Cerpen

Menembus Waktu

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Senin, 30 Desember 2013 10:58 WIB • 👁 2.429 Pembaca

"Keluar! Keluar dari rumahku!"

Rani melempar kepalaku dengan keranjang sampah yang pernah kubeli, bahkan satu-satunya pembelianku di rumah itu. Aku terdiam tak berkutik. Bahkan untuk menghindar saja aku tak mampu. Ruang tamu pun ikut memanas. Aku tersudut tak berdaya.

"Abang jangan pernah kembali lagi. Sudah cukup. Tinggalkan kami berdua! Abang pikir hidup hanya cukup dengan rayuan? Hidup butuh makan, Bang!" hardik Rani sambil menggendong satu-satunya buah cinta kami.

Aku tak tahu monster apa yang ada dalam raga istriku. Tanpa pamit aku meninggalkan ruangan berwarna coklat muda itu. Aku keluar dari rumah sederhana pemberian ayah Rani. Kulangkahkan kaki keluar tanpa membawa apapun.

Akhir-akhir ini hidupku semakin krisis. Krisis kasih sayang, krisis percaya diri, krisis ekonomi, dan krisis keberuntungan. Aku tak habis pikir di tengah kekrisisan ini, istriku malah makin menyudutkanku.

Panas Matahari terasa beda dari biasanya. Rasanya dekat sekali dengan ubun-ubun. Kerongkongan terasa kerontang. Di dompetku hanya tertinggal sehelai uang dua puluh ribu. Entah bagaimana aku bisa hidup dengan uang segitu. Perjalanan ini seakan begitu absurd.

Sedikit demi sedikit melangkah, aku berhenti di sebuah kedai kecil, yang tak jauh dari rumah istriku. Aku duduk di kursi bambu kedai itu. Aku memesan segelas teh es pada pemilik kedai.

Lamunanku melayang saat mulai menyeduh teh es yang begitu segar. Ingatanku mulai memasuki mesin waktu.

Aku teringat beberapa tahun lalu ketika masih di SMA. Harusnya aku menamatkan sekolah hingga mendapat ijazah SMA. Entah malang apa yang menimpa sehingga aku harus menikahi Rani, teman saat di SMA. Aku tak sengaja menghamilinya.

Waktu itu ketika pulang sekolah, tak ada seorang pun di rumahku. Ayah bekerja, sedangkan Ibu tiriku pergi arisan. Keadaan seperti ini membuatku kesepian. Dan entah setan apa yang membuatku nekat mengajak Rani main ke rumahku saat itu. Di rumah inilah akhirnya melakukan perbuatan tak pantas itu.

***

Masa-masa SMA begitu suram bagiku. Tak ada tempat untuk mencurahkan keluh kesah. Setiap malam aku hanya ditemani kawan-kawan SMA-ku. Minuman keras kerap kali menjadi pelampiasan. Semenjak ibuku meninggal, aku tak pernah lagi mendapatkan kasih sayang orangtua. Ayahku sibuk dengan pekerjaanya sebagai dokter spesialis. Sedangkan ibu tiriku juga tidak peduli denganku.

Beberapa bulan setelah insiden di rumahku bersama Rani, aku mendengar kabar bahwa Rani hamil. Sontak aku terkejut. Jantungku terasa berhenti berdetak. Orang tuanya marah-marah mencari dan mendampratku. Kabar ini juga membuatku diberhentikan dari sekolah.

Ayahku marah besar mendengar kabar ini. Ketika bertemu aku langsung ditamparnya. Aku diusir dari rumah. Tak kusangka ayah tega berbuat seperti ini padaku. Kusangka dengan musibah yang menimpaku, ayah akan lebih peduli dan perhatian padaku. Tapi kenyataannya tidak. Dia membuangku.

Malam itu aku menangis. Biasanya aku tak pernah menangis. Terakhir kali aku menangis ketika kepergian almarhum Ibu. Tapi saat ini aku terus menangis meraungi nasib.

Aku pergi dari rumah dengan tas ransel yang pernah dibelikan ibu. Aku berjalan menyusuri jalan-jalan remang di sudut kota. Rasanya aku ingin sekali pulang kampung ke rumah Tante dan Nenek. Tapi aku tak ingin merepotkan mereka. Aku juga tak ingin mereka tahu tentang keadaanku yang seperti ini. Biarlah mereka tahu aku hidup bahagia dan berkecukupan dengan ayah dan ibu baru.

Malam, makin larut. Aku belum tahu arah dan tujuan. Akhirnya terpikir olehku untuk pergi ke rumah Rani. Aku ingin bertanggung jawab atas perbuatanku. Tapi sesampainya di rumah Rani, aku dipukul ayahnya.

"Mau apa kamu ke sini?"

Ayah Rani masih marah padaku. Aku bersimpuh, minta maaf dan memohon padanya. Aku katakan padanya, aku akan bertanggung jawab. Aku akan menikahi Rani.

