Cerpen

Bapak

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Senin, 25 November 2019 15:29 WIB • 👁 3.539 Pembaca
Bapak
Ilustrasi Cerpen "Bapak" oleh Mitha Melanie Putri

"Aku ingin bertemu bapak!" Ucapku sambil berlari menaiki beberapa anak tangga menuju rumah, aku dan ibu duduk berdua saja, bersila di atas dipan yang dibangun bapak sebagai tempat istirahat setelah seharian bekerja di ladang. Ibu hanya tersenyum, tapi kerutan di dahinya menandakan ada sesuatu yang menyesak di dadanya, sesuatu yang ia sudah tahan beberapa tahun lalu.

Aku meringkuk di balik selimut, tidak berjumpa dengan bapak beberapa tahun membuatku sedih, aku rindu ketika ia pulang dari ladang, meletakkan cangkul ke bawah dipan lalu memanggil namaku sembari mengangsurkan seikat ubi untuk direbus, aku senang bukan main kala itu. Senyum mengembang di bibirku, lalu berlari ke dalam rumah, menyerahkannya pada ibu untuk dimasak. Kami tidak kaya, tapi kemiskinan tidak membuat kami harus melulu terikat dengan kesedihan. Kami cukup bahagia.

Tiga tahun tepatnya, ketika ibu mengatakan bahwa bapak pergi bekerja untuk waktu yang lama. "Ibu tidak tau kapan bapak akan pulang, tapi kita tunggu saja. Bapak akan membawa uang yang banyak agar kau bisa membeli baju yang bagus," kata ibu saat ia memasak nasi di dapur, senyumnya tidak menandakan dia berbohong, tapi kerutan di dahi berkata lain, bahwa ada sesuatu yang membuatnya harus benar-benar menahan. Aku seorang anak berusia tujuh tahun kala itu tak mengerti bahwa dunia akan benar sekejam ini.

Suara langkah ibu terdengar berdenyit di atas lantai papan kayu yang sudah tua, dia berjalan pelan untuk menghindari lantai yang sudah bolong agar tidak bertambah besar. Kemudian suara tirai disibakkan juga terdengar dari sebalik selimut. Seseorang membelai kepalaku, aku merasa nyaman, aku tau itu ibu. dia seorang penyayang, tak pernah ia mengeluh atau marah. "Kau tenang saja, bapakmu akan pulang membawa uang yang banyak, bukankah kau ingin menjadi seorang insinyur? Bapakmu sedang berusaha keras mencari uang untuk biaya pendidikanmu, juga untuk membeli baju bagus," ibu berkata dengan halus, aku tidak membuka selimut sama sekali, tapi suara isak itu terdengar jelas. ibu menangis? Ah tidak, ibu hanya terkena flu, aku tau itu karna ibu sejak tadi bersin-bersin, pikirku dalam hati. Kemudian ia beranjak pergi, kata-katanya selalu membuatku tenang, walau kenyataannya ada banyak sekali kebohongan dalam kalimatnya, dan aku hanya anak kecil berumur sepuluh tahun, tidak mengerti bahwa dunia benar akan sekejam ini.

Aku bangun ketika jam dinding menunjuk pukul delapan lewat sepuluh menit, hari ini hari minggu, sekolah tentu saja libur dan aku bisa bangun lebih lama dari biasanya. Aku keluar dari kamar lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah, ibu tak ada disana, aku berjalan menuju dapur, ku lihat ember tempat kain kotor biasa diletakkan sudah kosong, ibu pergi kesungai, pikirku. Lalu aku berjalan menuju meja makan, sudah tersedia nasi dengan lauk seadanya, Aku tau ibu bekerja amat keras, makanan seperti ini sudah teramat biasa tersedia di meja makan, dan ini adalah makanan terlezat menurutku. Aku tidak akan mengeluh hanya karna lauk pauk yang sederhana. Lalu kuhabiskan dua piring nasi, makanan ini sangat enak, bahkan lebih enak dari makanan yang biasa dibawa ayah temanku ketika ia pulang dari luar kota.

Suara pintu depan dibuka membuatku sedikit tersentak, ibu sudah pulang dengan ember berisi baju basah di kepalanya. Aku langsung berlari, menolong ibu menurunkan ember lalu meletakkannya ke atas dipan. Entah mengapa ibu bisa sekuat ini, ia sudah tua tapi masih sanggup mengangkat beban seberat ini. "Kau sudah makan?," ucapnya sembari merapikan rambut yang kusut karena basah. "Sudah," ucapku singkat. Ibu naik kerumah untuk mengganti pakaian. Lalu kembali dengan sapu di tangannya. Sedikit bersih-bersih, menyapu lantai dan halaman, aku tau ibu bekerja sangat keras, tapi aku hanya anak berusia sepuluh tahun, tidak mengerti bahwa dunia benar akan sekejam ini.

***

September, 2001.

