Catatan Budaya

Air Mata

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Sabtu, 7 Desember 2013 07:48 WIB • 👁 1.772 Pembaca

Terselip tujuan yang hendak diwujudkan di balik air mata, tangisan, isakan, atau mungkinkah kemunafikan?

Manusia adalah makhluk yang diciptakan lengkap dengan perasaan yang bisa ia rasakan. Perasaan atau juga dikenal dengan emosi ini, merupakan suatu ungkapan sebagai wujud ekspresi manusia. Manusia tanpa adanya emosi, (mungkin) bukan lagi manusia. Mereka hanya akan menjadi robot tak berperasaan, mereka hanya akan memandang hidup dan kehidupan secara sempit; benar, salah, ya serta tidak.

Emosi pun terkadang diluapkan dalam bentuk air mata, baik dengan alasan bahagia, marah, maupun sedih. Ketika manusia berada pada batas kemampuannya dalam meluapkan emosi, maka ekspresi yang akan diluapkannya adalah air mata. Sehingga pada akhirnya tidak jarang, masyarakat pada umumnya menerjemahkan air mata sebagai suatu simbol kesedihan.

Lalu, apabila kita membahas mengenai air mata ataupun kesedihan, adalah lumrah halnya apabila melihat seseorang menangis, maka akan timbul suatu sikap yang disebut simpati atau bahkan empati. Hal ini merujuk pada perasaan, bahwa setiap makhluk hidup, apalagi manusia memiliki keistimewaan ikut merasakan kesedihan yang dirasakan manusia lainnya.

Terang, bahwa sejatinya air mata memang mujarab menjadi sarana meluluhkan hati orang lain. Baik itu sengaja atau mungkin tidak sengaja. Kenapa? Adakah air mata yang sengaja ‘dijual’ demi belas kasih? Adakah jaman semakin gila sehingga kesedihan dijadikan produk jualan di layar kaca?

Sayangnya, jaman mungkin memang sudah gila. Bahwa saat ini, air mata tidak lagi hanya olah luapan kesedihan seseorang. Bahwa menangis, seolah membuat diri yang menangis tidak lagi malu dianggap ‘lemah’ bagi orang lain. Sehingga tidak jarang, alih-alih karena air mata mencuri simpati, ia (air mata) kemudian dijadikan alibi.

Memang, akan sangat mudah bagi seseorang saat ini untuk mengeluarkan air mata, walaupun ia mungkin, tidak sedang merasakan kesedihan. Kita tahu, akan sangat mudah melakukannya seperti acting. Namun air mata tidak bersalah apa-apa, cara dan mungkin tujuan yang ingin dicapainyalah yang patut dipertanyakan.

Entah bagaimana bermula, air mata pun ikut menjadi salah satu ‘barang jualan’ di stasiun-stasiun televisi. Masyarakat -yang kurang beruntung nasibnya- di ekspoitasi kemiskinannya, ditelanjangi kesedihannya. Mereka ini, dipertontonkan seolah ruang-ruang harga diri mereka adalah hak mereka-si kaya dalam program Andai Aku Menjadi misalnya.

Lalu akhir-akhir ini, petisi mengenai salah satu iklan produk yang mengekspoitasi daerah di Indonesia menjadi perbincangan. Iklan tersebut mendapat kecaman dari daerah yang disebut dala iklan. Daerah yang kemiskinanya dieksploitasi menolak, bahwa bukan hanya karena sekedar harga diri, mereka menolak karena tidak ingin, keadaannya didramatisir dan dimanfaatkan demi kepentingan politik atau bisnis apapun.

Bukankah kita tahu, bahwa sejatinya menolong ataupun memberikan simpati harusnya tidak semerta-merta merenggut harga diri orang tersebut, tidak pula harus dipertontonkan dan diberitahukan kepada khalayak ramai. Dan dalam hal apapun, kemiskinan dan kesedihan harusnya tidak patut dijadikan komersialisasi kepentingan.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Ismeirita
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (1)

E
el

Suka sekali gaya bahasa nya, mas saya izin ya membagikan tulisan nya. Izin juga memakai beberapa kalimat :)

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

2 + 3 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.