Dia adalah lelaki yang menimpal hujan, tameng kesatria pedang, rompi baja seukuran badan cavaleri dan busur-busur panah.
Lelaki yang membaluti tubuh kekasihnya dengan doa dan rosario. Mantel besi yang akan utuh menjaga sebuah kerinduan. Sebab hujan kemudian adalah pacak-pacak darah di dalam dada, luka serpih yang jaga pada tiap kilo meter kesakitan.
Jarak ini, adalah antara yang menyerupai suatu kepulangan yang tertunda berkali-kali. Dalam kerinduannya itu seorang kekasih menggubah kota dan betahun-tahun penantian menjadi medan perpisahan.
Kemudian hamparan tanah dan lapis-lapis air mata menjadi lima ratus peleton menyelinap dalam perangkap kata. Dan Ketika usia adalah sebuah perperangan. Waktu yang menyambutnya dengan perintah penyerangan. Segala siasat, segala angan dan keinginan menjelma troya yang merubuhkan benteng-benteng yang ia bangun dari perasaan.
Namun, kesetian itu hanyalah barak-barak peristirahatan yang tenang. Tempat dimana kesakitan itu memilih nasibnya masing-masing. Dan di dalamnya, para kesatria melepas mantel-mantel besi lelaki yang menimpal masa lalunya sendiri.
Ketika Hujan merembas ke setiap pori-pori
Dan kerinduan adalah darah yang berserak di seluruh kotanya. Kota lelaki sekarang kami huni.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!