Jika berbicara tentang buku, fikiran kita pasti akan terarah kepada barisan tulisan tersusun rapat dan harus dicerna dengan sebaik mungkin. Sejak kecil, di sela-sela pendidikan di sekolah seorang guru selalu bertutur tentang hakikat sebuah buku. "Buku adalah jendela dunia." Begitu penuturan yang seringkali didengar.
Namun istilah itu hanya menjadi kata-kata mutiara saja. Kurangnya minat membaca generasi muda saat ini menjadi penyebabnya. Rutinitas mem baca generasi muda semakin terkikis oleh suguhan cang gihnya perkembangan tekno logi saat ini. Bahkan berÂdampak pada pada ketidakÂtahuan Hari buku Nasional yang diperingati setiap tanggal 17 Mei. Wajar saja Hari Buku Nasional ini jarang diperingati.
Saat ini Indonesia merupakan salah satu target pemasaran yang menjanjikan untuk fashion dan teknologi. Banyak produsen berlomba-lomba memasarkan produk ke Indonesia lantaran prilaku konsumtif masyarakat. Inilah salah satu alasan kenapa buku kian terpinggirkan. Buku yang notabene sebagai sumber informasi, seharusnya sudah menjadi kebutuhan manusia, karena buku merupakan gudang informasi dan ilmu pengetahuan. Kenyataannya, membaca belum menjadi bagian budaya dan tradisi di negeri ini. Hal ini yang menyebabkan aktivitas membaca tergolong aktivitas yang sulit dilakukan. UNESCO menyatakan rasio minat membaca di Indonesia adalah 1:1000.
Tidak hanya itu, faktanya penÂduduk di Indonesia lebih banyak mencari informasi dari televisi dan radio dibanding buku. Laporan bank Dunia no.16369-IND (Education in Indonesia from Crisis to recovery) menyebutkan tingkat membaca usia kelas VI Sekolah Dasar di Indonesia hanya mampu meraih skor 51,7 dibawah Filipina (52,6), Thailand (65,1) dan Singapura (74,0). Data Badan Pusat Statistik tahun 2006 juga meÂnunjukkan bahwa penduduk Indonesia yang menjadikan buku sebagai sumber informasi baru sekitar 23,5%, sedangkan yang menonton televisi 85,9% dan mendengarkan radio 40,3%.
Fakta yang dijelaskan diatas tentu memprihatinkan, mengingat budaya membaca sangat erat kaitannya dengan kultur sebuah generasi. Jika generasi sekarang saja memiliki minat baca rendah, bukankah sulit mengharapkan mereka menjadi teladan bagi anak cucunya dalam membudayakan membaca? Tampak jelas, membaca tergolong kegiatan yang sulit, karena tidak semua orang bisa melakukannya. Apalagi jika dibandingkan dengan aktivitas membeli buku yang semakin jarang dilakukan masyarakat Indonesia. Padahal, jika ditilik negara kita bukanlah negara miskin dalam hal pengadaan buku. Indonesia memiliki banyak penerbit, penulis, ilmuwan, peneliti, dan toko-toko buku dari kelas atas sampai kelas bawah. Tetapi, tetap saja buku menjadi hal yang tabu bagi masyarakat Indonesia dan mereka merasa tidak penting untuk membacanya.
Berdasarkan Penelitian Human Development Index (HDI) yang dikeluarkan oleh UNDP, untuk melek huruf pada 2002 meÂnempatkan Indonesia pada posisi 110 dari 173 negara. Posisi tersebut kemudian turun satu tingkat menjadi 111 di tahun 2009. Hal ini dapat terjadi karena kurangnya minat masyarakat Indonesia dalam membaca buku. Itu dapat terjadi karena dipengaruhi beberapa faktor, antara lain faktor malas yang dominan.
Berbeda lagi jika dilihat perbandingan jumlah buku yang dibaca siswa SMA di 13 negara, termasuk Indonesia. Dikutip dari Media Kompas (Kamis, 18 Juni 2009), di Amerika Serikat, jumlah buku yang wajib dibaca sebanyak 32 buku, di Belanda 30 buku, Prancis 30 buku, Jepang 22 buku, Swiss 15 buku, Kanada 13 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Thailand 5 buku, dan Indonesia 0 buku. Sungguh miris kita melihat budaya membaca di Indonesia. Hal inipun diungkap langsung oleh Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan(Baperpus) Kota Surabaya, Arini Pakistyaningsih. "Budaya baca masyarakat Indonesia menempati posisi terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur".
Dari penjelasan yang telah dipaparkan sebelumnya,dapat dikatakan masyarakat Indonesia bukanlah masyarakat pencinta buku. Jika budaya membaca terus terpinggirkan, maka terpinggir pulalah ilmu-ilmu pengetahuan yang diwariskan oleh generasi sebelumnya. Dan bersiap-siap pulalah generasi selanjutnya untuk buta akan ilmu pengetahuan.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!