Aku berulang tahun yang keempat belas, aku tak berharap ibu memberiku hadiah, tapi ibu adalah wanita yang sangat baik, dia bahkan merelakan uang yang sudah disimpan beberapa bulan untuk membelikanku kado terbaik, tahun ini ia membelikan sebuah baju kemeja baru, aku senang bukan main, tapi seperti biasa, setiap hari ulang tahun seperti ini aku selalu ingat bapak, aku masih ingat ketika berusia enam tahun, saat itu bapak tidak pulang seharian dari ladang, katanya akan panen, dia tidak ingin hasil kerja kerasnya selama beberapa bulan digondol orang. Padahal hari itu adalah hari ulang tahunku. Aku sedih, hari ulang tahun tidak bersama bapak, Dan lagi ibu selalu menenangkanku, katanya bapak bekerja untuk membelikanku kado yang bagus, makanya dia bekerja keras. Aku senang bisa lahir di keluarga ini, kami tidak kaya, tapi sangat bahagia.

Keesokan harinya ketika bapak akhirnya pulang membawa hasil panen, aku senang. ibu juga ku rasa, terlihat dari senyumnya yang lebar, kami menunggu bapak diluar saat itu, duduk bersila di atas dipan sambil bercerita bagaimana bapak dan ibu berusaha keras bertahan walau jatuh jauh terpuruk. "Hidup itu keras kalau kita berfikir ia keras," ucap ibu sembari membuka kulit pisang yang tadi pagi direbusnya. "Maksudnya bu?," balasku sambil mencomot pisang yang sudah dibuka. "Maksudnya, sekeras apapun hidup, seberat apapun masalah jangan pernah berfikir bahwa tak ada jalan untuk menyelesaikannya. Tuhan tidak memberi cobaan melewati batas kemampuan hamba-Nya," ucap ibu lagi. Aku mengerti sekarang, bahwa hidup harus dijalani dengan ikhlas, tidak mengeluh.

Bapak pulang membawa hasil panen yang sudah berupa lembar uang, hasil panen dijual ke pengepul. Bapak pulang dengan senang, katanya panen kali ini lumayan banyak, tidak sia-sia dia bekerja keras. Lalu diserahkan semua hasil panen pada ibu, "sudah dipotong buat bayar kopi sama rokok," ucapnya. Diletakkan cangkul ke bawah dipan lalu bapak berjalan menaiki anak tangga masuk kerumah.

Aku dan bapak duduk berdua di luar, di atas dipan bambu dengan segelas kopi yang dibuat ibu untuk bapak, ibu sepertinya sudah tidur, tidak terdengar suaranya. "Kamu sekarang ulang tahun kan Di?" Tanya bapak. Aku mengangguk, berharap bapak memberi kado seperti yang dikatakan ibu. "Maaf bapak tak bisa membelikanmu kado," ucap bapak sambil menyeruput kopinya yang sudah dirasa agak dingin. Aku sedikit berkerut, bagaimana tidak? aku sudah berharap bapak membeli kado mobil mainan dengan remot sebagai pengendalinya. Tetangga sebelah rumah sudah punya, aku tidak harus memiliki yang besar seperti punya Kahfi anak tetangga sebelah. Yang kecil tak apa asal memiliki remot. "Kau tau kenapa?," sambungnya. Aku hanya diam, sedikit mengangkat bahu tanpa mengalihkan pandangan dari kerlip gemintang di atas sana. "Begini Rudi, ulang tahun bukan hanya tentang kau harus menerima hadiah atau sebuah perayaan besar, tapi juga adalah tentang bagaimana kau bersyukur bahwa tuhan telah memberimu kesempatan hidup sampai saat ini, untuk apa hidup jika hanya mengharapkan hadiah saat kau ulang tahun? Kau harus benar-benar bersyukur bisa terpilih sebagai yang beruntung untuk hadir di dunia ini, menemani ibu dan bapak," kembali diseruput kopi yang hampir habis separo. Aku mendengarkan seksama, benar kata bapak, untuk apa hidup jika hanya sekedar mengharapkan hadiah disaat hari ulang tahunmu. Ah! Aku senang punya bapak seperti bapak.

***

Mengingat kenangan masa lalu membuatku sedikit sedih, ada beberapa kenangan yang tak ingin aku hapus dari ingatan, dan ada beberapa kenangan yang memang harus dipaksa pergi. Perjalanan hidup membuatku sedikit mengerti bagaimana kerasnya dunia harus dilawan dengan ketabahan, menerima apapun yang terjadi dan mempertahankan apapun yang pantas dipertahankan. Bapak adalah salah satu dari sekian banyak hal yang patut dipertahankan, bukan sebagai kenangan tetapi sebagai hal yang harus terus diingat dan diyakini tetap ada.

Aku sudah lulus kuliah, bekerja sebagai seorang pengacara, walau tak sesuai cita-cita, aku senang akhirnya bisa membuat ibu bahagia, tidak harus jadi kuli cuci lagi, tidak perlu lelah mengangkat kain basah yang berat lagi. Tapi satu yang membuatku akhirnya mengerti mengapa dunia begitu kejam, bapak yang selama ini menjadi teladan ternyata tak sebaik yang aku fikir. Dia memilih pergi bersama wanita lain, seorang janda yang lumayan kaya. Dunia memang terkadang kejam, tapi yang terjadi ya terjadilah, bapak tetap menjadi bapak walau menyakitkan untuk akhirnya mengetahui sebuah kebenaran.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Irfan Nopanda
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

8 + 5 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.