Malam itu Lembah Ngalau yang terletak di Kota Payakumbuh tampak ramai pengunjung. Masyarakat dari berbagai daerah, terutama kota Payakumbuh berdatangan untuk menyaksikan festival world music kelas dunia yang bertema "Payakumbuh World Music Festival". Tak hanya dari kalangan masyarakat, beberapa pakar musik tanah air dan mahasiwa-mahaiswa dari berbagi universitas juga turut hadir dalam acara tersebut.
Acara ini di selenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Olahraga Kota Payakumbuh, dan juga di dukung oleh D’Cress Event Organiser. Bertujuan untuk meningkatkan musikalitas dan mengapresiasi insan musik atau musisi serta masyarakat Payakumbuah terhadap perkembangan musik. Selain itu, festival ini juga untuk perayaan ulang tahun kota Payakumbuah yang ke 43.
Payakumbuh World Music Festival (PWMF) yang berlangsung selama tiga hari (5-7/12) ini merupakan momen pertemuan bagi para musisi Indonesia dengan musisi-musisi luar negeri. Musik tradisi dari luar dengan musik tradisi yang ada di Indonesia juga diperkenalkan pada PWMF, sehingga ada penggabungan musik tradisi dengan musik modern.
Acara di buka dengan Opening Ansamble Percusion yang di sajikan oleh Ruang Kreatif Sendratasik UNP. Selanjutnya penampilan Tari Seudati yang berasal dari Aceh Timur. Keunikan dari tari ini adalah tidak menggunakan musik melainkan dengan pola ritme yang berasal dari tepukan tangan ke dada dan pinggul, hentakan kaki ke lantai, dan petikan jari.
Acara masih berlanjut. Ruang Kreatif Sendratasik UNP menampilkan karya komposisi musik yang berjudul "Romusa". Sinopsisnya menceritakan kembali kejadian pada masa penjajahan dahulu dengan menuangkan ke musik dan teatrikal yang membawa suasana kembali pada masa penjajahan. Penonton sontak terdiam dan hanyut dalam cerita yang dibawakan. Riuh tepuk tangan penonton mengakhiri acara malam itu.
Memasuki malam kedua, PWMF di buka oleh penampilan Collegium Musicum (Medan) yang menampilkan 3 buah karya musik yang menggabungkan musik tradisi dengan musik modern. Riuhnya malam kedua ini memuncak tatkala Komunitas Seni "Intro" dari Payakumbuh berdiri di atas panggung. Komunitas ini menampilkan karya yang berjudul The Power of Kecapi.
Malam terakhir tak kalah meriah. Taufik Adam Mainsteral membuka penampilan dengan bertemakan "Beyond The Sacred’’. Sebuah karya Musik berjudul Identitas Hibrid, hasil gabungan dua identitas, yaitu musik etnik dan music postmodern ditampilkan oleh komunitas seni ini. penampilan ini memadukan alat musik talempong, serunai, dan beberapa alat musik brass serta pemakaian syntaizes.
Acara dilanjutkan dengan penampilan Minang Pentagong dari Institut Seni Indonesia, Padang Panjang dengan menampilkan 2 buah karya musik yang berjudul Rabab in Blues. Rabab in Bluesini merupakan kombinasi antara music tradisional dan modern. Awalnya rabab dimainkan secara solo kemudian pengiring dari rabab "bakaba" ini di garap dengan musik blues sehingga menjadi kemasan baru dalam penampilan rabab. "Perpaduannya sangat menarik dan benar-benar berbeda," ujar Muklis, seorang komposer sekaligus dosen ISI, Padang Panjang.
Acara ditutup dengan penampilan dari Iwaya Balawan, salah seorang personil dari Band Projack Trisum. Balawan menjadi sorotan bagi negara-negara lain. Ia memiliki karakter yang unik dalam bermain gitar.selain itu ia juga bisa menirukan suara dari berbagai alat musik hanya dengan memainkan gitar. Seperti gendang, tabla, gamelan, angklung, piano dan keyboard. Hal tersebut terbukti dari pertunjukan sebuah karya berjudul Morning Alarm yang dibawakannya.
Di penghujung acara, Iyut Fitria sebagai penggagas PWMF mengungkapkan bahwa acara ini merupakan iven besar bagi Kota Payakumbuh. Masyarakat Payakumbuh akan menanti-nantikan acara ini untuk diselenggarakan tahun depan. "Insyaallah event ini akan di jadikan event tahunan," tutupnya.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!