Cerpen

Sapariah

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Sabtu, 26 Oktober 2013 20:41 WIB • 👁 1.809 Pembaca

Aku menghapus jejak dosa yang telah kubuat kemarin, minggu lalu, bulan lalu, dan beberapa tahun lalu. Aku menulisnya di tempat basah, aku harap akan hilang atau hanyut terbawa arus air. Aku sempat mengutuk diriku sendiri dengan umpatan bodoh yang kusadari itu memang bodoh. Riah, lilin merah dalam hidupku yang kubiarkan pergi begitu saja. Aku tak ikut campur atas deritanya karena Si busuk yang ku kutuki setiap hembus nafasku di bumi ini. Semoga dia, Si busuk itu tidak diberi ampun oleh siapapun juga, termasuk yang kuasa. Riahku pergi, Riahku pergi.

Namaku Warnida. Kata Sapariah kakakku, nama itu diberikan ibu satu jam setelah aku lahir kedunia. Aku bungsu dari dua bersaudara. Dan aku menyimpan Sapariah di dalam hatiku. Sapariah kakakku, wanita yang kukenal keras dan aku tak pernah mau mengobrol dengannya, tak pernah dalam bahasan apapun. Aku layaknya si bisu jika berhadapan dengan Riah, mulutku berat, entah itu karena terlalu sayang padanya, entahlah.

Kini, aku baru saja lulus dari universitas terkenal di Jawa Barat. Kemudian memustuskan untuk pulang dan hidup bersama keponakanku satu-satunya, Wahida. Kasihan Wahida, tak dapat kasih sayang ibunya. Akupun kini tak bisa lagi menyambung pembicaraan yang dulu telah dimulai Riah padaku. Riah telah pergi sejak kejadian itu, kejadian yang membuatku menyesal telah membenci Riah.

"Etek, ini kuburan ibu ya?" malaikat kecil itu mendongakkan kepalanya melihat aku.

"Iya, ayo kita doakan ibu."

***

"Aku tak sanggup mengurusimu, sebaiknya kau tinggal dengan Makdang. Mudah-mudahan dia mau menyekolahkanmu." Kata Riah seraya membereskan barang-barangku. Aku mengucek-ngucek mata setengah sadar. Aku kaget, terdiam. Baru saja aku bangun dari mimpiku yang indah semalam, tapi kenapa Riah membangunkanku dengan keputusan sial ini?

Sejak saat itu, entah kenapa aku mulai membenci Riah. Aku berharap besar pada Riah, selain dia, aku tak punya saudara kandung lagi. Dalam benakku mulai tumbuh pemikiran kalau Riah tak menginginkanku lagi, terlebih dia sudah punya anak dan suami yang menyita perhatiannya dan meluputiku.

Aku pikir Riah benar-benar tak punya perasaan. Tega membiarkan adik semata wayangnya diasuh orang lain, sementara ia masih ada. Secara ekonomi memang Riah hidup sederhana, apakah terlalu berat baginya memberi makan seorang aku?

Aku mau melupakan Riah, melupakan anaknya dan tentu juga suaminya. Tiba-tiba saja aku benci rumah ini, rumah peninggalan orang tuaku. Rumah yang dulunya sangat membuatku nyaman berada di dalamnya. Rumah, sekarang seperti ada serigala yang berkandang di dalamnya. Setiap malam mengaung dan jadi domba di siang harinya. Aku benci lulungannya, suara-suara busuk yang kudengar setiap kali malam. Setidaknya aku akan meninggalkan surga yang tiba-tiba jadi neraka ini setelah orang tuaku tiada. Setidaknya aku tak mendengar lagi lulungan seperti anjing kelaparan ditengah malam yang selalu menghantuiku. Aku benci, aku membenci Si busuk.

"Baik-baik di rumah orang, lakukan pekerjaan rumah dan tolonglah

Mintuo

disana. Jangan pernah bertengkar dengan anaknya, bagaimanapun kau tetaplah tinggal di rumah orang, meskipun itu Mamakmu."

Aku terdiam. "Tak usah kau urusi aku lagi," batinku. Ku ambil tas barangku dari tangan Riah dan berbasa-basi mencium tangannya sebagai tanda perpisahan. seketika aku merasa ada sesuatu yang jatuh ke kepala menembus rambutku. Hangat, sepertinya jatuh agak tiga kali. Masa bodoh! Saat aku kembali mengangkat kepalaku, seketika saja Riah berpaling. Riah benar-benar tak menginginkanku lagi. "Tenang Riah, aku pergi."

Makdang menjemputku di terminal tak jauh dari rumahnya. Aku menatap laki-laki bertubuh ceking tinggi itu, dia tampak begitu baik dan ramah. Tapi aku harus tetap hati-hati, biasanya kerabat memang begitu, diawal saja baiknya, tapi jika sudah tinggal di rumahnya, aku bisa-bisa jadi babunya.

Rumah Makdang cukup besar, bertingkat dua. Halaman rumahnya dibeton dengan semen. Di depannya ada sungai kecil yang mengalir lancar dengan jembatan kayu penghubung jalan. Antara rumahnya dan rumah tetangga berdekatan dan tak ada sekat. Daerah tempat tinggal baruku ini adalah daerah kaki gunung yang permukaan tanahnya tidak rata, jadi aku tinggal di lurah (jurang) yang dimanfaatkan warga sekitar untuk tempat tinggal dan mendirikan rumah.

