Kuantitas dan kualitas kerjasama semestinya sebanding. Kendala yang muncul ibarat cambuk yang mampu wujudkan kualitas yang diharapkan.
Pada bulan ke delapan di tahun 2014 ini, empat orang dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah bertolak menuju Negara Kangguru. Kepergian para dosen tersebut ke Australia adalah dalam rangka memenuhi undangan dari UniversityAustraliaWorldy untuk melaksanakan program Indonesia Language Maintenance Program untuk guru-guru di Melbourne. Undangan yang telah dilayangkan semenjak 28 Mei 2014 lalu merupakan salah satu bentuk kerja sama yang tengah dijalani oleh Fakultas Bahasa Dan Seni (FBS) UNP dalam bidang Bahasa Indonesia Penutur Asing (BIPA) dengan DeakinUniversity, Australia.
Menurut Dekan FBS, Prof. Dr. M. Zaim, M. Hum., kerja sama yang dijalani dengan Deakin University ini sudah berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Dalam sistem pelaksanaannya, setiap tahun atau sekali dalam dua tahun, Deakin university akan mengirim mahasiswanya ke FBS UNP untuk mempelajari Bahasa Indonesia. Selain dengan Deakin University, kerja sama luar negeri yang tengah dijalani FBS adalah kerja sama dengan Universitas Pendidikan Sutan Idris (UPSI) Malaysia. Kerja sama dengan universitas dari Negeri Jiran ini telah dimulai semenjak tahun 2009, dengan bentuk pelaksanaan kerja samanya berupa pelaksanaan seminar dan pertukaran dosen. Untuk kategori seminar, Zaim mengatakan sudah dua kali direalisasikan yaitu pada tahun 2010 dan 2012. Sedangkan untuk pertukaran dosen berupa pengiriman tenaga pengajar ke UPSI. "Sembari kuliah, saat ini salah seorang dosen FBS sedang berada di UPSI untuk menjadi tenaga pengajar," ungkap Zaim, Jumat (22/8). Dalam bentuk pelaksanaan yang sama, FBS juga tengah mengadakan kerja sama dengan perguruan tinggi di Jerman. Untuk realisasi kerja sama, pada tahun ini akan diadakan seminar di FBS dengan asal pematerinya dari Universitas di Jerman, dan untuk kedepannya, acara seminar pun akan dilaksanakan di Jerman dengan asal pemateri dari FBS. "Jadi sistemnya saling mengunjungi," simpulnya.
Tidak hanya luar negeri, kerja sama dengan pihak dalam negeri juga digiatkan oleh FBS. Salah satu kerja samanya dalam bidang penyelanggaraan Tri Darma perguruan tinggi yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Dalam hal ini FBS UNP menjalin kerja sama dengan Fakultas Bahasa dan Seni selingkup IKIP, di dalamnya tergabung sebanyak 12 universitas, di antaranya universitas di Medan, Padang, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Malang, Makassar, Gorontalo, Manado, dan Bali. Dalam bidang pendidikan dan pengajaran dilakukan tukar-menukar dosen serta credit learning (kredit semester) untuk mahasiswa. Untuk pelaksanaanya, creditlearning memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk kuliah selama satu semester di salah satu universitas tersebut dan kredit semesternya diakui oleh UNP. "Namun sampai saat sekarang belum ada mahasiswa yang mengikuti program ini," ungkapnya
Ketika disinggung mengenai kendala yang tengah dihadapi dalam menjalani kerja sama, Zaim mengatakan kesulitan dalam memperoleh izin dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), sebab Kemendikbud sangat selektif dalam memberikan perizinan untuk menindaklajuti kerja sama keluar negeri. Selain itu, kendala lain yang ditemui berupa kecocokan waktu kunjungan antara kedua pihak yang menjalin kerja sama. "Kendala tersebut yang sering ditemui," ujarnya.
