Catatan Budaya

Nasionalisme

Oleh:
Penulis Opini / Kolumnis
📅 Rabu, 28 Agustus 2013 21:32 WIB • 👁 1.551 Pembaca

Seorang kawan sempat melontarkan beberapa statement mengenai nasionalisme. Statement itu dikeluarkan secara spontan ketika menonton pertandingan sepakbola, dimana yang berlaga saat itu adalah antara pemain Indonesia dengan negara lain. Seperti biasa sebelum pertandingan dimulai, lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Teman itu pun ikut menyanyikan lagu Indonesia Raya sampai selesai. Setelah lagu usai, saat itulah statementnya muncul. "Dia itu tidak nasionalisme, lihat saja, dia tidak menyanyikan lagu kebangsaan", ia menunjuk pemain berkulit gelap, yang tidak lain adalah pemain tim nasional Indonesia.

Alangkah tidak adilnya seorang teman tersebut. Apa mungkin rasa nasionalisme seseorang bisa ia lihat dari hal sepele seperti itu? Apakah dia tahu alasan pemain timnas itu tidak melafalkan lagu Indonesai Raya? Bukankah ia akan sangsi jika seandainya pemain timnas itu menyanyikan lagu Indonesia Raya di dalam hatinya?

Kasus lainnya, menjelang Hari Ulang Tahun kemerdekaan Indonesia, media beramai-ramai memberitakan serba-serbi HUT RI. Tidak sedikit yang sengaja mengambil lokasi liputan di daerah perbatasan. Mereka menggambarkan keseharian masyarakat di perbatasan. Ada yang mengatakan rasa nasionalisme masyarakat perbatasan dipertanyakan karena sebagian memilih mengunakan ringgit ketimbang rupiah, lebih memilih menjual penghasilan ke negara tetangga ketimbang ke negaranya sendiri, bahkan ada yang memilih bekerja ke Malaysia.

Pada Januari 2013 lalu, penulis sempat berdiskusi dengan mahasiswa asal Tarakan, Kalimantan Timur. Katanya cerita yang ditampilkan di media itu benar. Tapi bukan berarti rasa nasionalisme mereka luntur. Itu terpaksa dilakukan karena tuntutan kebutuhan. Masyarakat lebih memilih menjual ikan hasil tangkapan dan hasil tani mereka ke Malaysia, karena dihargai lebih mahal. Selain itu, akses juga mempengaruhi. Mereka lebih dekat ke negara tetangga ketimbang harus menempuh perjalanan berkilo-kilo untuk mendapatkan bahan logistik.

Memang, rasa nasionalisme terkait erat dengan keberadaan tanah air dan daerah kelahiran. Karena itu terbentuk atas rasa sentimen kebangsaan yang dirasakan dari bangsanya. Maka, bila keinginan untuk mempertahankan nasionalisme itu tetap ada, tekad mengobarkan kembali nasionalisme itu lah yang menjadi sandaran. Seperti halnya memulai perubahan dan bertindak dari diri sendiri. Selain itu perlu juga untuk mengetahui: apa dasar pola timbul-tenggelamnya rasa nasionalisme di masyarakat? Apa penyebab perubahan mindset masyarakat tentang nasionalisme?

Ada hal lainnya yang mungkin salah kaprah mengenai nasionalisme. Seperti terlalu sering menggunakan bahasa asing maka dinilai tidak nasionalisme, tidak mengikuti upacara bendera tidak nasionalisme. Lalu bagaimana dengan orang yang hidup di daerah perbatasan sana, bagaimana cara mengukur nasionalisme mereka? Bukankah dengan mereka masih menjadi warga negara Indonesia sementara dilema akan kebutuhan terus menghantui, sudah membuktikan kecintaannya terhadap tanah air?

Nasionalisme mungkin memang krusial, tapi ia mestinya tetap harus rasional. Perasaan kecintaan terhadap apapun, apalagi hal besar seperti nusa dan bangsa tidak saja begitu mudah digembor-gemborkan secara gamblang, bahwa "saya nasionalisme, dan dia tidak," atau penjurian yang semacamnya. Bukankah tidak ada yang berhak mengukur nasionalisme seseorang, melainkan tindakan?

Barangkali kata nasionalisme harus lebih diuniversalkan lagi. Jangan sampai orang dapat dengan mudahnya menganggap si A atau si B tidak nasionalisme hanya karena hal sepele. Nasionalisme bukanlah bahasa kosumsi yang mudah dicerna dengan gaya hidup dan kebiasaan. Nasionalisme muncul dari hati yang bersedia sepenuhnya mengabdi kepada tanah air.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Hasduni
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

8 + 1 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.