Umum

Menuju Kampus Ideal; Empati Minus

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Sabtu, 26 Oktober 2013 01:45 WIB • 👁 4.136 Pembaca

Kampus adalah sebuah kompleks atau daerah tertutup yang merupakan kumpulan gedung-gedung universitas atau perguruan tinggi sedangkan ideal adalah sesuai dengan apa yang dicita-citakan atau yang diidam-idamkan. (www.wikipedia.org)

Pemahaman mengenai kampus ideal dapat dilihat dari menaati sistem yang telah disepakati bersama, misalnya memiliki fasilitas yang mendukung mahasiswa dalam beraktifitas. Baik itu layanan WIFI, atau sekedar tempat makan. Pernah Prof. Dr. Mestika Zed, M.Hum mengemukakan bahwa kampus ideal adalah kampus yang dapat menciptakan suasana belajar yang nyaman, baik dan benar-benar mencerminkan kampus. Berbeda pula, bila kompleks pasar yang bernuansa hiruk-pikuk orang berjual beli, atau kompleks terminal, maka yang terfikirkan adalah suasana orang-orang naik-turun bus, atau sekedar angkutan masa yang ngetem. Sedangkan nuansa kampus yang terfikirkan adalah mahasiswa yang berkumpul untuk berdiskusi, belajar di kelas dan sebagainya. Sebuah pemahaman yang mungkin bisa kita sepakati sebagai pengertian kampus ideal.

Menyambung pengertian kampus ideal, UNP agaknya sedikit menyimpang. Walaupun sebenarnya kampus ideal sangat susah untuk dijumpai, UNP sepertinya sedang berusaha untuk itu. Bagaimana tidak, sebelum tahun ajaran 2013/2014 di sepanjang jalan kampus dari gerbang 2 UNP (gerbang dekat BNI) menuju taman FIS banyak sekali penjaja makanan mulai dari soto sampai bakso bakar mangkal disana. Ini sebenarnya tidak mengganggu. Disamping memudahkan mahasiswa dapat jajan dengan mudah, juga membantu pedagang memutar uang setiap harinya. Akan tetapi, perlu diingat kampus ideal adalah kampus yang sebenarnya. Bukan dicampur adukkan dengan suasana pasar maupun terminal dadakan. Entah dari kapan "pasar kuliner" itu atau terminal dadakan itu dibiarkan beroperasi di depan kampus, yang jelas sungguh sangat tidak enak dilihat dan juga membisingkan. Ilmu psikologi lingkungan menjelaskan bahwa kebisingan akan mempengaruhi konsentrasi belajar.

Namun hari ini, sebuah fenomena unik datang dari pelataran sepanjang jalan FIS menuju gerbang dua UNP. Tepat di saat pertama kali penulis menjajakan kaki setelah libur panjang, "Pasar kuliner" yang dulunya ramai kini sudah tidak ada dan diberi tembok pembatas. Tentu banyak anggapan tentang ini, entah itu adalah perasaan bangga pada kampus yang semakin mengerti akan bagaimana kampus ideal, atau bahkan kekecewaan karena tempat makan biasanya tidak ada lagi. Berfikir positif, hanya itu yang bisa dilakukan pada saat melihat pembangunan tembok yang memisahkan kompleks kampus dengan perumahan dosen disampingnya. Hari ini, para pedagang itu seperti "dibumihanguskan". Sebenarnya hal ini bagus, mengingat bahwa kampus ideal tersebut adalah kompleks yang tidak dicampur adukkan dengan keadaan lain. Tapi ternyata pembangunan tembok itu, bukanlah program terbaru dari UNP. Melainkan pekerjaan dari warga perumahan dosen tadi (hal ini penulis dapatkan dari salah seorang dosen di UNP). Lalu apakah penggusuran pedagang kaki lima tersebut juga ulah para dosen tersebut? Kalau begitu, bagaimanakah UNP mengartikan konsep kampus ideal?

