Bersama merdunya hujan tengah malam yang dingin, aku tersentak dari tidurku. Entah mimpi apa aku tadi, sepertinya aku menjadi seorang nahkoda. Ah ada-ada saja mimpiku ini.
Kulihat jam dinding di kamarku masih dini hari, mataku ingin tidur, hatiku bergumam, pikiranku kalut memikirkan apa arti mimpi tadi. Apakah mimpi itu jadi nyata? Apakah benar aku jadi nahkoda? Lucu juga rasanya kalau mimpi itu nyata, sembari memikirkan, aku kembali terlelap.
Pagi hari, Onan dengan sepeda bututnya sudah sampai di depan pintu rumahku. Ia selalu menjemputku pergi ke sekolah, katanya dia tidak mau pergi sendirian. Ya sudah aku tawarkan ia jemput aku tiap pagi, dan dia mau saja, dasar bodoh sahabatku. Aku bukakan pintu dengan pikiranku yang masih mengakar pada mimpi tadi malam. Spontan saja Onan bertanya, "Kau kenapa Sidan? Aku lihat kau seperti sedang memikirkan sesuatu."
Tidak, aku cuma bingung saja, apakah tadi malam itu mimpi atau kenyataan. "Ah sudahlah lupakan saja, mari kita berangkat."
Tapi aku yakin mimpi itu semu.
Sesampai disekolah aku dan Onan berjalan menuju lorong kelas yang sudah mulai sepi, aku yakin hari ini kami berdua terlambat lagi dan benar saja, guruku sudah juga sudah paham, dua anak ingusan bau keringat pasti selalu terlambat, itu yang dalam pikirnya. Wajar saja terlambat, kami harus mengayuh sepeda dulu sejauh itu, berbeda dengan murid yang lain, duduk manis diantar jemput kuda besi mewah. Dasar nasib aku dan Onan, ya sudah aku masa bodo saja, karena menurutku lebih baik telat daripada tidak sama sekali.
Siang hari yang panas itu, bel pulang sudah berdering ditelinga, sebelum pulang biasanya kami bermain dulu di ladang. Ladang di sini sangat luas, di sepanjang perjalanan kami melihat petani dengan baju yang lusuh memikul cangkul di pundaknya. Kulihat sawah dan ladang mereka luas, tapi mengapa mereka masih belum kaya? Siapa yang salah? Prihatin sekali aku melihat hasil kerja keras mereka.
"Apa kau bercita-cita jadi petani juga Onan?" tanyaku.
"Boleh saja, kalau itu takdir kawan. Memang apa salahnya menjadi petani? Bukannya negeri ini makan karena petani? Bukannya petani itu pekerjaan yang mulia? Lantas kenapa petani dianggap rendah dan kuno? Dasar tak tahu terima kasihnya mereka pada petani."
Angin sepoi-sepoi, lambaian padi, hamparan sawah, ladang yang manja, dan pohon yang tak tahu malu itu selalu menjadi tempat kami untuk bercerita. Tak tahu kenapa, nyaman saja rasanya bercerita di sini. Semua terasa begitu damai dan tenang.
"Sidan, aku liat akhir-akhir ini negeri kita sudah mulai sinting ya?" tiba-tiba saja Onan bertanya, mengacaukan lamunanku tentang Kinanti artis tercantik di kecamatan.
Padahal aku baru saja membayangkan indahnya kalau aku kenal dan hidup bersamanya. Liar juga lamunanku. Dasar aku bocah ingusan sudah berani berkhayal sejauh itu.
"Iya gila seperti kau" aku jawab saja dengan cemooh.
"Kau ini, aku serius Sidan, apakah kau tak merasa semuanya sudah beda. Liat saja anak-anak muda di tempat kita, mereka sudah lupa dari mana mereka berasal, mereka sudah tidak kenal lagi dengan budaya mereka. Kasihan betul aku melihat mereka yang bergaya kebarat-baratan itu, sok modis sekali mereka, kalau berbicara sudah seperti bule masuk desa. Aneh rasanya. Mereka lebih bangga bernyanyi Thinking Out Loud daripada Bagimu Negeri."
Mereka lebih suka berdansa daripada bermain randai. Mereka lebih suka bermain drum daripada gendang. Padahal gendang itu alat musik kita, tak kalah hebat dari drum, gendang juga punya suara yang mengagumkan. Semua hanya tergantung siapa yang memainkannya. Begitu juga dengan Negeri kita yang tak kalah hebat dari negeri barat itu, semua tergantung siapa yang mengendalikan dan menjalankannya. Kenapa mereka terobsesi sekali dengan daerah barat itu?
"Sepertinya kebanyakan sinting anak muda zaman sekarang, iba sekali aku melihat nasib kita kalau terus dibiarkan Sidan."
Iya ya, kenapa aku baru terpikirkan. Tumben juga bocah dekil ingusan bau keringat ini berpikir sejauh itu. Ternyata sahabatku ini pintar juga. Memang aneh rasanya hidup di tanah sendiri dijajah budaya lain. Katanya sudah merdeka, tapi masih dijajah. Apakah kemerdekaan itu hanya mitos?.