Tidak hanya di FBS, kendala kerja sama juga dirasakan oleh Fakultas Ekonomi (FE), salah satunya dalam bidang kerja sama dual degree. Menurut Dekan FE, Prof. Dr. Yunia Wardi, Drs., M.Si. kerja sama yang telah dijalin semenjak tahun 2007 dengan College Of Businees University Utara Malaysia pada tahun ini mengalami kendala dalam hal pengurusan visa ke Malaysia, sehingga menyebabkan keberangkatan mahasiswa dual degree ditunda sementara waktu namun bukan berarti mahasiswa tersebut batal untuk berangkat. "Mereka pasti berangkat," tegasnya, Jumat (22/8).
Lebih lanjut, Yunia juga mengatakan bahwa dari sekian banyak kerja sama yang telah dijalin oleh UNP baik dalam maupun luar negeri. Yunia mengaku ada sebagian kerja sama tersebut yang telah berjalan sesuai dengan harapan dan ada juga yang belum berjalan dengan semestinya. Salah satu contoh kerja sama yang telah berjalan sesuai harapan adalah kerja sama dalam bidang dualdegree. Yunia mengatakan hingga saat ini sebanyak 80 mahasiswa telah lulus dalam mengikuti program dual degree ini. Selain itu keberhasilan program ini juga dapat dilihat dari semakin ketatnya seleksi yang dilakukan dari tahun ke tahun. Untuk tahun sekarang, mahasiswa yang mendaftar kurang lebih 200 mahasiswa akan tetapi yang akan diluluskan untuk mengikuti program dual degree ini hanya 30 orang mahasiswa. "Karena program ini di handle khusus, mulai dari kelas khusus, dosen-dosen pilihan, dan lainnya" ungkapnya.
Untuk kerja sama yang belum berjalan dengan semestinya. Yunia mencontohkan kerja sama FE dengan Universitas Airlangga. Menurut Yunia, hal ini disebabkan oleh program kerja sama ini tidak memiliki daya tarik oleh mahasiswa FE. "Alasan secara pasti tidak jelas, namun kemungkinan karena alasan finansial," ujarnya.
Menilik fakultas lainnya, seperti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahun Alam (FMIPA). Ada beberapa kerja sama yang tengah dijalin oleh FMIPA baik dengan pihak dalam maupun luar negeri seperti dengan FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA), STAIN Batusangkar, STAIN Bukittinggi, STIKES Yayasan Pengembangan SDM Padang, Universiti Tun Husein Onn Malaysia, Ohio State University, USA, dan Deakin University Australia.
Menurut Dekan FMIPA, Prof. Dr. Lufri M. Si., kerja sama yang dilakukan bertujuan untuk meningkatan mutu pembelajaran, meningkatkan jumlah, dan mutu penelitian. Meningkatkan jumlah dan mutu pengabdian, meningkatkan income per kapita, dan pertukaran ilmu. "Jika itu semua tercapai, maka muaranya pada peningkatkan akreditasi universitas," ujarnya, Senin (25/8).
Lebih lanjut Lufri mengatakan, untuk kategori kerja sama dengan pihak luar negeri, ada beberapa kendala yang tengah oleh kampus biru. Di antaranya, banyak kerja sama FMIPA yang belum memiliki Memorandum of Understanding (MoU), kerja sama yang dilakukan masih belum sesuai dengan kebutuhan FMIPA, ketidakpastian dana, masalah prosedur perizinan oleh Kemendikbud. Pihak FMIPA harus mencari lembaga sendiri serta kemampuan dalam berbahasa asing yang masih kurang. "Kendala-kendala seperti ini yang harus diatasi," ungkapnya.
Bicara mengenai kendala dalam berbahasa asing (Inggris) juga dirasakan oleh Dekan Fakultas Teknik (FT) Prof. Drs. Ganefri, M.Pd., Ph.D. Menurut Ganefri, kendala berkomunikasi dan berbahasa asing menjadi salah satu kendala yang mencolok dalam menjalin kerja sama baik dalam maupun luar negeri. Untuk mengatasi hal tersebut, beberapa upaya telah dilakukan seperti penerimaan calon tenaga pengajar dengan syarat berkemampuan bahasa Inggris yang baik, serta memberikan pelatihan-pelatihan kepada para dosen di FT. "Karena Bahasa Inggris sangat diperlukan bagi siapapun yang terlibat dalam kerja sama," ujarnya, Rabu (20/8).
Laporan Kru SKK Ganto
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!