"Kami cinta Indonesia dan kami menikmati perbedaan budaya(Indra Sofian)"
Deretan bangunan tua tiongkok yang didominasi cat berwarna merah serta hiasan perpaduan warna kuning tersebut terlihat ramai oleh orang lalu lalang. Berjubel masyarakat datang silih berganti. Dari raut wajah yang terlihat, mereka sedang berduka. Benar, di tempat itu tertulis Rumah Duka Himpunan Tjinta Teman (HTT). Di sepanjang jalan Kalenteng, Kelurahan Kampung Pondok, Padang, Sumatera Barat ini terlihat sederetan karangan bunga yang bertuliskan Turut Berduka Cita Atas Meninggalnya Lhoe Sin Tjun pada Minggu 27 Oktober lalu.
Rumah Duka HTT yang dihiasi lampion putih dan lukisan naga tersebut merupakan tempat pelayat dan persembahyangan jenazah kaum Tionghoa. Namun tidak hanya kaum Tionghoa saja yang ikut melayat jenazah Lhoe Sin Tjun. Sekelompok ibu-ibu berjilbab juga ikut membaur di tengah keramaian itu. Kaum Melayu dan Keling juga terlihat disana.
Kelurahan Kampung Pondok ditempati oleh tiga etnis, yakni Tionghoa, Keling , dan Melayu (Chinkalma). Terbentuk sejak otonomi daerah pada tahun 2000, kelurahan ini merupakan gabungan dari lima kelurahan, yaitu kelurahan Tanah Kongsi, Kali Kecil, Pondok, Simpang Enam, dan Kampung Dobi.
Lin Johan, perempuan berambut ikal yang berperawakan agak tegas ini merupakan Ketua RT 02 RW IX, Kelurahan Kampung Pondok. Lin pangilan akrabnya, mengungkapkan bahwa ia memiliki tetangga dengan agama, budaya, dan latar belakang yang berbeda-beda. Namun mereka tidak pernah mempersoalkan hal tersebut, bahkan hal itu dijadikan sebagai ajang untuk saling bertemu ramah.
Rasa solidaritas antar etnis ini sudah terjalin sejak lama. Pernah pada saat reformasi tahun 1998, terjadi kerusuhan, aksi bakar-bakar yang dilakukan orang pribumi di luar kelurahan ini. Kemudian timbul inisiatif dari ketiga etnis membuat sebuah penutup jalan untuk menjaga keamanan di sekitar kelurahan. "Selama saya tinggal disini, belum pernah terjadi kerusuhan yang disebabkan oleh warga kelurahan ini." Lin bercerita di kedai nasi miliknya pada hari Kamis, 14 November lalu.
Tidak hanya masyarakat yang berdomisili di selingkungan Padang saja yang mengakui keharmonisan kelurahan Kampung Pondok. Keharmonisan kelurahan ini pernah diakui secara nasional pada tahun 2010 lalu. Buk Lin menjelaskan alasan terpilihnya kelurahan Kampung Pondok sebagai kelurahan terbaik tingkat nasional adalah karena pembauran antar budaya dan seni yang solid antar tiga etnis penghuni kelurahan. Pembauran budaya tersebut tampak pada pertunjukkan barongsai yang tidak hanya dilakoni oleh kaum Tionghoa saja. Kaum Melayu dan Keling juga ikut berpartisipasi dalam penampilan seni budaya tersebut.
Yani Zendate, perempuan keturunan etnis Keling paruh baya ini juga merasakan keharmonisan di tengah perbedaan di kelurahan ini. Yani telah bekerja selama 14 tahun sebagai pegawai pangsit di kedai milik seorang Tionghoa. Disini, Yani dan majikannya sudah berbaur seperti keluarga. Dia sering bercerita panjang bahkan berbagi solusi dengan majikannya.
Indra Sofian, pegawai kantor HTT juga mengakui keharmonisan tersebut. Namun tak jarang kaum minoritas pribumi ini merasa kecil hati karena sebahagian masyarakat sekitar mengangap kaum mereka sebagai warga negara asing. Padahal mereka memiliki identitas diri sebagai warga negara Indonesia. "Kami rakyat Indonesia dan cinta Indonesia," ujar laki-laki bermata sipit berkulit putih itu.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!