Puisi

Alam Indonesiaku

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Selasa, 10 Desember 2019 14:48 WIB • 👁 1.397 Pembaca

Kalut kemalut dunia berbalut harap tak bersurut
Luka menganga kian merekah bak bunga belia
Teriak duka yang melagukan rintik air mata

Alam Indonesiaku
Mungkin bosan berkelana
Melihat hamba-hamba gila dunia
Melirik mereka-mereka yang ingkar tak terkira

Iming-iming janji sudah biasa tak terpenuhi
stelah dapat kursi mulai hilang ditelan bumi
Demokrasi hanya sebagai barang dagangan
setelah habis dijual lalu berlalu tak bermoral

Nilai-nilai budaya yang ditanam secara sadar
berakhir dengan serangan fajar
politik memang kurang ajar

Orang tak lagi peduli bui
bahkan tak peduli Tuhan sendiri
hidup ya hidup
korupsi tindakan lanjut

Mereka bilang
Semua bersaudara
nyatanya perbedaan SARA masih berkuasa
dicaci dimaki bahkan dihina
akhirnya menjilat lidah mengatakan tak bersalah
Solidaritas tak berkelas

Alam Indonesiaku
Lelah termakan usia
Menampung segala rasa yang berbaur
Hingga akhirnya mengamuk dan hancur

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Shyntia Aprizani
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

7 + 6 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.