Pemko Padang membantu para orang tua mewujudkan anak berakhlak mulia. Dibuktikan dengan pelaksanaan pesantren ramadhan yang memasuki tahun kesepuluh.
Lili, Zilla dan Yesi mempercepat langkah menuju mushala. Waktu menunjukkan pukul 10.30 menandakan mereka sudah terlambat tiga puluh menit dari waktu yang ditetapkan untuk peserta pesantren Ramadhan tingkat SMP. "Assalamu’alaikum," ucap Yesi diikuti oleh Zilla dan Lili. Di dalam mushala peserta pesantren lain sudah duduk rapi bersaf-saf dengan atribut pesantrennya. Pakaian yang mereka kenakan tidak hanya baju kurung saja, tapi juga seragam sekolah. Untuk peralatan tulis sudah disediakan agenda Ramadhan. Agenda Ramadhan ini dibagikan secara gratis oleh Pemerintah Daerah (Pemda) kepada siswa-siswi kelas IV SD - XII SMA.
Pesantren Ramadhan merupakan agenda tahunan yang sudah dilaksanakan semenjak tahun 2004. Pesantren Ramadhan diadakan pada dasarnya karena pihak masyarakat merasa jam pelajaran agama yang disediakan sekolah kurang efektif. Oleh karena itu diadakan pesantren Ramadhan.
Kegiatan yang digagas oleh Pemko Padang pada tahun 2004 ini mulanya hanya sebatas pesantren kilat. Siswa SD, SMP dan SMA dipesantrenkan selama seminggu penuh. Dua minggu kemudian tetap menjalankan agenda yang telah ditetapkan sekolah. Namun kemudian pesantren Ramadhan dijalankan selama tiga minggu penuh di bulan Ramadhan sesuai instruksi walikota Padang No. 451.3022/BINSOS-IC/2004 yang dikeluarkan pada tanggal 6 September 2004 lalu. Dalam instruksi tersebut diterangkan Pemda bekerja sama dengan Dinas Pendidikan kota Padang, kementrian keagamaan kota Padang dan organisasi sosial keagamaan tingkat kota Padang.
Jalannya pesantren disokong dengan biaya pendaftaran peserta dan bantuan operasional pesantren yang dibantu oleh Pemda kota Padang. Pendaftaran peserta umumnya berkisar Rp 25.000,00 dan Rp 30.000,00. Sedangkan untuk bantuan dari Pemda ditentukan berdasarkan jumlah peserta pesantren.
Dua tahun yang lalu Pemda cenderung menuntut pengajaran dan pengaplikasian Asmaul Husna dalam diri generasi muda. Untuk tahun ini pesantren Ramadhan lebih ditekankan pada penanaman, pengembangan dan pembiasaan Akhlakul Karimah berbasis Al-Quran. Tujuannya tak lain adalah membentuk karakter berbudi pekerti luhur dalam diri generasi muda baik di bidang agama dan lingkungan sosialnya.
Tak hanya itu, kegiatan pesantren Ramadhan juga sudah tersusun apik. Beberapa pengetahuan tambahan juga diberikan pada hari Sabtu yang dijadwalkan sebagai hari pengembangan diri. Diantaranya adalah pengetahuan sosialisasi mitigasi bencana, Budaya Alam Minangkabau dan antisipasi narkoba.
Penyempurnaan pelaksanaan pesantren Ramadhan terus dilakukan pada setiap tahunnya untuk mencapai generasi muda Islam multi cerdas. Hingga tahun ini manfaat pesantren Ramadhan sudah banyak dirasakan. Hampir semua murid SD sudah hafal ayat pendek juz terakhir. Begitu juga dengan peserta pesantren tingkat SMP dan SMA.
Penyosialisasian pesantren Ramadhan juga dapat dikatakan sudah sangat bagus. Pesantren ini sudah berlangsung 10 tahun berturut-turut dan sudah menjadi kegiatan yang wajib diikuti oleh siswa ataupun siswi SD, SMP dan SMA. Contohnya saja Mesjid Raya Baitul Makmur, Belimbing. Bahan ajar Pemda dijabarkan oleh ustadz yang ditugaskan sebagai pemateri pada hari yang dijadwalkan. Dalam artian panitia benar-benar bertindak sebagai pelaksana saja.
Lain halnya dengan Mushalla Kedondong, Kampung Tangah, Kuranji. Panitia pesantren Ramadhan di Mushalla Kedondong merupakan kaderisasi dari orang tua dan guru mengaji mushala ini. Rata-rata panitia pesantren Ramadhan berstatus mahasiswa.
Riko Ade Putra selaku ketua pelaksana mengaku tak terlalu sulit mengontrol jalannya pesantren Ramadhan. "Panitia dan peserta dapat berkoordinasi dengan baik," jelas Riko, Rabu (24/7). Tiap tingkat sekolah dibagi menjadi dua kelompok, laki-laki dan perempuan. Kemudian diarahkan oleh mentornya yang berasal dari panitia.
Penilaian pada tahun ini juga sedikit berbeda dengan tahun lalu. Terdapat beberapa penilaian tambahan diantaranya hafalan ayat kursi dan shalat sunah tasbih. Agar peserta pesantren tidak mudah jemu dan bosan, panitia dituntut kreatif dalam menghandle acara pesantren," tutupnya.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!