Laporan Utama

Seberapa Pentingkah Akreditasi?

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Senin, 31 Maret 2014 08:19 WIB • 👁 1.461 Pembaca

"Masa terbaik dalam hidup seseorang adalah masa ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri." (Pramoedya Ananta Toer)

Pengakuan akan sebuah akreditasi terkadang masih menjadi sebuah ketakutan tersendiri, baik itu bagi mahasiswa yang baru akan melanjutkan studinya, ataupun yang akan mengakhiri masa studinya. Adanya realita di lapangan pekerjaan yang menuntut sebuah akreditasi sebagai sebuah pengakuan, kemudian mendiskriminasi kemampuan seutuhnya dari satu individu. Dimana tidak adanya akreditasi menggugurkan impian yang diharapkan keterwujudannya. Dari kecenderungan fenoma tersebut, muncul pertanyaan sebegitu pentingkah nilai akreditasi tersebut bagi lulusan perguruan tinggi? Bukankah kompetensi menjadi pilihan utama bagi perusahaan atau institusi yang ingin memanfaatkan lulusan perguruan tinggi?

Akreditasi merupakan sebuah upaya yang dilakukan oleh pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi untuk menstandarisasi dan penjaminan mutu alumni perguruan tinggi (PT). Akreditasi PT dilakukan oleh Badan Akreditasi Nasional (BAN), dimana akreditasi terdiri dari dua macam, yaitu akreditasi institusi/PT dan akreditasi program studi. Peraturan mengenai akreditasi ini tertulis dalam Undang-undang No.12 Tahun 2012 tentang Perguruan Tinggi, bagian 3 pasal 55.

Sebelum memasuki dunia perkuliahan, calon mahasiswa biasanya akan melakukan pencarian data awal terlebih dahulu mengenai PT yang akan dipilihnya untuk melanjutkan bangku pendidikan. Mulai dari nama PT itu sendiri, program studi yang akan dipilih, passing grade serta ketersediaan bangku, ketersediaan lapangan pekerjaan, kesuksesan alumni, hingga akreditasinya. Berhubungan dengan kebiasaan itu, pernah penulis menemukan pernyataan seorang pengguna jasa forum tanya jawab online yang menyatakan, "Saya baru saja lulus di sebuah perguruan tinggi swasta terkenal, program studinya bagus. Setelah tamat nanti, lapangan pekerjaan pun banyak yang menginginkan pekerja dengan keahlian di program yang saya ambil ini. Sayangnya, belum terakreditasi. Kata pihak kampus, akreditasinya sedang diproses. Apa yang harus saya lakukan?"

Nah, dalam kasus ini bisa dilihat bahwa belum adanya sebuah akreditasi akan sebuah institusi atau program studi dapat membuat orang berpikir ulang untuk mengambil keputusan. Jika ia mengambil sembari menunggu hasil, belum tentu di akhir nanti akan mendapatkan hasil akreditasi tersebut. Karena untuk mengurus sebuah akreditasi, butuh persiapan yang matang, banyak hal yang mesti disiapkan oleh institusi maupun prodi jika ingin mengajukan permohonan untuk mendapatkannya. Mulai dari visi, misi, tujuan dan sasaran, serta strategi pencapaian. Tata pamong, kepemimpinan, sistem pengelolaan, dan penjaminan mutu BAN-PT. Mahasiswa dan lulusan. Sumber daya manusia seperti jumlah dosen, kualifikasi dosen, dan pengembangan dosen. Kurikulum, pembelajaran, dan suasana akademik. Pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sistem informasi. Penelitian, pelayanan/pengabdian kepada masyarakat, dan kerjasama.

Pun seandainya telah diakreditasi dan mendapatkan status B atau C, maka institusi atau program studi tersebut harus menunggu selama 5 tahun lagi sembari terus melakukan perbenahan untuk mendapatkan kembali akreditasi yang baru. Hal ini dikarenakan sebuah akreditasi akan berlaku selama 5 tahun setelah tanggal pertama dikeluarkannya. Seperti halnya pada tahun 2008 lalu, Universitas Negeri Padang (UNP) mendapatkan status C untuk akreditasi institusi. Kini, memasuki tahun 2014, akreditasi sebelumnya pun telah memasuki masa kadarluarsa, butuh pembaharuan. Pembaharuan di berbagai bidang pun telah dilaksanakan. Baik itu perbaikan sarana dan prasarana, perbaikan mutu SDM dengan menguliahkan beberapa dosen ke luar negeri, meningkatkan jumlah penelitian baik itu oleh dosen maupun mahasiswa, lebih memadukan sistem informasi akademik, serta hal-hal lainnya yang berkaitan dengan perbaikan akreditasi ini.

Jadi, apa yang sebaiknya dilakukan oleh calon mahasiswa tadi, tetap dengan program studi yang bagus, atau mencari PT dan program studi yang telah jelas akreditasinya? Semuanya dikembalikan kepada calon mahasiswa. Orientasi seperti apa yang ingin didapatkannya selama perkuliahan? Jika ingin mendapatkan ilmu sebanyak yang ia mampu, lalu untuk apa akreditasi? Kalau pun akan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi setelah tamat kuliah, ke luar negeri sekalipun, tidak ada persyaratan akreditasi dalam berkas-berkas yang harus dipenuhi.

Namun, jika ia memiliki orientasi bekerja dengan latar belakang ilmu yang didapat dan bekerja pada sebuah perusahaan, maka akreditasi akan menjadi pertimbangan utama. Tidak sedikit perusahaan maupun instansi yang mensyaratkan seorang calon mestilah dari program studi atau PT terakreditasi. Bahkan ada yang langsung gugur dalam persyaratan administrasi karena hal akreditasi meskipun kualifikasi lainnya telah terpenuhi. Malahan, jangan bermimpi untuk menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil setelah berkuliah jika jurusan atau PT belum terakreditasi.

Akreditasi memang menjadi sebuah patokan seberapa bagusnya mutu pendidikan kampus tersebut, serta seberapa kompeten dosen pengajarnya. Namun, semuanya balik lagi kepada kita sebagai mahasiswa, seberapa penting menganggap ilmu yang akan didapat nantinya. Apakah akan berguna untuk hidup? Apakah hanya sebagai nilai untuk sekedar masuk perusahaan besar atau menjadi pegawai negeri nantinya?

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Jefri Rajif
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

3 + 6 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.