Feature

Sikembar di Tengah Dyslexia

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Senin, 31 Maret 2014 03:38 WIB • 👁 1.059 Pembaca

Keadaan memaksa mereka. Bermodalkan satu ember kecil, mereka berusaha mengais rezeki.

Ia adalah Rahman, kembaran Rahim. Terdaftar sebagai salah seorang siswa kelas 3 di Sekolah Luar Biasa (SLB) yang berada di daerah Gadut, Padang.

Tidak seperti anak-anak kebanyakan, Rahman dan Rahim harus ikut membanting tulang memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Mereka telah berteman akrab dengan asap kendaraan dan debu jalanan. Meskipun bisa mencicipi manisnya bangku sekolahan, sayangnya indahnya waktu bermain pada masa anak-anak tiada bisa mereka nikmati. Mereka harus terus menengadahkan tangan di pasar dan jalanan demi menopang kehidupan.

Kerasnya kehidupan memaksa sikembar berusia sepuluh tahun ini mengiba di siang dan malam demi mengharap belas kasihan orang lain. Kondisi itu diperparah dengan keadaan adik mereka, sibungsu yang masih batita. Ia harus dioperasi karena tidak mempunyai saluran pembuangan pencernaan. Yang ada di benak mereka hanya ada satu hal, yaitu semua mereka lakukan adalah demi adik mereka. "Ini demi adik kecil kami," jawab Rahim singkat ketika ditanya saat dia tengah beristirahat sejenak.

Pagi itu, 1 Januari 2014, terlihat Rahim sedang berjalan sambil memegang ember kecil memasuki daerah pasar Bandar Buat. Suasana pasar ramai. Rahim baru saja turun dari sebuah angkot dari arah Pasar Raya dan berjalan pelan memasuki Pasar Bandar Buat. Letih dan cemas tergambar jelas dari raut wajahnya. Hari itu adalah hari Rabu, "harinya sikembar".

Membolos setiap hari Rabu dan Sabtu dari sekolah sudah menjadi rutinitas mereka, karena pada dua hari itu mereka harus kerja full-day. Sedangkan untuk hari-hari lainnya, mereka mencari rejeki hanya setengah hari, sepulangnya dari sekolah. Hitam legam kulit anak kembar ini menggambarkan betapa susahnya mereka berjalan kian kemari bertemankan debu dan terik matahari untuk mendapatkan sejumlah uang.

Tak hanya harus bertarung melawan kerasnya hidup dalam mencari uang, Rahman dan Rahim juga harus berjuang dalam pendidikannya. Untuk sampai di sekolah saja misalnya, tak ayal sikembar harus menyeberangi sungai. Kadangkala mereka juga harus melepaskan sepatu ketika arus sungai mulai deras dan ketika hujan tiba. Kaki kecil mereka sangat cekatan melompati batu-batuan sungai sebagai pijakan.

Rahman dan Rahim juga harus belajar lebih keras dibanding anak-anak normal lainnya. Berdasarkan asesmen yang dilakukan oleh mahasiswa PLB UNP TM 2012, sikembar ini diketahui tergolong kepada Anak Kesulitan Belajar (AKB). Anak yang tergolong AKB ini biasanya mengalami kesulitan dalam membaca atau disebut Dyslexia. Jika dibandingkan dengan anak seusianya, seharusnya mereka telah bisa membaca. Namun, karena keterbatasan tersebut, Rahman dan Rahim masih harus belajar mengenal abjad.

Meskipun begitu, sikembar ini sangat suka belajar. Mereka tidak pernah bosan diajak untuk belajar walau waktunya bukan pada jam sekolah lagi. Semangat belajar mereka terpancar jelas saat ditawarkan untuk belajar kapan saja. Hanya waktu untuk bekerja yang menghentikan mereka dari belajar, waktu ketika sang kakak mengajak mereka untuk segera pulang dan kemudian lanjut bekerja mencari uang.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Redda Wanti
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

6 + 6 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.