Kawa daunmerupakan minuman unik daridaun kopiyang diseduh seperti teh yang berasal dari Sumatra Barat.
Siang itu, Selasa (11/2) bermodalkan smartphone dan Google Maps, Ganto mengunjungi salah satu pedagang kopi kawa daun yang berada di Kota Padang, tapatnya di Lapangan DPR, Universitas Andalas.
Kawa daun adalah sebuah kopi yang terbuat dari daun kopi yang di sangrai di perapian. Untuk mendapatkan cita rasa yang khas kopi harus menggunakan pohon kopi yang telah berumur lebih dari 50 tahun ke atas. Pohon kopi ini bisa ditemukan di Tabek Patah, Tanah Datar, Sumatra Barat.
Sejarahnya kopi kawa daun masuk ke Sumatra Barat (Sumbar) sejak zaman Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang dipimpin oleh Van Den Bosch saat menjajah Indonesia. Sistem tanam paksa yang ada pada saat itu mengharuskan masyarakat Sumbar untuk menanam kopi. Namun, biji kopi hasil dari bertanam kopi tersebut hanya bisa dinikmati oleh pemerintahan Belanda saja. Oleh sebab itu, masyarakat mencoba mengolah daun kopi tersebut menjadi olahan minuman.
Untuk proses pengolahan kopi ini, daun kopi dipetik sekitar jam 10.00-12.00 dengan teknik tersendiri. Hal ini bertujuan agar memiliki cita rasa yang nikmat. Setelah dipetik, daun tersebut dibersihkan dan ditusuk dengan bambu seperti tusukan sate. Ini dilakukan agar memudahkan daun kopi saat dibolak balikan ketika berada di perapian. Selanjutnya kopi disangrai atau diasapi dengan tungku api kayu hingga berwarna hitam kecoklatan. Proses penyangraian memerlukan waktu sekitar 4-12 jam. Kemudian, daun kopi tadi dicabut dari tusukan bambu dan diletakkan di sebuah wadah. Proses selanjutnya adalah kopi tersebut direbus menggunakan air mendidih lalu disaring didalam sayak atau gelas batok kelapa.
Eksistensi Kopi kawa daun sudah mencapai kancah internasional. Bahkan kopi ini sempat mewakilkan Sumbar dalam pameran makanan dan minuman internasional, yaitu Allgemeina Nahrung Und Genussmittel Austellung di Cologne, Jerman pada 7-11 Oktober 2017 lalu. Acara tersebut merupakan pameran makanan dan minuman terbesar di Eropa.
Seiring berjalannya waktu, kini kopi kawa daun tidak hanya ditemukan dalam bentuk minuman tradisional yang disajikan dalam batok kelapa saja. Namun sudah ada dalam bentuk daun dengan beberapa varian rasa yang sudah dihaluskan menggunakan mesin atau minuman bubuk cepat saji.
Salah satunya kopi kawa daun dari Brand Bonang Bersaudara yang dijual oleh Edward Zulichtiar (43). Edward yang kerap disapa Edo mengatakan bahwa ia sudah memulai usaha kopi kawa daun sejak tahun 2015 silam. Awalnya ia memasarkan produknya melalui media online dalam bentuk daun yang siap di seduh. Namun sejak 2019 lalu Edo berhasil merubahnya menjadi minuman bubuk dengan berbagai varian rasa. "Varian yang tersedia yaitu rasaKawa Daun Plus Sugar, Palm Sugar, Milk, Matcha Latte, Chocolate Matcha Latte, dan Chocolate Latte," ungkapnya, Selasa (11/2).
Meski dikemas dengan gaya modern, cita rasa khas dari kawa daun ini tetap terasa. Adapun harganya berkisar dari Rp4.000-Rp12.000 per cup dan tersedia dalam minuman panas maupun dingin. "Hadirkan manfaat kesehatan dalam kenikmatan minuman tempoe doeloe" begitulah bunyi jargon dari brand yang dikelola oleh Edo ini.
Edo menjelaskan, bahwa kopi kawa daun ini berbeda dari kopi kebanyakan yang berasal dari bijinya. "Bila biasanya kopi yang berasal dari biji mengandung kafein. Kopi kawa daun tidak mengandung kafein, dan cendrung lebih jernih dibanding kopi pada umumnya, lebih berbentuk seduhahan teh," Jelasnya.
Tidak hanya itu, kawa daun juga mengandung anti oksidan yang tinggi. Karena tidak memgandung kafein, kawa daun ini cocok di konsumsi oleh orang yang menderita penyakit mag dan asam lambung.
Kini, kawa daun bisa ditemukan di berbagai daaerah di Sumatra Barat ini. Bermodalkan smartphone dan google maps, penikmat kopi kawa daun dapat menjumpai kopi ini di warung-warung terdekat.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!