Angga Azani Ramadhan dan tiga
rekannya memasuki gerbang
jurusan Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK). Dua sepeda motor yang mereka kendarai langsung menuju lokasi parkir. Lokasi parkir tersebut berada di samping kanan gedung. Siang itu, Sabtu (16/2) jejeran kendaraan terlihat memenuhi parkiran. Mereka pun memutuskan untuk memarkirkan kendaraanya di pojok parkiran. Sebelum pergi, tidak lupa Angga mengunci stang sepeda motor Vario putih berplat BM 4061 MS miliknya.
Setelah memastikan kendaraanya terkunci, Angga pun bergegas memasuki gedung jurusan. Hari itu mereka hendak menemui Drs. Nirwandi, M.Pd selaku pembina Unit Kegiatan Mahasiswa Korps Suka Rela (UKM KSR) UNP. Di dalam gedung jurusan mereka pun bersua dengan orang yang dicari. Tujuan mereka hendak mendiskusikan permasalahan organisasi. Setengah jam berselang, Angga dan ketiga rekannya pun minta undur diri.
Kepanikan terjadi seketika Angga tiba di tempat parkiran. Motor yang ia parkirkan setengah jam lalu tak berada di tempatnya. Angga pun bertanya dengan mahasiswa yang berada disana. Namun mahasiswa yang ia tanya mengaku tidak begitu memperhatikan motor yang Angga cari. "Saat itu saya benar-benar panik. Bagaimana saya menjelaskan kepada orang tua jika seandainya motor itu benar hilang," ujar Angga, Rabu (12/6).
Hampir semua mahasiswa yang berada di lokasi parkir tidak mengetahui keberadaan motor Angga. Akhirnya sadarlah ia jika motornya telah hilang. Orang-orang sekitar pun mulai berkerumunan. Terdapat juga beberapa dosen yang datang. Drs. Nirwandi pun turut keluar dari gedung dekanat FIK. Namun tidak ada yang bisa berbuat banyak. Motor Angga telah hilang.
Pada awalnya Angga tidak bisa terima atas nasib yang menimpanya. Menurutnya ia telah memarkirkan kendaraan pada lokasi yang telah disediakan pihak kampus dan seharusnya lokasi tersebut harus benar-benar aman. "Ternyata lokasi yang disediakan itu tidak aman, satpam saja tidak ada berjaga di lokasi parkir," kata Angga.
Pihak kampus dan Satuan Pengamanan kampus sempat memberikan penjelasan. Mereka berjanji akan berusaha untuk menyelidiki dan mencari motor yang hilang itu. Namun, penjelasan tersebut tidak membuat Angga tenang, karena sampai sekarang tidak ada kejelasan terkait kehilangan motornya itu. "Kita akan berusaha mencari dan menindak lanjuti kasus ini," ujar Angga sembari mengingat perkataan pembina UKM KSR. Selain melapor ke pihak keamanan kampus, Angga juga melaporkan kasus kehilangan yang ia alami ke pihak berwajib. Namun, sejak laporan ia layangkan sampai sekarang tidak ada kejelasan.
Nasib sama juga pernah dialami Robi Kurniadi. Mahasiswa Jurusan Geografi ini kehilangan sepeda motor akhir November 2012 lalu. Pagi itu Robi hendak membantu dosennya mengedit makalah di ruang jurusan. Ia pun memarkirkan kendaraannya di parkiran Fakultas Ilmu Sosial. Beberapa jam kemudian, ketika ia hendak pulang, motor Suzuki Satria FU berplat BH 3986 CH miliknya tidak ada di lahan parkir. Ia pun panik. Beberapa mahasiswa yang menyaksikan turut membantu mencari motornya di sekitar fakultas. "Meskipun sudah dicari-cari, tetap saja tidak ketemu," ujar Robi, Sabtu (20/7).
