Saluak laka nan elok diukir pada dinding rumah gadang yang menyimpan ribuan warisan luhur bangsa di Minangkabau hingga Mentawai. Rumah adat yang megah ini merawat saksi-saksi sejarah yang tertinggal dari masa lampau untuk diceritakan pada anak cucu.
Jalan Diponegoro siang itu cukup lengang, sepeda motor yang lalu lalang hanya terlihat beberapa. Hujan badai yang menyirami Kota Padang membuat kendaraan pribadi maupun umum tak terlalu bergairah untuk memenuhi jalanan kota. Dibalik bunga melati yang bermekaran di taman kota, tampak bangunan khas adat Minangkabau yang berdiri megah dengan tujuh gonjong tajam menghadap langit. Bangunan yang biasa disebut rumah gadang itu merupakan museum kebudayaan yang memiliki ribuan peninggalan penting sejak zaman prasejarah di Minangkabau hingga Mentawai, Museum itu bernama Adityawarman.
Dibangun pada tahun 1974 di atas tanah seluas 2,6 hektar, akhirnya diresmikan 16 Maret 1977 oleh Mendikbud, Prof. Dr. Syarif Thayep pada saat itu dan dikelola oleh Pemerintah Daerah Sumatera Barat (Sumbar). Seperti beberapa museum yang ada di Sumbar, Musem Adityawarman juga menggunakan arsitektur bergaya rumah adat Minangkabau dengan beraneka ragam ukiran memenuhi setiap lekuk dinding bangunan. Desain ukiran Minangkabau umumnya terbagi atas tiga jenis berdasarkan inspirasi terbentuknya yaitu nama tumbuh-tumbuhan, nama hewan, dan benda-benda yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari.
Semua jenis ukiran tersebut diatas menunjukkan bahwa unsur penting pembentuk budaya Minangkabau bercerminkan kepada apa yang ada di alam. Sesuai dengan falsafah adat Minangkabau, Alam Takambang Jadi Guru. Desain-desain ukiran ini memiliki makna masing-masing berdasarkan motif dan luas bidang datar yang ditempatinya. Sementara letak ukiran di Rumah Gadang umumnya pada anjung rumah (bagian depan rumah), badan rumah, jendela, pintu dan bagian-bagian kecil lainnya. Pada ukiran jendela museum digunakan ukiran Saluak Laka, di bandul jendela menggunakan ukiran Itiak Pulang Patang, dan masih banyak ukiran-ukiran lain sesuai dengan filosofi masing-masing.
Arsitektur rumah adat cukup banyak dipakai sebagai desain gedung penting di Sumatera Barat, ini dimaksudkan untuk melestarikan dan menonjolkan ciri khas adat Minangkabau. Model desain Museum Adityawarman menyesuaikan dengan model rumah gadang kelarasan koto piliang yang ditandai lantai pada sayap kiri dan kanan bangunan lebih ditinggikan dari lantai yang lain. Dalam bahasa minang diistilahkan dengan baanjuang dengan model rumah yang disebut Gajah Maharam. Seperti disampaikan staf pelayanan pengunjung dan tamu museum, Ernawati, "Desain rumah gadang ini bertujuan untuk mencerminkan identitas orang Minangkabau" ujar wanita paruh baya berjilbab coklat itu, Selasa (19/11).
Museum Adityawarman berfungsi sebagai tempat menyimpan dan melestarikan benda-benda bersejarah seperti cagar budaya Minangkabau, Mentawai, dan Nusantara. Koleksi utama yang terdapat di Museum Adityawarman dikelompokkan dalam sepuluh macam jenis koleksi, yaitu Geologika/Geografika, Biologika, Etnografika, Arkeologika, Historika, Numismatika/Heraldika, FiloloÂgika, Keramologika, Seni Rupa dan Teknalogika. Selain itu juga ada ranji-ranji sistem adat di Minangkabau, seperti ranji garis keturunan, harato pusako (warisan), hubungan kekerabatan dan istilah-istilah masyarakat minang seperti Bundo Kanduang dan lain sebagainya.
Koleksi yang tersimpan dalam Museum Adityawarman hingga tahun 2012 mencapai 6.192 jenis. Ruangan bagian depan lebih mengedepankan ragam pakaian, makanan dan pesta adat minangkabau yang dipajangkan pada patung atau dibuatkan replikanya. Di lantai bawah dipajang koleksi budaya sejarah dan prasejarah, seperti peralatan-peralatan zaman kuno, fosil, alat transportasi kuno, alat musik dan awetan beberapa hewan. Bagian belakang museum dipajang miniatur rumah adat Minangkabau, jenis-jenis ukiran dan cagar budaya dari daerah Mentawai. Begitu banyak kekayaan yang tersimpan dalam bangunan megah ini, tapi sangat disayangkan bila sejarah penting ini diabaikan oleh generasi muda Indonesia.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!