Memangnya apa sih kelebihan si Barat itu? Apa mereka lebih banyak uang atau lebih pintar? Lantas apakah daerahku ini kurang kaya, kurang hebat, kurang modern, atau terlalu kuno? Aku rasa budayaku lebih kaya dari punya si Barat itu. Kalau tidak kaya mengapa mereka mau mencuri dan menjajah. Kenapa saudara-saudaraku itu lebih mengagungkan barat? Apakah mereka menganggap budayaku kuno? Kalau betul seperti itu, bajingan sekali mereka. Berani sekali mereka berpikiran seperti itu, apa mereka benar lupa dari mana mereka berasal, apa benar yang dikatakan Onan itu?
Aduh apa ini, pikiran ku seperti bergejolak, hatiku berkecamuk tidak terima. Jikalau seperti ini terus mau di kemanakan rumah, budaya, dan negeriku ini? Bukankah anak muda yang akan memimpin negeri ini kelak? Tapi kenapa anak muda lupa dengan rumahnya. Astagfirullah, aku hanya bisa mengucap. "Aku harap kita tetap waras di negeri yang mulai gila."
Pohon jagung di ladang sebelah sepertinya menyapa melambaikan tangan untuk dipetik, kebetulan sekali perutku mulai keroncongan. Berkompromi dengan perut memang suatu hal yang menyulitkan.
"Kau lapar ya Sidan?"
"Iya kawan sepertinya perutku minta diberi obat penenang, he he."
"Ah. banyak kali tingkah kau Sidan, ya sudah biar aku ambilkan jagung itu."
"Apa kau tidak izin dulu sama yang punya?"
"Sudah, tidak mengapa ini punya bapakku Sidan!"
Aku yakin itu bukan punya bapaknya. Tapi itulah hebatnya Onan si bocah bau keringat ini, semua orang dipanggil bapak. Dan semua dianggap bapaknya. Dasar.
Onan sahabatku memang terbaik, dia selalu peka terhadap situasi. Eh, tapi aku rasa tidak karena pengertian, mungkin karena perutnya juga kosong. Aku tidak mau berpikiran positif terus terhadap orang. Kata ibuku, "curigalah dengan orang yang sopan."
"Oiya Sidan, kau belum menceritakan mimpi apa kau semalam?"
"Aku mimpi jadi nahkoda kawan."
"Wah asyik sekali mimpi kau itu, kalau boleh tahu kau berlayar ke mana?"
Aku bermimpi menjadi seorang nahkoda, berlayar tak tahu arah entah ke mana, arahnya ada. Cuma aku yang kurang bisa membaca arahnya. Aneh juga rasanya aku menjadi nahkoda sebuah kapal tua di negeri mimpi. Aku merasa paling gagah saat itu, di agung-agungkan, dihormati, disegani, bahkan tidak ada yang berani mengibuli. Apa yang aku inginkan harus tercapai dan siapa yang berani membantahku, aku tenggelamkan saja mereka di lautan. Agar mereka hilang tanpa berita. Aneh bukan mimpiku.
"Kau tahu maksud kapal tua itu apa?". Onan berlagak seperti penafsir mimpi yang Jenius.
"Tidak." jawabku menggelengkan kepala.
Begini kawan, kapal tua di negeri mimpi itu, layaknya negeri kita saat ini. Negeri kita ini sudah tua tapi masih begitu-begitu saja, bahkan jauh dari kata merdeka. Bahkan semakin modernnya dunia, semakin tergerusnya negeri kita ini. Kita seperti dijajah di segala bidang, kita tidak dijajah dengan melecutkan senjata di medan perang lagi, tapi dijajah dengan otak, budaya, dan teknologi.
Miris jika melihat negeri kita ini, semua manusia berlomba-lomba untuk siapa lebih maju, tapi mereka lupa memanusiakan manusia lain. Mereka lupa dari mana berasal, mereka sudah lupa dengan budaya lokal mereka. Mereka mau saja saling menjatuhkan demi satu tujuan. Budaya mereka sudah berubah menjadi budaya bar-bar. Iba sekali rasanya hati ini. Sungguh kasihan sekali kita muda di usia negeri yang sudah tua.
"Mungkin ini juga peringatan dari Tuhan. Jikalau kau jadi nahkoda nanti, jangan seenak hatimu saja, jangan sesuka hatimu saja. Jangan jadi diktator di kapalmu. Kau harus tegas dan keras, kau harus dengar suara minor di pelosok kapalmu. Jangan mau digerus dunia, jangan biarkan budayamu nan elok diganti dengan budaya bar-bar. Jangan biarkan kapalmu ambyar begitu saja. Jangan berkompromi dengan maling yang masuk kapalmu."
"Wah kau bijak juga kawan".
"Ah tidak kawan, apalah daya kita hanya bocah ingusan bau keringat ini, suara minor kita mana pernah terdengarkan."
Sore tampaknya sudah mulai muncul, matahari kejujuran sudah mulai condong ke barat. Kurasa sudah terlalu panjang kita berbincang.
Ya sudah kawan, mari kita pulang.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!