Pendidikan

Tercipta-nya Manusia Robot

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Selasa, 27 Agustus 2013 13:09 WIB • 👁 2.507 Pembaca

Suatu ketika, ada seorang anak yang disuruh ibunya membeli keperluan sehari-hari ke pasar. Sang ibu pun memberi tahu si anak bagaimana melakukan tawar menawar harga. Katanya, si anak harus menawar dengan mengurangi harga yang ditawarkan sebanyak 15%. Sehingga jika harga awal yang ditawarkan 10.000, anak itu menawarnya seharga 8.500. Singkatnya, si anak pun berangkat ke pasar dan mulai mencari barang-barang yang harus ia beli. Ketika ia menawar harga cabai, si penjual tidak mau menurunkan harga karena harga cabai memang sudah begitu di pasaran, dimana pun harganya sama. Kemudian, si anak menawar jengkol. Ia mendapati harga fix juga, tidak bisa ditawar. Hal yang sama juga terjadi pada bawang merah. Si anak mulai berpikir, jangan-jangan pelajaran permintaan dan penawaran yang ia pelajari di sekolah itu salah. Atau konsep yang ada di kepalanya berbeda dengan konsep yang sebenarnya.

Akhirnya ia pulang ke rumah tanpa cabai, jengkol, dan bawang merah karena ketiga barang tersebut–menurutnya–mahal dan cara menawar yang diajarkan ibunya tidak manjur. Padahal mereka tidak memiliki cabai dan bawang sama sekali untuk masakan mereka hari itu. Sang ibu menyesali keputusan anaknya untuk tidak membeli cabai dan bawang tersebut. Seharusnya, anaknya tetap membelinya karena itu bahan masakan pokok. Bagaimana membuat sambal tanpa bawang dan cabai? Tidakkah anaknya belajar bahwa ketika permintaan tinggi, jumlah barang yang tersedia sedikit, maka harga akan tinggi? Ibunya yang tidak mempelajari itu saja tahu. Sekarang, mereka tidak bisa membuat sambal gara-gara tidak ada cabai dan bawang.

Benarkah ada kesalahan dalam konsep permintaan dan penawaran yang dimiliki anak tersebut? Apakah memang praktik nyata dari permintaan dan penawaran itu tidak ada? Jawabannya konsep permintaan dan penawaran anak tersebut tidak salah dan praktik nyata dari permintaan dan penawaran itu ada. Jawaban ini sekaligus memperlihatkan bagaimana hasil proses pendidikan pada peserta didik. Bagaimana peserta didik memperoleh ilmu dari sekolah dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Jelasnya, dewasa ini setiap sekolah berusaha mati-matian memberikan asupan ilmu kepada peserta didik, sampai-sampai mereka tidak punya waktu cukup untuk bersosialisasi dengan lingkungannya.

Apa yang terjadi pada anak dalam cerita di atas adalah hal yang akan terjadi jika sekolah hanya memikirkan ‘jam sekolah’ para siswanya dan menelantarkan waktu mereka untuk berkumpul bersama keluarga dan berbaur dengan lingkungan sosial. Sekitar 80% sekolah di Indonesia melaksanakan program belajar dari pagi sampai sore. Apalagi bagi sekolah yang berstandar nasional, belajar pagi-sore merupakan program wajib sekolah. Anak-anak diberikan materi pelajaran sesuai silabus, diberi tugas terkait dengan materi yang disampaikan, dan ditempa dengan soal-soal yang akan diujikan pada ujian, baik ujian kenaikan kelas maupun ujian akhir. Semua itu dilakukan agar para siswa kelak bisa mandiri secara finansial dan bisa berkontribusi untuk kemajuan bangsa.

Namun, satu hal yang sepertinya dilupakan oleh sekolah adalah bahwa siswa yang mereka didik juga manusia, makhluk sosial. Secerdas apapun seseorang, ia akan tetap membutuhkan orang lain. Ketergantungan terhadap orang lain membutuhkan kecerdasan sosial (social intelligence), yaitu kecerdasan untuk bekerjasama, mau menerima gagasan orang lain, bersedia dikritik, bersedia berbagi tugas dan tanggung jawab dengan partner kerja. Permasalahannya, program sekolah-sekolah pada umumnya tidak mengembangkan kecerdasan sosial siswa, sebaliknya hanya mengasah kecerdasan intelektual (intellectual intelligence) saja. Siswa masuk pukul tujuh pagi, belajar sepanjang hari–kemudian pulang, belajar lagi untuk membuat Pekerjaan Rumah (PR). Bahkan ada yang harus tidur di rumah temannya untuk mengerjakan tugas kelompok. Nah, kapan mereka mau berkumpul dengan keluarga, bersosialisasi, maupun berbaur dengan masyarakat?

