Feature

Budaya Batik Prambanan

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Sabtu, 15 Maret 2014 00:38 WIB • 👁 2.564 Pembaca

Melestarikan budaya bangsa tidak sesulit mendaki Jaya Wijawa dan menghabiskan banyak rupiah. Melainkan dengan usaha dan langkah sederhana yang menjunjung tinggi jati diri bangsa.

Sore itu, hawa panas menyambut para pengunjung saat memasuki daerah Prambanan. Teriknya matahari membakar kulit, namun hal ini tidak menghalangi hasrat pencinta destinasi wisata berpupus harap menikmati suguhan yang ditawarkan oleh candi terindah di Asia Tenggara itu.

Candi Prambanan adalah mahakarya kebudayaan Hindu dari abad ke-10. Bangunan langsing nan menjulang setinggi 47 meter membuat kecantikan arsitekturnya tak tertandingi. Banyaknya arca dan relief semakin menambah daya tarik yang dimilikinya.

Saat memasuki kawasan candi, mata dimanjakan dengan hamparan hijau rerumputan yang diselingi oleh pepohonan nan rindang. Deretan bunga yang tumbuh di sepanjang jalan menuju candi seolah mengiringi pengunjung untuk menikmati keeksotisan yang dimiliki Candi Prambanan.

Dekat pintu masuk menuju komplek candi, pengunjung disambut hangat oleh para petugas sambil menyerahkan sehelai kain batik persegi panjang, berwarna putih dan bermotif hitam. Kain batik itu dinamakan Sarung atau biasa disebut "Sarong", sedangkan dalam bahasa Jawa yaitu "Saru".Sarung adalah kain panjang yang disatukan dan dililitkan ke pinggang sebagai pakaian untuk beribadah. Setiap pengunjung diharuskan untuk memakai sarung ini. Memang, itulah salah satu hal unik yang ditemukan saat mengunjungi salah satu peninggalan bersejarah di kota Yogyakarta itu.

Sarung ini memiliki tata cara dan filosofis tersendiri dalam pemakaiannya. Sarung dipakai dengan direntangkan sesuai dengan gambar candi prambanan menghadap ke atas dan setelah itu lingkarkan ke pinggang. Kemudian, kedua ujungnya diikatkan di sebelah kanan bagi pengunjung pria dan di sebelah kiri bagi pengunjung wanita. Perbedaan ini dimaksudkan sebagai pembeda jenis kelamin. Selain itu, tumpuan ikatan kain pria di sebelah kanan karena pria itu secara kultur sebagai sosok yang kuat, pelindung bagi wanita. Seorang pria itu harus mampu memberi wanita di posisi kanannya, sebagai perlambang tempat yang aman dan nyaman.

Motif batik pada Sarung ini disebut dengan motif Pintu Retno atau Pintu Nirwana yang merupakan batik pertama dan paling tua di Indonesia, dimana dalam bahasa Jawa berarti pintu surga. Setiap ukiran pada batik ini memiliki makna tersendiri. Gerbang yang terdapat pada motif batik Sarungtersebut menghubungkan keterkaitan antara manusia. Sedangkan motif rangkaian bunga yang terdapat di Sarungmelambangkan keindahan. Juga terdapat motif candi pada kain batik yang merupakan simbol dari ritual sembahyang orang Hindu. Motif batik tersebut digambarkan untuk mengabulkan permintaan atau dalam Hindu disebut kalbataru. "Makna batik tersebut untuk menunjukan keindahan dan menggambarkan kebahagiaan," terang Wendi salah seorang petugas Candi Prambanan.

Keharusan untuk memakai Sarung batik di area candi bukan tanpa alasan. Menurut Beni, salah seorang petugas candi Prambanan, tujuan dari pemakaian kain batik tersebut adalah untuk melestarikan kebudayaan batik di Indonesia. Dan juga untuk lebih memperkenalkan batik kepada para wisatawan yang tidak hanya datang dari Indonesia, tetapi juga dari mancanegara. "Ketentuan ini untuk menghormati kebudayaan kita," jelas Beni.

Pembudayaan pemakaian Sarung bermotif batik ini dimulai semenjak adanya pengakuan dari UNESCO yang menyatakan bahwa batik adalah budaya asli Indonesia. Lusiana Indah Swari, pengunjung dari Cirebon ini mengatakan ketika memasuki kawanan Candi Prambanan kita langsung diberikan sarung bermotif batik. Lusi berharap agar warga Indonesia lebih mencintai batik, "karena batik adalah milik kita yang harus dijaga bersama," tutupnya ketika berjalan menjauh dari kawasan candi tersebut.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Wici Elvinda Rahmaddina
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

8 + 4 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.