Upaya fisik dan non fisik hendaknya menjadikan sistem pembelajaran e-learning di UNP semakin berkualitas.
Masih terbilang pagi, Deski Beri S.Si., M.Si beserta 17 orang dosen UNP lainnya terlihat serius mendengarkan penjelasan dari instruktur Nanyang Politechnic Internasional (NYPi). Sesekali kepalanya mengangguk saat instruktur menjelaskan materi seputar e-leaning. Mulai dari esensi e-learning, konsep-konsep dasar penerapan e-learning sampai pengalaman instruktur dalam menerapkan e-learning di instansi mereka. Penjelasan semakin menarik ketika instruktur yang berasal dari negara seribu larangan (Singapura) tersebut memberikan saran dan solusi tentang aspek-aspek e-learning yang perlu diterapkan di UNP nantinya, mulai dari aspek pedagogik, pemograman komputer, infrastruktur, dan managemen. Semuanya dibungkus secara rapi oleh para peserta pelatihan dari kampus kuning ini. "Mereka hebat, tidak salah mereka bisa menjadi PT dan politeknik terbaik," ujar Deski berdecak kagum.
Rutinitas Deski dan kawan-kawan tidak terhenti disitu saja, siang harinya para instruktur NYPi memboyong rombongan UNP ke pusat pendidikan di Singapura seperti kampus dan sekolah. Langkah demi langkah rombongan di tuntun menuju kelas-kelas tempat berlansungnya proses pembelajaran dengan e-learning. Jejeran kelas itu telah dilengkapi dengan komputer berbasis sistem pembelajaran e-learning. Disanalah para rombongan dosen Universitas Negeri Padang (UNP) melakukan observasi. Melihat dan berdiskusi dengan para mahasiswa dan dosen-dosen disana, merupakan kegiatan yang melekat ketika Deski dan teman sejawatnya menginjakan kaki di kelas itu. Perbincangan seperti penerapan e-learning, orientasi e-learning, kegiatan-kegiatan yang dilakukan dengan e-learning sampai pengelolaan e-learning menjadi topik yang kental antara peserta pelatihan dari UNP dengan tuan rumah yang dikunjungi saat itu.
Beberapa jam kemudian observasi pun dilanjutkan di tempat lain. Pemandu dari Nanyang Polytechnic (NYP) kembali memboyong rombongan dosen kempus kuning menuju Universitas Nasional Instititut Of Educatin (NII). Yaitu sebuah universitas yang melahirkan generasi pendidik di Singapura. Tidak ingin membuang kesempatan, para dosen UNP terlihat antusias saat menginjakkan kaki di universitas ini. Salah satunya Nofrion, S.Pd., M.Pd. dosen Geografi yang juga terpilih dalam ekspedisi pelatihan ini, merasa senang bisa mengunjungi NII, menurutnya NII merupakan universitas yang tugas dan orientasinya tidak berbeda jauh dengan UNP yaitu sama-sama mencetak tenaga pendidik bangsa. "Saya kira kita bisa mengambil pelajaran dari NII," ungkap Nofrion.
Banyak pelajaran yang bisa diambil dalam mengikuti pelatihan ke Singapura. Hal ini diungkapkan oleh Doni Satria, dosen jurusan Ekonomi Pembangunan. Ia mengatakan bahwa dalam menciptakan suasana proses pembelajaran yang lebih baik diharapkan dosen atau guru menyukai apa yang disukai mahasiswa atau siswanya. Misalnya penggunaan jaringan sosial seperti facebook, chating, youtube dan sejenisnya hendaknya digunakan sebagai media dalam proses pembelajaran. Hal ini juga dapat di aplikasikan dalam e-learning UNP nantinya. "Yang mana aplikasi tersebut ada di dalam e-learning," harapnya.
Jika dibalik lembaran sejarah e-learning di UNP. Pada saat Prof. Z. Mawardi masih menduduki bangku kepemimpinannya sebagai rektor, pembicaraan mengenai e-learning disetiap pertemuan antar dosen telah sering dikemukakan. Hal ini disebabkan oleh perkembangan teknologi yang semakin berkembang serta dalam proses belajar mengajar metoda diskusi lebih menarik daripada metode ceramah. Selain upaya persuasif, upaya nyata lainnya terhadap sistem pembelajaran e-learning juga diwujudkan dengan pengangkatan acara-acara seminar yang bertemakan e-learning. Namun menilik dari segi sarana dan prasarana yang belum memadai, akhirnya sistem pembelajaran ini masih belum bisa diterapkan secara menyeluruh dan maksimal. Hal ini disampaikan oleh Afriva Khaidir, MAPA., Ph.D, sekretaris IDB sekaligus dosen Sosial Politik. Ia mengatakan bahwa peristiwa gempa yang menguncang bumi Minang pada tahun 2009, ikut mempengaruhi lambatnya penerapan e-learning di UNP. Pasalnya gempa yang berkekuatan 7,8 skala richter itu, telah menimbulkan kerusakan bangunan-bangunan UNP serta jaringan IT yang parah. Namun upaya dalam perbaikan fisik tersebut untuk saat ini sudah semakin baik. "E-learning secara bertahap akan dimaksimalkan penerapannya," ujarnya. Rabu (11/12).
Selain itu Afriva juga menambahkan selain persiapan dan upaya yang telah dilakukan oleh pihak universitas, persiapan lainnya juga harus dilakoni oleh mahasiswa. Pertama mahasiswa harus mempersiapkan mental serta hati untuk menerima sistem ini. Karena sistem tidak akan berjalan dengan baik tanpa kesiapan yang matang dari diri mahasiswa sendiri. Kedua kesiapan dalam menghadapi perkembangan teknologi masa depan yang mana mahasiswa UNP tidak boleh gagap teknologi. Dan yang tidak kalah pentingnya persiapan berbahasa inggris, karena tidak tertutup kemungkinan penerapan e-learning nantinya akan digerakan dengan bahasa internasional. "Persiapan itu harus diperhatikan mahasiswa." Tegasnya.
Dukungan terhadap penerapan e-learning juga disampaikan oleh ketua Prodi Bahasa Inggris, Drs. Saunir Saun M.Pd. ia mengatakan bahwa fasilitas yang ditawarkan e-learning sangat bagus sekali. Karena Mahasiswa dapat belajar, membaca serta membuat tugas kapan pun, selain itu mahasiswa juga lebih leluasa berdiskusi dengan dosennya. Untuk itu diharapkan e-learning bisa menjadi salah satu sarana atau fasilitas yang bisa mengembangkan diri mahasiswa kearah yang lebih baik, mulai dari kemandirian, keaktifan dan cekatan dalam pendidikan. Selain itu ia juga berpesan jangan sampai teknologi e-learning menghapus sistem pembelajaran tatap muka hilang seratus persen. "Misalnya untuk e-learning 4-5 kali pertemuan saja," ujarnya. Jumat (13/12).
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!