Mengingat UNP sedang berusaha menjadi kampus ideal, mulai dari pembangunan gedung baru sampai penerapan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Tidaklah etis jika kemudian UNP tidak memperhatikan kondisi fisik kampusnya. Anggap saja penggusuran tersebut dilakukan oleh pihak UNP, tetapi apakah UNP tidak memikirkan akibat yang akan ditimbulkan kemudian? Penggusuran tanpa solusi tentu akan menciptakan masalah baru. Dari sini terlihat, UNP seakan lupa dengan slogannya sendiri, Alam Takambang Jadi Guru. Tidakkah UNP pernah mendengar kabar rektorat IPB yang didemo mahasiswa dan pedagang kecil karena tempat mereka digusur dari lingkungan kampus tanpa ada solusi dari pihak kampus.

Keprihatinan akan kondisi UNP yang seperti ini ditambah pula dengan jawaban salah seorang pedagang mpek-mpek ketika ditanya seperti apa UNP menindak lanjuti kondisi ini. Jawaban yang diberikan yaitu UNP tidak memberikan opsi tempat berjualan yang lebih layak pada mereka. Alhasil mereka akan berjualan dimanapun asal memungkinkan. Jika tidak ada solusi yang lebih baik setelah penggusuran ini maka kedaan yang tentram tentu tidak akan bisa bertahan lama. Contohnya saja mulai dari keluhan yang akan di lontarkan mahasiswa, karena tempat makan biasa mereka tidak ada lagi sampai mungkin demo yang terjadi serupa dengan kampus lain dengan masalah sama. Jika sudah begitu, maka habislah UNP. Rusak citra kampus pendidikan yang sudah dipupuk dari lama ini.

Lalu apa solusinya? Jika UNP bisa lebih bijak, tentu UNP pernah melihat kampus-kampus lain yang memiliki kawasan kafe maupun tempat berbelanja mahasiswa yang disediakan. Walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa kampus ini berada di daerah ramai aktifitas, yang mungkin tidak seperti Unand yang berada jauh dari Pasar Baru atau STKIP yang letaknya jauh dari jalan raya, bahkan IAIN Imam Bonjol dan Bung Hatta yang letaknya berada 5 meter dari jalan sehingga tidak terfikirkan untuk menyediakan tempat yang lebih baik untuk mahasiswa menyantap batagor, sandwich, maupun mpek-mpek tanpa mengurangi nilai estetika kampus adalah kesalahan besar. Karena, ada satu kawasan yang bisa dijadikan kompleks berbelanja bagi mahasiswa dan dosen. Tepatnya berada di belakang rektorat lama. Sebuah kawasan yang saat ini hanya dijadikan tempat parkir para dosen tentu tidak ada salahnya jika halaman yang saat ini hanya dihuni mobil-mobil dan motor-motor juga dijadikan tempat berjualan para pedagang kecil.

Jika UNP memindahkan para pedagang kecil ke area kantin tersebut tentu akan memperlihatkan usaha UNP menjadi kampus ideal, selain membuat mahasiswa tidak kecewa karena tempat berbelanjanya layak, hal ini tentu juga membuat para pedagang tersebut tidak kehilangan mata pencahariannya. Tapi nasi sudah jadi bubur, para pedagang sudah di gusur dari kawasan kampus. Maka yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa dan berharap para pedagang tersebut tidak datang membawa masalah. Satu lagi, setelah ini setidaknya UNP turut membuat plang "dilarang berjualan di lingkungan kampus" agar tidak ada pedagang baru lagi yang datang hendak berjualan di dalam kampus.

Sebuah perubahan dimulai dari yang kecil dan berada dekat dengan kita, jadi mengapa harus bertindak terlalu jauh sebagai kampus yang bermutu sedang kondisi fisiknya belum terurus dengan baik. Dengan berfikir lebih dahulu tentu saja akan membuat tindakan kita lebih berarti.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Najla Anissa Fatin
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

8 + 5 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.