Memori adalah sebuah fungsi kogÂnisi yang melibatkan otak dalam pengÂambilan informasi. Memori memiliki kapasitas penyimpanan untuk setiap inforÂÂmasi yang diterima. Untuk mengingatkan kembali informasi yang sudah ada, kita akan memangil ulang informasi tersebut dengan bantuan clue-clue tertentu untuk mempermudahnya.
Dengan segala kompleksitas informasi yang tersimpan dalam memori, maka tidak menutup kemungkinan akan ada beberapa informasi yang akan hilang seiiring bertambahnya usia, hal ini lebih lazim disebut dengan ‘lupa’.
Lupa merupakan sebuah ungkapan ringan yang sering didengar. Saat seorang mahasiswa ditanya dosennya mengapa tidak mencantumkan nama penulis atau ahli dari teori dalam makalahnya, mahasiswa tersebut biasanya secara spontan melontarkan kata ‘lupa’.
Secara teori medis, lupa biasanya hanya akan dialami oleh orang-orang lanjut usia, penderita alzhaimer dan amnesia. Namun kenyataannya, lupa telah menjadi empat suku kata yang paling sering dijadikan alibi. Hampir semua orang dari segala kalangan sering mengucapkannya dan dijadikan awal dari sebuah alasan. Lupa membuat tugas, lupa dengan janji yang sudah dibuat, dan beragam lupa-lupa lainnya.
Sifat lupa ini sudah menjadi hal yang fenomenal dalam kehidupan. Hingga menurut beberapa kalangan, kata lupa sudah menjadi sesuatu yang manusiawi dan termaafkan. Target korbannya tidak memandang usia. Dari usia tua, bahkan usia muda yang selayaknya masih memiliki memori yang segar, juga turut andil dalam tumbuh-kembangnya sifat lupa ini. Akhirnya tidak jarang, lupa dimanfaatkan sebagai hal yang lumrah dalam mencari alasan untuk menutupi kelalaiannya sendiri.
Lupa bisa saja menjadi hal yang sangat menghancurkan, karena bisa menimbulkan kesalahan-kesalahan fatal. Seperti halnya lupa jabatan serta lupa tanggung jawab.
Setiap orang tentu punya rencana-rencana pencapaian dalam hidup, itu pula yang melahirkan sifat ingin berkuasa, menÂdapatkan status, dan eksistensi. Namun cara atau proses yang dilalui setiap orang tidaklah sama. Dalam hal pemilihan presiden misalnya, visi dan misi adalah senjata yang paling sering digunakan untuk mencapai tujuan.
Tidak ada yang salah dengan tujuan yang mungkin memang bisa dikatakan mulia. Namun semangat awal (euphoria) dalam perencanaan visi-misi tersebut kadang membuat sebagian kalangan, buta dan lupa akan mana rasional, dan mana yang hanya akan menjadi tumpukan teori-teori indah dan gagal teraplikasi. Hasilnya? Tidak jarang lupa dijadikan alasan karena visi-misinya tidak terlaksana. Beragam alasan kesibukan, dan lain-lainnya menyebabkan seseorang lupa tanggungjawab yang dulu ia janjikan.
Lupa bisa saja lebih positif apabila dilakukan pada hal-hal tidak menyenangkan. Lupa bisa menjadi senjata untuk membuang hal-hal yang tidak penting dan membuat kehidupan tidak nyaman untuk dilanjutkan. Hal ini dikarenakan memori tentu saja tidak melulu penuh oleh hal-hal yang menyeÂnangkan, di dalamnya juga terdapat hal-hal yang (kadang) tidak ingin diingat lagi oleh yang mengalaminya.
Istilah "move on" yang kemudian tenar, mejadi salah satu fungsi lupa yang bisa berarti positif. Karena dengan tidak mengingat/mengambil kembali ingatan pada masa lalu yang akan berdampak buruk, seorang individu bisa tetap fokus melanÂjutkan masa depannya. Lupa dan move on menjadi ajang untuk bertarung denga masa lalu yang kelam dan keberanian menata ulang masa depan.
Namun untuk hal lain, sangat tidak bijak bila melupakan atau (mungkin) sengaja melupakan hal-hal penting untuk setiap tindakan yang akan dikerjakan. Penting sekali untuk mencoba lupa terhadap hal-hal buruk agar tidak mengundang hal-hal yang akan membuat tidak nyaman. Namun akan lebih penting lagi jika tidak lupa untuk hal-hal yang penting, terutama pada hal yang harusnya disiagakan, yakni tanggung jawab.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!