Tuhan.. Terimakasih atas tiupan angin yang berhembus membawa semua lelahku… Terimakasih atas setiap helaan nafas diantara langkahku.. Terimakasih atas segala izin-Mu.. Terimakasih atas segala Perlindungan-Mu.. Terimakasih untuk kawan-kawanku.. Terimakasih juga untuk diriku yang mau diajak melangkah sejauh itu.. Aku tak bisa tanpa-Mu Tuhan…
Ini adalah cerita panjang tentang sebuah perjalanan. Menaklukan gunung tertinggi di Pulau Sumatera serta puncak tertinggi di Indonesia setelah Jaya Wijaya. Ekspedisi panjang mendaki gunung setinggi 3805 meter yang terletak di antara provinsi Jambi dan Sumatera Barat, Gunung Kerinci. Ialah saksi bisu perjuangan kami yang luar biasa.
Kisah ini dimulai dari kelompok kecil yang bernama Prasasti. Kelompok pendaki yang berjumlah sepuluh orang. Adalah gabungan dari mahasiswa Universitas Negeri Padang dan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Padang yaitu Fhedo, Fadli, Yandri, Reizha, Ijep, Ikem, Dwi, Andre, Chika, dan Oky.
Tepat pada 14 Januari 2014 saat Subuh menjelang, perjalanan ini dimulai. Berangkat dari Padang mengendarai sepeda motor. Setelah menghabiskan waktu selama delapan jam, akhirnya kami tiba di Kerinci ditengah gelap nan menjelma. Rumah Fhedo menampung kelelahan hari pertama.
Saat pagi menyonsong, kami langsung berkemas untuk trackking dan berangkat menggunakan mobil bak belakang hingga perbatasan Simpang Tugu Macan. Perjalanan selanjutnya harus diteruskan dengan berjalan kaki menuju Pintu Rimba.
Dari pintu rimba perjalanan segera dilanjutkan menuju pos I, pos II dan Pos III dengan jalur yang cukup landai dan datar. Semilir angin dan tanah yang cukup basah serta licin menyambut kedatangan kami. Di Pos I dan III terdapat bangunan yang dapat digunakan sebagai peristirahatan bagi pendaki.
Kelompok Prasasti tiba di shelter 1 ketika matahari mulai condong ke Barat. Kami segera mendirikan tenda dan beristirahat untuk melanjutkan track pagi selanjutnya.
Pendakian sesungguhnya dimulai. Perjalanan dilanjukan ke shelter 2 yang memiliki kemiringan mencapai 45 derajat, jalanan licin, dan banyak jalur air. Tapi hal itu tak menyurutkan langkah kami untuk terus berjuang mencapai puncak. Setelah bergelut dengan jalur, akhirnya kami tiba di shelter 2 dan memutuskan untuk camp di sana.
Waktu menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Tanpa mempedulikan dingin menusuk-nusuk tulang dan kantuk yang luar biasa, kami bersiap untuk summit attack.
Perjuangan untuk mencapai ‘atap’ Sumatera semakin berat. Di awal perjalanan menuju shelter 3, nafas bergulat dengan waktu. Kondisi jalur yang licin dengan kemiringan 60-70 derajat, serta oksigen yang semakin menipis memperlambat langkah kami. Jarak pandang hanya berjarak 2-4 meter saja. Kami melangkah dengan gesit, memanjat akar-akar serta berjalan di sela bebatuan.
Saat Subuh menjelang akhirnya kami tiba di shelter 3. Jalur menuju puncak mulai didominasi pasir dan tumbuh-tumbuhan pendek. Langkah demi langkah kami lewati. Tak banyak bicara, hanya tiupan angin dan derap langkah mengiringi perjuangan yang tinggal beberapa langkah lagi.
Lambat laun langit pun mulai cerah. Pemandangan indah terlihat jelas di balik punggung kami. Cahaya matahari menyinari Gunung Tujuh beserta danaunya. Hamparan awan seakan mengajak kami berguling-guling lembut diatasnya. Hanya satu kata, Subhanallah.
Matahari semakin menanjak naik. Kami diburu waktu. Badai menerpa dengan sangat kencang. Kami terus mendaki. Terus dan terus. Hingga akhirnya saat terindah itu kami temui. Pada pukul 06.30, kami berhasil menapakkan kaki di puncak tertinggi ke dua itu. Keharuan luar biasa membuncah di hati. Semua rasa menjadi satu. Ini bukan sekedar melihat keindahan di atas ketinggian, tapi tentang sebuah perjuangan.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!