"Sapi-sapi di sini telah terbiasa makan sampah."
Ratusan ekor sapi tampak asyik mencari makanan di balik onggokan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Air Dingin Padang, Rabu (11/6). Sapi-sapi itu merobek plastik-plastik yang masih membungkus berbagai jenis sampah. Setelah plastik pembungkus itu hancur, keluarlah sampah olahan rumah tangga dan sampah pasar, sampah organik dan anorganik.
Sapi-sapi pun mulai menyantap sampah-sampah yang ada di sekitarnya. Di antara sapi-sapi yang tengah mencari makan, juga terlihat mesin penggiling sampah berlalu lalang. Bahkan sesekali seperti hendak hampir menggiling mereka. Begitu juga saat truk pembawa sampah datang. Sapi-sapi tersebut buru-buru menghindar, dan setelah truk menumpahkan sampah, mereka kembali berebutan mendekat.
Menurut pengawas umum TPA, Syahrial, sapi-sapi tersebut adalah milik warga sekitar RT 3, RW 9, Air Dingin, Padang. Sapi-sapi itu diantarkan oleh pemiliknya ke TPA sekitar pukul 6 pagi lalu di jemput kembali sekitar pukul 5 sore. Bahkan, ada sebagian sapi yang menghuni lokasi TPA selama 24 jam. "Di tempat inilah sapi-sapi itu mencari makan," ungkap Syahrial.
Pernyataan Syahrial dibenarkan oleh salah seorang warga pemilik sapi di sekitar TPA, Animar (56). Ibu yang memiliki 34 ekor sapi itu mengaku bahwa sapi-sapinya memang dilepaskan di kawasan TPA. Ia membawa sapi-sapi itu ke TPA pada pukul 6 pagi dan menjemputnya kembali pukul 5 sore. Menurutnya, sampah-sampah di TPA banyak mengandung bahan makanan yang bisa dikonsumsi oleh sapi sehingga berdampak pada kepadatan daging sapi. "Sapi yang makan sampah terlihat lebih gemuk dan dagingnya lebih padat dari pada sapi yang makan rumput," ujarnya.
Metriwati juga memiliki anggapan yang sama dengan Animar. Setiap hari sapi-sapinya digiring ke lokasi TPA dan dilepaskan di sana selama lebih kurang 10 jam untuk mencari makan. Kata ibu yang berusia 38 tahun ini, sampah di TPA berguna bagi pertumbuhan dan perkembangan sapi.
Lebih lanjut, Metriwati mengatakan bahwa biasanya makanan sapi yang diperoleh dari lokasi pembongkaran TPA berupa sampah-sampah basah olahan rumah tangga dan sampah-sampah pasar seperti sayur-sayuran. Namun ia tidak memungkiri bahwa sapi yang ia miliki pernah terkontaminasi sampah berbahan dasar plastik dan logam. Hal tersebut ia ketahui setelah menjual beberapa sapinya ke agen sapi. Agen tersebut menginformasikan bahwa pada saat pemotongan, di dalam perut sapi ditemukan benda-benda seperti plastik, sepatu, anting anak-anak, dan uang logam. Walaupun begitu, Metriwati menanggapi hal tersebut dengan sikap biasa.
Namun, sikap biasa yang ditunjukkan oleh pemilik sapi berbanding terbalik dengan hasil penelitian Sudiyono pada Maret 2011 yang berjudul "Upaya Eliminasi Residu Logam Berat pada Sapi Potong yang Berasal dari Lokasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah dengan Pemeliharaan Secara Konvensional". Dalam jurnalnya dijelaskan bahwa sampah di TPA berkemungkinan mengandung logam berat yang berbahaya apabila terkonsumsi sapi. Logam-logam ini akan terakumulasi dalam tubuh sapi, dan jika sudah melebihi ambang batas dapat membahayakan kosumen dan menjadi racun dalam tubuh.
Lalu di sini, di tempat pembuangan ini, sapi-sapi ini tumbuh dan berkembang bertahan di kehidupannya.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!