Sewaktu dalam kandungan, ibu Radit memotong ekor ikan besar yang didapat dari laut. Maka, Radit lahir dengan sebelah kaki yang tidak normal.
Perlahan Matahari mulai terbenam di ufuk barat, seperti biasa Pantai Gajah selalu ramai dikunjungi oleh berbagai kalangan masyarakat seperti mahasiswa, anak-anak, orang tua dan kalangan lainnya. Pada Sabtu sore, 21 September lalu, sekelompok anak berumur 8-13 tahun tengah asyik bermain kapal-kapalan berbahan dasar gabus diantara bebatuan tepi Pantai Gajah 3. Mereka adalah Sidiq, Pedri, Nando, dan Radit. Ketika ombak pasang, mereka bersorak kegirangan. Kapal-kapalan yang mereka letakkan diantara bebatuan hanyut terbawa ombak pasang dan mereka akan bersorak sambil berlari mengejarnya. "Yee.. Kapa den, kap-pa den!" Kata-kata itu terlontar secara berulang-ulang.
Dalam kelompok itu, Radit adalah anak yang paling muda diantara kawanan lainnya, sekarang ini ia menginjak usia 8 tahun. Anak dari Pasangan Siman (50 tahun) dan Simar (48 tahun) ini terlahir dengan satu kaki normal, yaitu kaki sebelah kiri. Kaki hanya tumbuh sebatas lutut, yang ikut bergoyang-goyang ketika Radit melompat-lompat diatas ombak yang menyapu bibir pantai.
Radit merupakan anak bungsu dari enam bersaudara. Kakak pertamanya sudah meninggal sedangkan yang kedua sudah menikah. Kakak ketiga bernama Resti, berumur 20 tahun dan terlahir sebagai seorang Tuna Wicara. Resti sekarang ini menuntut ilmu di Sekolah Luar Biasa (SLB) Ulak Karang. Di bawah Resti, ada Ani. Ia sekarang menginjak bangku kelas X di SMKN 8 Padang. Selanjutnya, Pedri, Kakak terakhir Radit, yang umurnya terpaut lima tahun di atas Radit.
Radit dan orangtuanya tinggal di Gajah 4, di gang para nelayan. Hanya berjarak beberapa meter dari pantai. Ayah Radit bekerja sebagai tukang bangunan di SMKN 8 Padang, sedangkan ibunya bekerja di Rumah Makan Bareh Solok di jalan Gajah 1. Sehari-hari Radit dan Abangnya Pedri bersekolah di SDN 25 Padang. Radit duduk di bangku kelas 1 SD dan Pedri kelas 5 SD. Mereka beserta teman-temannya mengaku juga sering bermain-main di pantai Gajah pada sore hari. "Kadang kami main sampai Maghrib. Apalagi sekarang hari Sabtu," ungkap Sidiq.
Cerita dibalik kaki Radit sedikit berkaitan dengan mitos yang masih dipercaya oleh sebagian masyarakat lokal. Sewaktu dalam kandungan, ibu Radit memotong ekor ikan besar yang didapat dari laut. Maka, Radit lahir dengan sebelah kaki yang tidak normal. "Waktu itu saya masih dalam kandungan," ujar Radit. Wajahnya sedikit menunjukan gurat kesedihan.
Selain kaki, jari yang dimiliki oleh Radit juga berbeda dengan yang dimiliki orang kebanyakan. Jari tangan kanannya hanya berjumlah tiga. Radit yang rajin bersekolah tak kesulitan menulis dengan kondisi jari tak lengkap ini. Rasa minder dan mengeluh tentang keadaan fisikpun tak pernah mampir dalam dirinya. Ia suka memanjat pohon dan berenang seperti anak-anak kebanyakan. Mengungguli teman-temannya ketika berlari juga adalah salah satu kebanggaannya.
Adakalanya Radit sering merasakan sakit dan ngilu pada kakinya. Terlebih ketika kakinya tersenggol. Ia mengeluhkan sang Abang yang sering menjahilinya. "Saat sedang tidur Abang sering menyenggol kaki saya," paparnya.
Sudah dua kali Radit mendapat bantuan pengobatan ke Jakarta, tetapi bantuan tersebut tidak pernah diambil orangtuanya. "Nanti saya dijual mereka." Ia bertutur polos. Ia hanya meminum obat yang dibeli di apotek maupun rumah sakit.
Senjapun mendekat. Menulusuri pasir-pasir Pantai Gajah, Radit melompat-lompat dengan kaki kirinya. Senyum mengembang dengan tangan kiri membawa sebuah kapal-kapalan gabus. Kapal-kapalan yang sedari tadi ia pertahankan dari kejaran ombak di sore hari. Ia dan ketiga teman sepermainannya meninggalkan bibir pantai dengan canda dan tawa.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!