Veri Ardiansah dan Fajar Wahyu Putra juga pernah mengalami nasib serupa. Mereka mengalami kehilangan di area kampus. Meskipun sempat melaporkan ke beberapa pihak; yakni pihak kampus, keamanan kampus dan pihak kepolisian, namun tetap saja tidak ada hasilnya. Veri mengatakan jika melapor hanya bentuk formalitas, karena tidak ada tindak lanjutnya.
Kehilangan yang menimpa Veri lebih miris lagi. Motor Suzuki Satria FU yang hilang tersebut merupakan motor temannya. Siang itu ia hendak menemui dosen di Jurusan Teknik Elektronika. Jarak kontrakan dengan kampus cukup jauh, hingga akhirnya ia memutuskan untuk meminjam motor temannya. Namun malang tak bisa dihindari. Motor yang semula ia parkirkan di parkiran depan Fakultas Teknik itu renyap. Setelah kehilangan tersebut, Veri terpaksa mengganti motor temannya tersebut.
Tidak Hanya Kendaraan
Pada 22 April lalu, Satuan Pengamanan (Satpam) UNP berhasil menangkap pelaku pencurian helm. Malam itu, Afit salah satu anggota Satpam UNP tengah melakukan patroli keliling kampus. Dengan menggunakan motornya, Afit mulai menjalankan tugasnya dengan melihat kondisi beberapa fakultas. Ketika melewati salah satu parkiran yang terletak di FIK, tepatnya parkiran labor FIK, Afit melihat dua orang bertingkah mencurigakan. Benar saja, kedua orang tersebut tengah mengambil helm yang terletak di salah satu motor. "Saat itu mereka tengah berusaha memotong tali helm dengan menggunakan pisau," ujar Afit.
KZ dan AR– kedua pelaku pencurian helm, mengaku telah merencanakan aksinya dari rumah. Di salah satu rumah Kompleks Monang, AR tengah menunggu kedatangan KZ. Mereka telah berjanji untuk pergi setelah maghrib. Tidak beberapa lama setelah maghrib, KZ pun tiba. Lalu setelah meminta izin ke orang tua AR, mereka pun pergi. Tujuan mereka adalah kampus UNP.
Menurut pengakuan KZ dan AR, keduanya melakukan pencurian helm karena ingin membantu temannya. Salah seorang teman mereka yang kurang mampu sangat membutuhkan helm. Sehingga keduanya memutuskan untuk mencuri helm dan nantinya dijual kepada temannya dengan harga murah. "Kami kasihan sama dia. Dia itu tidak mampu untuk beli helm baru," ujar AR.
KZ dan AR mengaku baru pertama kali mencuri helm. Sebelumnya ia hanya mendengarkan cerita temannya yang sudah biasa "beroperasi". Bocah yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas itu juga mengaku nekat mencuri helm di UNP karena saran dari temannya. "Kata teman saya di UNP itu banyak helm yang bisa diambil," ujar KZ sambil menunduk. Ketika ditanya siapa nama kawannya tersebut, KZ tidak mau menyebutkan namanya.
Kasus pencurian helm juga seringkali terjadi di UNP. Salah satunya yang dialami Puput Fazriyanti. Puput kehilangan helmnya ketika kuliah di gedung Mata Kuliah Umum (MKU). Menurut pengakuannya, kehilangan helm membuatnya trauma. "Sekarang saya selalu membawa helm, apabila harus memarkirkan kendaraan," ujar Puput. Tidak hanya Puput, Rahman Setiadi Wibowo juga pernah mengalami kehilangan helm. Mahasiswa jurusan Biologi ini bahkan sudah dua kali kehilangan helm. Kejadian pertama di Pustaka Pusat sedangkan kejadian kedua terjadi di parkiran GOR UNP.
Beberapa waktu terakhir giliran Fakultas Teknik (FT) yang merasakan dampak ketidakamanan di kampus. Tercatat ada empat jurusan yang mengalami pencurian, yaitu Jurusan Teknik Pertambangan, Teknik Otomotif, Teknik Sipil dan Kesejahteraan Keluarga. Barang yang hilang antara lain infocus, kamera dan notebook.
