Feature

Dari Istana Siak untuk Negeri

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Sabtu, 26 Oktober 2013 20:25 WIB • 👁 1.676 Pembaca

Dia dihormati bukan karena kedudukannya sebagai raja, tetapi lebih-lebih karena satunya kata dan perbuatan. Dia mendukung negara RI tidak hanya dengan maklumat atau pernyataan politik, tetapi juga dengan menyumbangkan harta miliknya dengan jumlah besar kepada negara. –J. B. Sudarmanto, dalam Jejak-jejak pahlawan: perekat kesatuan bangsa Indonesia–

"Dengar ngak tadi? Salah satu piringnya diputar. Waah bagus banget."

"Yah ! Aku nggak dengar, bisa diputar lagi nggak?"

Selentingan percakapan dua orang pengunjung ini terdengar biasa-biasa saja. Tapi merupakan sebuah kesempatan emas untuk bisa mendengar alunan Mozart dan Bethoven dari alat musik jenis gramafon yang disebut Komet ini. Hanya tamu-tamu terhormat yang diperkenankan mendengar alat musik klasik tersebut. Komet yang hanya ada dua di dunia ini merupakan salah satu benda bersejarah peninggalan Istana Siak Sri Inderapura, Riau.

Istana Siak kokoh berdiri di tengah-tengah rimbunan hutan sawit. Bangunan bercorak Melayu, Arab dan Eropa ini merupakan karya seorang arsitek dari Jerman, Vande Morte namanya. Istana Islam ini mulai dibangun pada tahun 1889 pada masa pemerintahan Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin.

Dalam silsilah kerajaan, Istana yang juga dijuluki sebagai Istana Matahari Timur ini memiliki 12 orang raja. Raja yang terakhir bernama Tengku Sulung Syarif Kasim bergelar Assyaidis Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin, lalu dikenal sebagai Sultan Syarif Kasim Tsani (Sultan Syarif Kasim II). Semasa hidupnya, ia tidak dikaruniai seorang anak pun dari istri pertama Tengku Agung Sultanah Latifah, maupun istri kedua Permaisuri Mahratu. "Karena Sultan terkhir tidak memiliki keturunan maka pemerintahan diserahkan kepada negara." Dedi salah seorang pemandu museum bertutur, Kamis 29 Agustus lalu.

Siak merupakan kekuatan bahari yang sangat diperhitungkan di pesisir timur Sumatera dan Semenanjung Malaya. Kebesaran kerajaan Siak dapat terlihat pada kemewahan koleksi-koleksi istana. Beberapa diantaranya terdiri dari kramik-kramik yang didatangkan khusus dari Perancis, cermin permaisuri, alat musik Komet, tangga berbentuk spiral, lampu-lampu dari permata dan lain sebagainya.

Semasa pemerintahan Kesultanan Siak, rakyat hidup makmur dan sejahtera. "Kalau orang dulu masih hidup, ditanya lebih suka sekarang atau dulu pasti mereka menjawab enaknya hidup di zaman Sultan." Dedi kembali menjelaskan. Dedi bercerita orang-orang pada zaman Sultan sering diberi bungkusan-bungkusan hadiah dari kerajaan. Walaupun pada masa Belanda banyak daerah yang tertindas, tapi pada masa itu di Siak tidak pernah terjadi pergolakan. "Siak ini anak emas Belanda. Dimana-mana terjadi pergolakan tapi di Siak adem-adem saja," tuturnya.

Namun demikian, Sultan ke-12 ini sangat menentang Belanda. Ia tidak menyukai Belanda yang terlalu ikut campur dalam urusan kerajaan. Pada masa itu tak henti-hentinya Sultan menyuarakan kepada rakyat Siak untuk tetap ikut dalam lingkar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pada pemerintahan Raja terakhir, Sultan Syarif Kasyim II, Istana Siak menyatakan bergabung dengan pemerintahan Republik Indonesia. Tepatnya pada tahun 1946, sultan terakhir menyerahkan mahkota asli kerajaan yang terbuat dari lapisan emas beserta sebahagian hartanya berupa uang sebesar Tiga Belas Juta Gulden kepada pemerintah Indonesia untuk membantu melawan penjajahan.

Sejak menyatakan diri menjadi bagian dari NKRI, Sultan Syarif Kasyim beserta istri, Permaisuri Mahratu, pindah ke Jakarta. Pemerintahan di Istana berhenti, Sultan kemudian menjadi penasehat pribadi presiden pertama RI, Ir. Soekarno sampai akhirnya wafat pada tahun 1968. Sultan Syarif Kasyim II diberi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1998 dengan anugerah tanda jasa Bintang Mahaputra Adipradana.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Gumala Resti Halin
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

7 + 2 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.