Memang benar, di zaman sekarang jika tidak ada usaha dan kerja keras, kemiskinan bisa saja menjadi sahabat sejati, bahkan sampai mati.
Langit begitu cerah memamerkan pesonanya. Awan bergerak menghiasi birunya langit dengan berbagai macam bentuk. Matahari pÂun belum sepenuhnya berada tepat di atas kepala. Laut membentang luas sejauh mata memandang. Aktivitas nelayan hari itu tampak nyata dengan ikan-ikan segar yang menggeliat seakan enggan dibawa. Sembari menikmati sepoi angin yang berhembus di sela-sela dedaunan, kaki melangkah dengan sigap menyusuri pantai menuju salah satu rumah pengolahan teri di Nagari Koto Taratak, Kecamatan Sutera, Pesisir Selatan.
Janawir dengan istrinya, Salmianti yang berusia 34 tahun menyambut kedatangan kami di rumahnya. Rumah sederhana berdinding papan kayu yang mulai mengusang. Bagian depan rumah sengaja dibiarkan terbuka tanpa ada papan kayu yang melindungi. Di depan rumah inilah, Janawir bersama istri mulai merintis usahanya semenjak empat tahun lalu.
Saat fajar mulai menyinsing, Janawir bersama tiga orang nelayan lainnya melangkah menuju pantai. Dengan satu tujuan tentang sebuah pengharapan kehidupan: membawa banyak hasil tangkapan. Perahu mulai berlayar mengarungi lautan. Mereka bersiap melepas jala ke laut dan menunggu ikan-ikan terperangkap. Tanpa merusak ekosistem laut, proses penangkapan masih dilestarikan dengan cara tradisional.
Sebanyak satu baskom dengan berbagai jenis ikan kecil berhasil ditangkap Janawir bersama nelayan lainnya pada hari itu. Proses pengolahan teri pun dimulai. Ikan-ikan yang masih segar dibersihkan dengan air biasa. Dimasukkan ke dalam beberapa keranjang kecil hingga memenuhi setengah keranjang. Salmianti kemudian merebus ikan tersebut dalam air mendidih selama kurang lebih lima menit. Sebelumnya, Salmianti mencampur air rebusan dengan garam dan cuka sesuai takaran yang sudah ditentukan. Seusai perebusan, teri pun siap diangkat dan ditiriskan. "Memang tidak terlalu sulit, asalkan sudah terbiasa, proses menjadi lebih mudah," ungkap Salmianti sambil tersenyum.
Salmianti kemudian menjemur ikan-ikan tersebut di balekkurang lebih selama empat jam di bawah terik matahari. Balekadalah tempat penjemuran ikan yang terbuat dari nilon dan disusun sehingga berbentuk ayakan. Beruntung, saat itu matahari bersinar cerah. Karena lamanya waktu penjemuran tergantung pada cuaca. Jika cuaca mendung atau hujan maka waktu penjemuran sedikit lebih lama.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya ikan-ikan tersebut kering. Saatnya untuk mengarai ikan. Proses mengarai inilah yang paling lama dan cukup membosankan dari proses-proses yang ada. Sebab, ikan-ikan kecil yang bercampur tersebut harus dipilah dan disatukan dengan jenis yang sama. Pengaraian selesai. Ikan-ikan pun siap dibawa ke gudang untuk dipasarkan. "Terkadang ada warga sekitar yang langsung membeli ke sini dengan harga yang sedikit lebih murah," terang Salmianti sambil membersihkan balek.
Hasil yang diperoleh Janawir dan istrinya pun tak menentu. Banyaknya teri yang dijual tergantung pada hasil tangkapan dari laut. Jika ikan sedang banyak, maka hasil yang diperoleh bisa mencapai sepuluh sampai tiga puluh baskom ikan. Dimana satu baskom teri seharga Rp450.000,00. Pernah juga selama tiga bulan berturut-turut mereka tidak mendapat ikan sama sekali. Akibatnya, proses pengolahan teri dihentikan untuk sementara.
Walaupun hidup sederhana dan pas-pasan, namun Janawir dan istrinya tidak menjadikan hal itu sebagai alasan untuk tidak membantu orang lain. Terkadang mereka juga mengupah ibu-ibu dan anak-anak untuk mengarai ikan. Hal itu dilakukan untuk membantu belanja dapur ibu-ibu yang tidak bekerja, dan menambah uang jajan anak-anak yang sekolah. Selain itu, dengan usaha ini, mereka dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, menyekolahkan keempat anak, dan sedikitnya dapat membantu para tetangga yang sedang kesulitan.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!