Ketua jurusan Teknik Pertambangan, Drs. Bambang Heryadi, MT mengatakan kehilangan yang terjadi beberapa lalu merupakan fakta bahwa masih lemahnya keamanan di kampus. "Ini yang kehilangan hampir semua jurusan, bagaimana dikatakan aman?" ujarnya, Rabu (10/7). Kehilangan tersebut diketahui Rabu 13 Maret lalu. Dimana sehari sebelumnya merupakan hari libur. Bambang memperkirakan pencurian tersebut terjadi saat hari libur, dimana seluruh kegiatan kampus diliburkan.
Ketua Jurusan Teknik Pertambangan ini juga mengatakan bahwa maraknya kehilangan yang terjadi di kampus merupakan dampak dari lemahnya keamanan kampus. Menurutnya untuk mengamankan sebuah universitas dibutuhkan anggota satpam yang lengkap, dimana seluruhnya diberikan wewenang mengamankan setiap fakultas dan jurusan. Selain itu, ketidakstrategisan lokasi UNP juga menjadi penyebabnya. Lokasi UNP yang berbaur dengan masyarakat menjadikannya susah untuk dikontrol. "Terkadang bukan mahasiswa pun bisa masuk ke dalam lokal," lanjut Bambang.
Beberapa kasus kehilangan lainnya pun pernah terjadi di UNP. Bahkan salah satu Automatic Teller Machine (ATM) yang terdapat di kampus pernah di bobol pencuri. Kejadian tersebut berlangsung 4 Mei lalu. Kedua pelaku yang merupakan bukan warga yang tinggal sekitar kampus itu mengaku sudah sering melakukan aksinya. "Saya tinggal di daerah Anduring," ujar salah satu pelaku, Hr, Sabtu (4/5). Berselang tiga hari giliran Masjid Raya Al-azhar yang disantroni pencuri. Pencuri yang berhasil ditangkap satpam kampus itu berusaha mengambil kotak amal masjid. Buntut dari kejadian tersebut pun diserahkan ke pihak kepolisian Padang Utara.
Polsek Padang Utara Menjawab
Maraknya kehilangan yang terjadi di UNP juga menjadi perhatian serius pihak Polisi Sektor (Polsek) Padang Utara. Hal tersebut diungkapkan langsung Kapolsek Padang Utara, Komisi Polisi (Kompol) Partahian Pane, S.Sos. Menurutnya kehilangan yang terjadi di UNP bukanlah masalah baru. Hal tersebut dikarenakan pihaknya seringkali menerima laporan kehilangan dari mahasiswa UNP. Dalam satu minggu, Pane mengatakan hampir selalu ada laporan kehilangan yang terjadi di UNP.
Terkait tingkat keamanan, sebenarnya pihak kepolisian mengaku pernah beberapa kali mengingatkan pihak kampus. Pihak kepolisian menyarankan pengelola kampus untuk meningkatkan keamanannya, seperti memasang spanduk himbauan kepada pemilik kendaraan agar memasang kunci cadangan, memasang Closed-Circuit Television (CCTV) dan melakukan penjagaan di lokasi parkir. Namun menurutnya reaksi yang diberikan pihak kampus tidak seperti yang diharapkan. "Kami beberapa kali menghimbau pihak kampus untuk meningkatkan keamanan, namun sampai sekarang belum juga dilakukan," kata Pane.
Pane juga mengatakan, kampus seharusnya lebih serius lagi dalam menanggapi kasus pencurian. Menurutnya untuk membuat perubahan ke arah yang lebih baik memang butuh kerja keras dan pengorbanan, begitu juga untuk meminimalisir pencurian di kampus. Seperti halnya pihak kampus harus menyediakan CCTV dan sistem parkir kendaraan terpusat. Ia mengatakan untuk menyediakan CCTV dibeberapa lokasi kampus harus mengeluarkan biaya, demikian juga jika melakukan parkir terpusat, mahasiswa dan dosen harus rela berjalan kaki menuju lokal kuliah. "Kalau tidak mau berusaha, ya tetap saja akan buruk," tutupnya.
Laporan: Kru SKK Ganto
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!