Taman Eden 100 ini berawal dari kegelisahan Marandus Sirait terhadap perusakan hutan yang banyak terjadi di kawasan sekitar Danau Toba pada 1999.
Hijau. Itulah warna yang diterjemahkan otak saat mata menangkap cahaya yang dipantulkan oleh deretan pepohonan yang tumbuh di Taman Eden 100. Tak kurang dari 100 jenis tanaman buah-buahan dan kayu-kayuan hidup di hutan seluas 40 hektar milik keluarga Sirait itu. Beragam tanaman khas Batak yang mulai langka seperti pohon sampinur bunga, hariara, jabi-jabi, tahul-tahul, dan andaliman pun hidup dengan subur. Pohon ara dari Jerusalem dan butter nut dari Amazon yang tumbuh dengan rimbun semakin menambah kekayaan jenis flora di sana.
Tak hanya kaya akan flora, di lokasi Taman Eden 100 yang berada di Desa Lumban Rang Sionggang Utara, Kecamatan Lumbar Julu, Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara ini juga terdapat air terjun, bukit manja, gua kelelawar, lokasi hewan buas seperti harimau dan babi serta lintas alam menuju Gunung Pangulubao. Selain itu, juga terdapat area konservasi anggrek toba, satu-satunya taman konservasi anggrek hutan di Sumatera Utara.
Taman Eden 100 ini berawal dari kegelisahan Marandus Sirait terhadap perusakan hutan yang banyak terjadi di kawasan sekitar Danau Toba pada 1999. Marandus memahami pesan Tuhan dalam kitab suci agamanya -Kristen- dan kitab suci agama lain yang juga dikajinya bahwa manusia harus menjaga alam.
Oleh karena itu, bermodalkan dana hasil pertunjukan musik yang dilakukan, ia bertekad melakukan pelindungan hutan dan melestarikan alam. Menetap di hutan sedirian selama lima tahun, ia mengolah tanah tandus menjadi tanah yang subur sehingga makhluk hidup dapat hidup dengan damai. "Saya ingin manusia, tanaman, dan binatang dapat hidup rukun di sini," tuturnya.
Walaupun ia harus meninggalkan anak dan istrinya yang menetap di daerah Karo, Marandus memiliki prinsip tersendiri dengan keberadaannya di Taman Eden 100. "Jika saya menanam buah, tidak hanya manusia saja namun tupai, tikus, dan kelelawar juga bisa menikmatinya," ungkapnya.
Namun untuk merealisasikan keinginannya itu tidaklah mudah. Marandus harus menghadapi cemoohan dari masyarakat dan keluarganya. Tidak hanya itu, pembangunan hutan yang diidamkannya itu harus terhenti beberapa lama akibat sakit tifus yang dideritanya.
Berkat kegigihan dan ketekunannya Marandus kembali mengolah hutan yang telah lama ditinggalkan karena sakit. Ia berencana menjadikan hutan tersebut menjadi agro wisata rohani yang mana di dalamnya terdapat wisata alam, museum tanam-tanaman, daerah penelitian dan tempat liburan. Untuk mengelola Taman Eden 100, ia dibantu 6 karyawan yang bekerja dengan sukarela.
Kerja keras dan dedikasi Marandus akhirnya menuai berbagai penghargaan. Beberapa di antaranya adalah penghargaan Kalpataru bidang Perintis Lingkungan tahun 2005 dan Wahana Lestari Tahun 2010. Semenjak tahun 2013 bantuan dari pemerintah dan swasta mulai mengalir untuk mengembangkan ide yang dicanangkannya. Minat pengunjung pun semakin bertambah, baik untuk wisata alam, maupun sebagai tempat penelitian. "Tiap bulannya pengunjung mencapai 1.000 orang," tutup Marandus.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!