Aku dikenalkan degan istrinya yang kupanggil Mintuo dan ketiga anaknya, Adi, Farhan dan Ena. Ena sebaya denganku, dia juga akan duduk di kelas sepuluh.

"Ida, kami juga keluargamu, anggaplah rumah ini juga rumahmu." Kata Makdang, yang lain hanya mengangguk mendengarnya. Lantas aku juga ikut mengangguk menirukan mereka. "Kamarmu di atas, disamping kamar Ena".

Mintuo mengajakku ke lantai dua dan menunjukkan kamarku. Kamar baruku ini nyaman, kasurnya cukup untuk satu orang. Mintuo bilang, dia dan Makdang akan mengurus semua keperluan sekolahku, mulai dari perpindahan dan lainnya. Aku akan sekolah di tempat yang sama dengan Ena.

Aku harus memejamkan mata dan menerima semua ini, sekolah baru, teman baru, dan keluarga baru, kemudian membuka kembali mata ini seolah-olah aku memang terlahir disini. Aku membuka tas barangku, kudapati sebuah sarung baru yang bertuliskan pesan dari Riah. Kira-kira isinya menyuruhku untuk memakainya sebagai teman tidur. Riah memang suka menuliskan pesan kepadaku, karena aku jarang sekali berbicara dengannya. Aku jadi ingat kebiasaan seorang ibu di Minang yang menitipkan sarung kepada anaknya jika hendak pergi merantau, pengobat rindu. Riah, apa kabar kau disana? Ah, sial.

***


Sudah hampir empat tahun aku tinggal di kota ini, kota kecil di selangkangan gunung Merapi dan Singgalang. Makdang dan keluarganya begitu elok, meskipun hanya menumpang, aku tetap diberi pendidikan yang layak seperti anak-anaknya. Ternyata kerabat tak sekerdil yang pernah kukira. Sekarang aku akan meninggalkan kota ini, dan hijrah ke kota kembang karena aku dapat beasiswa bantuan pemerintah untuk melanjutkan kuliah.

Tapi, seketika aku ingat Riah, kakak semata wayang yang belum ku beri tahu kabar gembira ini. Riah, lilin merah yang ku taruh rasa kecewa padanya. Bagaimana kabar Riah? Anaknya? Tiba-tiba aku merindukannya setelah beberapa lama berusaha membencinya. Rasa benci itu kusadari perlahan menjadi rindu yang kurasakan belakangan ini, berubah menjadi rasa cemas. Aku mencemaskan keadaan Riah kali ini. Si busuk iparku itu apa kabarnya?

Memori itu kembali lagi, ketika aku menjerit dalam hati menyaksikan dari lubang pintu kamar menggendong wahida. Riah dipukuli, diludahi, dan dihardik dengan makian yang tak kutahu ujung perkaranya. Itu tak hanya sekali, sudah dua, tiga, empat atau mungkin lebih dari sepuluh kali. Tidak hanya malam hari, siang haripun iparku yang busuk itu tak segan-segan membantai kakakku. Aku tahu Riah wanita kuat, tapi Ia tak pernah melawan suaminya. Aku benci Riah begitu patuh pada Si busuk itu meskipun Ia dalam keadaan seperti kerasukan setan. Tiba-tiba air mataku jatuh, ini pertama kali untuk Riah setelah bertahun-tahun lalu.

"Ida, Ida," Ena membuyarkan lamunanku."Ada apa Ena?"

"Ayah menunggumu di ruang tamu.""Ada apa Makdang, Mintuo?" Tanyaku, Makdang menyuruhku duduk dan sepertinya membaca pikiranku."Riah, menitipkanmu kepada Makdang empat tahun lalu bukan tanpa alasan, nak. Riah sangat khawatir karena kau selalu jadi incaran suaminya setiap malam menjelang. Menurut ceritanya, sudah tiga kali ia memergoki suaminya masuk ke kamarmu secara diam-diam. Riah tak ingin jika kau diperulah oleh suaminya." Aku ngeri sekaligus jijik mendengar cerita Makdang. "Ketahuilah Ida, Riah itu sangat memikirkanmu, setiap bulan ia selalu menanyakan kabarmu, namun melarangku untuk memberitahumu, setiap lebaran ia juga menyuruh Makdang untuk membiarkanmu tetap disini dan tidak pulang."Ku peluk kain sarung yang diberikan Riah empat tahun lalu. Aku peluk erat-erat, aku menyesal tak pernah memakainya. Aku harus bersiap-siap pulang.Aku sampai di gang depan rumahku, aku berlari mengejar pintu rumah dan memanggil-manggil nama Riah. Tapi yang keluar malah tetanggaku yang tersenyum pahit. Aku lantas terdiam, melangkah diam memasuki rumah. Aku lihat beberapa tetangga duduk di samping dipan yang di atasnya ada Riah terbaring lemah. Aku terduduk, tiba-tiba seluruh badanku rasanya tak bertulang, sakit. Kakak semata wayangku badannya kurus sekali, penuh bekas luka. Sedetik terlewatkan olehku kala memeluknya, aku merasakan jantung Riah berhenti berdegup. Ia menutup Mata. Riah hanya menungguku, menahan sakitnya selama ini untuk melihatku setelah berpisah empat tahun lamanya. Terimakasih Riah, aku akan merawat anakmu.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Rahmi Jaerman
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

2 + 6 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.