Hal tersebut kemudian membuat siswa hidup di dunia teori. Ketika mereka kembali ke masyarakat, mereka tidak tahu bagaimana mengaplikasikan teori-teori yang mereka dapat dari bangku sekolah. Seperti yang dialami anak pada cerita di atas, ia tidak tahu bagaimana mengaplikasikan ilmu ekonomi tentang permintaan dan penawaran ketika disuruh ibunya berbelanja ke pasar. Ia belum mengerti bahwa penawaran terhadap barang tidak selalu bisa dilakukan. Manakala persediaan barang sedikit dan permintaan tinggi, maka harga akan naik. Si anak belum memahami konsep tersebut secara utuh.

Albert Einstein pernah berkata bahwa "pendidikan adalah apa yang seseorang miliki setelah ia lupa akan hal-hal yang pernah ia pelajari selama masih sekolah." Bahkan ketika kita sudah tidak ingat lagi apa yang telah kita pelajari, kita masih bisa menyelesaikan masalah dengan ilmu atau skill yang kita miliki. Kembali kepada cerita anak di atas. Ketika anak itu keluar dari lingkungan sekolah, ia seharusnya dapat mengaplikasikan ilmu yang ia dapat dari bangku sekolah. Mungkin memang tidak ada dituliskan secara eksplisit bahwa hukum permintaan dan penawaran itu berlaku dalam kondisi seperti apa, tapi seharusnya si anak mampu memberi penalaran sampai kesana.

Secara tidak langsung dampak dari program belajar pagi-sore lainnya adalah membuat siswa menjadi layaknya robot. Mereka hanya mampu ‘beroperasi’ saat ada instruksi maupun manual tertulis tentang apa yang harus dikerjakan. Berpijak pada teori, itulah yang terjadi pada peserta didik pada hari ini. Teori harus mantap, namun praktikalitas harus bisa berjalan dengan baik pula. Ketika harus dikomandoi dulu baru bisa bertindak, itu namanya robot. Maka, tidak bisa disangkal bahwa program pendidikan yang banyak dijalankan sekolah-sekolah sekarang melahirkan manusia-manusia robot.

Program pendidikan di sekolah selayaknya bertanggung jawab terhadap kesuksesan siswanya, tidak hanya dalam hal teoritis, tapi juga praktikal. Membuat siswa sibuk dengan tugas siang dan malam, tidak akan mendukung perkembangan kecerdasan siswa. Malah mereka akan jenuh dengan aktivitas belajar yang monoton. Ketika mereka dihadapkan pada situasi yang sama sekali berbeda di lapangan, siswa tidak mampu mengeluarkan ‘jurus’ yang tepat dan ampuh. Mengambil tindakan yang tepat pada saat yang genting sangat dibutuhkan, mengingat keadaan di lapangan dapat berubah kapanpun. Hanya orang yang kaya pengalamanlah yang mampu survive di dunia praktik.

Jika diibaratkan, peserta didik di setiap sekolah sama halnya dengan sekelompok prajurit yang akan dikirim ke medan tempur. Prajurit-prajurit tersebut diatur dan dilatih agar mereka mampu berjuang di medan perang dan memenangkan pertempuran. Konsekuensinya, prajurit tadi harus berlatih sungguh-sungguh dengan memahami taktik peperangan yang diajarkan pelatihnya. Memahami berbeda dengan sekedar mengetahui. Memahami berkenaan dengan penguasaan ilmu dari konsep dasar. Selain itu, prajurit tersebut juga dibiarkan berbaur dengan masayarakat, dengan situasi dan kondisi yang beranekaragam. Tujuannya adalah ketika ia berada di dalam pertempuran yang sebenarnya ia tidak kehilangan akal, tapi dapat meng-handle segala sesuatunya secara cepat dan tepat.

Sepertinya kita perlu meninjau kembali program-program pendidikan yang telah dirancang dan dilaksanakan di sekolah-sekolah. Jangan sampai program pendidikan yang membuat peserta didik berpikir bahwa pendidikan itu identik dengan pemaksaan, rutinitas yang monoton, serta kegiatan yang terlalu serius namun tak memiliki nilai plus. Siswa tidak akan sukses dengan belajar dari pagi sampai malam, seserius apapun para guru mendidik dan mengajar mereka. Bagaimana kalau kita memberi waktu yang proporsional kepada siswa agar mereka bisa belajar dengan sepenuh hati dan juga mendapatkan waktu untuk bersosialisasi. Apa yang siswa pelajari di sekolah tidak selamanya bisa sesuai dengan yang dibutuhkan di lapangan (di lingkungan sosial). Membekali siswa dengan pengetahuan yang cukup dan menyediakan waktu bagi mereka untuk menyatu dengan lingkungan sosial akan jauh lebih bijaksana untuk pendidikan yang lebih berkualitas.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Ana Sakinah
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

9 + 8 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.