Merdeka! Sahut-sahutan pendaki Merapi meneriakkan kata
penyulut semangat tersebut. Semangat kemerdekaan semakin
terasa tatkala jarum jam
mendekati pukul 10.00 WIB.
Saat itu jam menunjukkan pukul 22.45 WIB pada hari Jumat (16/8). Sesekali terdengar letusan kembang api. Dinginnya malam di gunung Merapi tak menyurutkan semangat para pendaki untuk mencapai puncak. Tak hanya harus berperang dengan dinginnya malam, mereka juga harus melewati batuan cadas nan terjal.
Lelah setelah berjalan semalaman mendaki Merapi, melewati hutan rimba dan batuan cadas terbayar sudah. Pemandangan di sekeliling Merapi menawarkan keindahan nan sangat elok. Semuanya tampak sangat kecil. Jika melihat ke arah depan, kita seolah-olah berdiri menantang gunung Singgalang yang dengan kokoh menghadap ke Merapi. Tak hanya itu, cerahnya langit yang dibaluti awan putih juga turut mendamaikan hati.
Tak terasa pukul 10.00 WIB semakin dekat. Pendaki gunung tertinggi di Sumatera Barat harus mempercepat langkah untuk mengikuti upacara. Karena tepat pada tanggal dan waktu yang sama 68 tahun yang lalu, Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia telah berada pada detik-detik untuk memproklamirkan pada dunia bahwa Indonesia telah merdeka.
Demi mengikuti upacara di puncak Merapi tersebut, tak jarang para pendaki harus memperlambat langkah bahkan antri berjalan karena ramainya orang yang juga ingin mencapai puncak. Upacara tersebut diselenggarakan di sebuah lapangan di puncak Merapi. Lapangan itu akan dijumpai terlebih dahulu sebelum kawah gunung. Luasnya lebih kurang seluas lapangan bola. Pasir halus yang berasal dari erupsi Merapi berperan sebagai pengganti rumput pada lapangan itu.
Sesampainya di puncak, para pendaki membentuk sejumlah barisan. Barisan tersebut membentuk huruf ‘O’ dengan bendera merah putih yang menjadi kiblat. Bendera itu diikatkan pada sebuah tongkat kayu sebagai pengganti tiang. Dengan panjang kira-kira satu meter lebih, bambu tersebut ditancapkan di lapangan. Batu-batuan berukuran sedang turut diletakkan di dekat tiang bambu untuk memperkokoh berdirinya Merah Putih.
Upacara benderapun dimulai. Moderator bertindak sebagai pengatur jalannya upacara. Jika berada pada dataran rendah dengan posisi matahari yang hampir berada tepat di atas kepala, seharusnya panasnya cuaca saat itu cukup untuk mengalirkan keringat dari kepala hingga punggung. Namun, dinginnya hembusan angin gunung tetap akan membuat semua anggota tubuh gemetaran. Seolah tak mengabaikan dinginnya angin gunung tersebut, seluruh peserta upacara hanyut dalam kekhusyukan upacara bendera.
Tibalah saatnya untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Tanpa instrumen dan tanpa adanya group vocal, peserta upacara menyanyikan lagu tersebut dengan lantang meski dengan kondisi kerongkongan yang hampir kering. Puncak Merapi yang berada pada ketinggian 2.891 meter di atas permukaan laut, tentunya akan bersuhu sangat rendah yang dapat mengakibatkan keringnya kerongkongan, bibir pecah-pecah, dan lain sebagainya. Selanjutnya, upacara diteruskan dengan pembacaan teks proklamasi. Teks proklamasi tersebut dibacakan oleh satu orang saja. Sedangkan peserta yang lain mendengarkannya dengan seksama. Tanpa teks tertulis dan sedikit tergagap, pembaca teks proklamasi membacakannya dengan suara nyaring.
Tak lama setelah itu, upacara bendera ditutup oleh perkataan komandan upacara, "Upacara selesai, pasukan dibubarkan!" Semua peserta upacarapun bubar. Tanpa aba-aba mereka langsung berfoto-foto di samping kibaran merah putih. Dari sana terlihatlah walaupun tidak harus berperang terlebih dahulu mengangkat bambu runcing melawan penjajah, semangat peserta upacara saat itu tak kurang dari yang dimiliki oleh pahlawan, pejuang negeri ini.
Semangat itu tak hanya ada pada peserta upacara saja. Bagi para pendaki yang tidak sempat mengikuti upacara dikarenakan terlambat mencapai puncak juga memiliki semangat kemerdekaan. Walaupun mereka tidak sempat mengangkat tangan untuk hormat pada bendera merah putih saat itu, setidaknya mereka telah bersusah payah untuk mencapai puncak tertinggi di Sumatera Barat untuk merayakan kemerdekaan RI. Bahkan tak sedikit dari mereka yang telah bersiap dengan bendera merah putih yang telah diikatkan pada sebilah kayu.
Salah satu pendaki tersebut adalah Muhammad Taufik. Siswa Madrasah Aliyah Negeri 1 Model Bukittinggi ini baru pertama kali mendaki gunung Merapi. "Saya mau tujuh belasan di puncak Merapi," ujarnya ketika beristirahat di batuan cadas Merapi.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!