"Harus. Kamu harus bertanggung jawab! Tapi kamu bisa apa? Apa kamu sanggup menafkahi anakku?"

"Pak, tolonglah. Percayalah. Saya akan memperbaiki semuanya. Saya akan bertanggung jawab. Meski saat ini saya tak punya apa-apa, tapi aku yakin aku akan mampu menafkahi Rani. Saya akan bekerja keras. Saya janji, Pak," ucapku tersengal-sengal.

Keluarga Rani yang lain terlihat kasihan padaku. Sambil menangis ibu Rani membujuk suaminya itu agar memaafkanku. Adik Rani juga menangis. Rani pun ikut menangis. Malam itu aku terselamatkan. Ayah Rani luluh dan memaafkanku. Besoknya kami langsung menikah secara sederhana tanpa publikasi.

Memang berat menjalani hidup berumah tangga. Banyak rintangan yang kami alami. Aku selalu dihujat keluarga Rani. Aku belum juga bekerja. Sulit sekali mencari kerja. Aku tak punya keahlian apa-apa.

Selama ini kami masih menumpang dan makan dengan hasil pencarian ayah Rani. Ayahnya seorang pedagang yang cukup kaya. Ayah Rani lah yang membelikan rumah untuk tempat kami tinggal. Tapi meski begitu ayah Rani tak pernah baik padaku. Dia masih menyimpan dendam.

Saat ini aku juga tak pernah berhubungan dengan nenek dan tanteku. Mereka tak tahu apa yang terjadi padaku. Mereka tak tahu kalau aku telah beristri. Aku tak bisa mengunjungi mereka. Aku tak punya uang untuk ke sana. Uang keperluan rumah tangga ditanggung mertuaku dan tak serupiah pun aku memegangnya. Semua urusan rumah tangga Rani yang mengaturnya, termasuk masalah keuangan. Rani lah yang menjadi kepala rumah tangga di keluargaku. Sedangkan aku hanya boneka Rani.

***

Aku seperti terombang-ambing di samudera yang luas. Bahkan aku tak tahu kemana arah bahteraku ini. Di kedai ini aku hanya bisa mengingat-ingat pahitnya hidup yang aku jalani. Sesaat terlintas di benak ingin kembali memohon pada ayahku. Tapi aku tak berani. Beliau mungkin masih marah padaku. Dan musathil rasanya ayah mau menerimaku kembali. Argggh. Aku tak tahu lagi bagaimana caranya menjalani hidup ini.

Sambil menyeduh teh es ini, aku teringat sesuatu. Aku membuka dompet, di balik saku dompetku terpampang foto yang sudah lusuh. Orang dalam foto masih terlihat jelas. Di dalam terlihat anak kecil yang dipeluk seorang bapak yang masih gagah. Di sampingnya berdiri seorang perempuan yang seusia dengan bapak itu. Seketika air mata menetes perlahan mengikuti arus pipiku.

Dahulu kami tidur bersama di ranjang yang sederhana. Sebelum tidur ayah selalu bercerita tentang kancil cerdik yang mencuri timun. Ayah menceritakanya berkali-kali. Tapi aku tak pernah bosan dengan ceritanya, walaupun aku sudah hapal ceritanya. Sebelum aku lelap, biasanya ibu juga menyanyikan nina bobok untukku.

Ketika itu kami masih tinggal di kampung. Ayah masih seorang dokter biasa, belum jadi dokter spesialis. Ibuku seorang ibu rumah tangga yang sangat baik.

Kami tinggal di rumah yang sederhana, tapi sangat nyaman. Kami punya pekarangan yang luas di depan dan di belakang rumah. Ibu sangat hobi berkebun. Aku masih ingat bunga kesayanganya. Dulu aku pernah dimarahi Ibu ketika memotong bunga itu. Aku langsung menangis. Ibu berusaha membujukku kembali. Tapi aku masih saja menangis. Aku baru berhenti menangis ketika ibu membelikan mobil-mobilan kesukaanku.

Kami juga sering memancing bersama. Dulu ayah hobi memancing. Aku, Ayah dan Ibu sering pergi memancing pada hari Minggu. Dan jika aku lapar saat memancing, ibu telah menyediakan roti yang ditaburi meses di atasnya. Ibu sangat tahu kesukaanku. Mengingatnya membuatku meneteskan air mata.

Lamunanku terhenti ketika pemilik kedai menegur. Dia melihatku menangis di sudut kursi bambu.

"Nak, apapun masalahmu, bersyukurlah. Bersyukur adalah cara paling mudah untuk menyenangkan hati," katanya saat mulai duduk di sebelahku.

"Pak, jika bapak terombang-ambing di lautan luas, tak ada angin, tak membawa apapun, tak tahu arah dan tujuan. Apakah bapak masih bisa bersyukur?" jawabku.

TAMAT

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Rafdisyam
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

2 + 2 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.