Catatan Budaya

Tertawa

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Sabtu, 26 Oktober 2013 20:51 WIB • 👁 1.740 Pembaca

"Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang", Jargon andalan milik grup lawak Warkop DKI ini mengindikasikan kebebasan untuk tertawa. Manusia mengenal tawa sejak bayi. Walau diawali dengan tangisan, kehidupan bayi didominasi tawa. Beranjak dewasa, manusia pun mulai "memilih" hal-hal yang memancing tawa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tertawa itu ungkapan rasa gembira, senang, geli, dan sebagainya dengan mengeluarkan suara (pelan, sedang, atau keras) melalui alat ucap. Untuk menghasilkan suatu, tawa harus ada beberapa komponen, yaitu "sesuatu" yang lucu, rasa gembira, respon otak yang baik dan alat ucap yang sehat.

Satu fakta mengenai tertawa adalah sifatnya yang menular. Otak akan merespon setiap suara tawa yang didengar, respon ini lalu mengirimkan stimulus bagi otot wajah untuk menampilkan ekspresi kegembiraan. Alhasil, setiap mendengar orang lain tertawa, kita juga akan ikut tertawa atau setidaknya tersenyum.

Selain menular, tertawa juga bersifat universal. Dimanapun, tertawa menjadi alat komunikasi yang dapat dimengerti semua orang sebagai sebuah ungkapan kegembiraan. Tidak hanya saat melihat atau mendengar hal-hal lucu, perasaan malu pun terkadang dapat menjadi penyebab seseorang tertawa.

Namun saat ini, kebiasaan tertawa menjelma menjadi produk yang dikomersilkan. Tertawa bertransformasi menjadi komoditas berharga untuk mengisi kantong uang. Hampir semua stasiun televisi menayangkan acara komedi demi rating tinggi yang berimbas pada pendapatan iklan. Namun disayangkan, beberapa konsep yang ditawarkan pada acara-acara tersebut belum sepenuhnya mampu menampilkan lawakan yang segar nan cerdas.

Mayoritas tayangan komedi lebih banyak menawarkan jenis slapstick comedy, blue comedy dan insult comedy. Slapstick merupakan jenis lawakan fisik yang mudah dicerna dengan objek lawakan yang teraniaya dan menderita. Seperti memukul seseorang menggunakan sterofoam, menyiramkan tepung kepada objek derita, atau bahkan melempar pie ke wajahnya. Komedi jenis ini paling banyak ditemui di layar kaca.

Kita tahu bagaimana Andre OVJ mendorong jatuh Nunung OVJ ke tumpukan sterofoam dan penonton tertawa riuh melihatnya, padahal, mungkin saja Nunung menahan rasa sakit akibat jatuh di tengah tawa penonton. Lalu tidak jarang, Olga Syahputra menahan pundak Sapri, kemudian tiba-tiba datang Raffi Ahmad menyiramkan tepung ke wajahnya. Sedangkan tawa penonton pun makin terdengar renyah tanpa tahu perasaan terhina yang Sapri rasakan.

Selanjutnya, jenis Blue comedy. Blue Comedy adalah lawakan yang mengangkat tema seperti sex, libido, dan hal tabu lainnya. Sekarang banyak ditemui komedian yang "melencengkan" guyonan-guyonan yang sebenarnya memiliki makna tabu. Sebut saja Adjis Doa Ibu, comic yang memandu acara stand up comedy bertema blue nite di Marley SCBD. Padahal mungkin saja acara tersebut diunggah ke Youtube dan ditonton jutaan orang termasuk anak-anak.

Yang terakhir Insult Comedy. Jenis lawakan ini merupakan lawakan dengan kualitas terburuk. Insult Comedy adalah komedi yang disajikan dengan cara menghina dan merendahkan objek lawakan. Seperti halnya lawakan Olga Syahputra yang menghina Minus dengan kata "Dodol Codet" atau "Botol Kecap" hanya karena perawakannya yang mirip orang Papua. Belum lagi hinaan Raffi kepada Olla Ramlan ketika mengucapkan "Eh, Janda dengerin tuh". Entah apa yang menjadi kelucuan dari celaan seperti ini.

Walau sebenarnya lelucon-lelucon tersebut tidak lagi pantas ditayangkan, namun program komedinya tetap mendapat rating yang tinggi. Bukti bahwa masih banyak orang yang menonton dan menyukai lawakan jenis ini. Masih banyak orang yang suka tertawa melihat objek lawakan dianiaya, dihina, dan dipanggil dengan sebutan yang tidak pantas. Sangat menggelikan disaat zaman mulai maju dan pintar, namun masyarakatnya masih tertawa untuk hal-hal yang primitif. Akankah kita tetap memilih tertawa disaat orang menderita dan terhina?

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Doni Fahrizal
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

5 + 8 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.