa rindu akan kampung halaman. Begitu pesawat mendarat, kami dikarantina, bahkan dari yang ku dengar masyarakat sekitar menolak lokasi karantina tersebut. Aku paham hal itu karena mereka takut tertular, tapi apakah harus mereka menatap kami layaknya virus yang mesti dilenyapkan itu. Seminggu di karantina, anakku Syena selalu murung pun sering kali ia mengingau.

Satu kali di hari Sabtu dengan terang-terangan ia bertanya padaku. "Bu, kenapa kak Sheren tak ikut ke sini? Aku rindu bermain dengannya," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Tak sanggup berkata-kata, ku rengkuh tubuh kecilnya, lalu terisak berdua. Kini hanya kami berdua yang tersisa, dua malaikatku yang lain telah tenang dan berbahagia. Bukan maksudku tak bersyukur karena berhasil selamat, rasa kehilangan ini yang terlalu besar. Bahkan tanah kuburan anak ku masih basah, dan kami telah pindah. Kembali aku berangan, seandainya bantuan pemerintah datang lebih cepat, pasti anak ku tak akan jadi korban.

Sudahlah, alam sadarku mulai mencuat, kami yang tersisa harus kuat, walau dalam hati masih berkata, "kami juga korban" apakah semua ini belum cukup?

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Nilam Purnama Sari
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

2 + 1 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.