Feature

Permainan Lore Terhimpit Zaman

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Senin, 3 Juni 2013 12:42 WIB • 👁 6.858 Pembaca

Ketika modernisasi menginjak peradaban suatu negeri, permainan anak nagari bisa dijadikan alternatif sebagai pengingat damainya masa lalu. Namun ketika alternatif itu harus terseret dan tenggelam oleh perkembangan zaman, lantas apalagi yang akan menjadi alarm di nagari ini?

Suara ceria enam orang anak perempuan yang rata-rata berumur 8-10 tahun menghiasi halaman rumah bercat orange sore itu, Sabtu (23/3). Halaman itu memang ramai satu bulanan terakhir ini oleh teriakan anak-anak yang tampak asyik bermain lore.

Lore adalah salah satu permainan anak nagari di Kenagarian Sungai Nanam, Kecamatan Lembah Gumanti, Solok. Permainan itu disajikan dalam bentuk ukiran di atas tanah berupa gabungan beberapa buah persegi dengan menggunakan stonek. Stonek merupakan media yang terbuat dari kaca berbentuk datar dan pipih yang nantinya dilempar ke dalam persegi-persegi itu. Terkadang mereka mengunakan uang koin pecahan 100, 500, dan 1000 rupiah.

Permainan ini merupakan permainan musiman, yang mana permainan ini akan bertahan paling lama 2 bulan saja. Setelah itu permainan lore akan digantikan oleh permainan anak nagari yang lainnya, seperti permainan kelereng, main tikuak, main tali, dan masih banyak yang lainnya. Pesertanya terbagi atas dua kelompok, dengan ketentuan kelompok yang menang dalam suit akan bermain terlebih dahulu sampai stonek yang dilempar keluar dari kotak persegi.

Suci Wulandari, anak perempuan berambut panjang yang menjadi ketua kelompok satu memulai aksinya dengan melempar stonek ke dalam kotak persegi satu. "Yes, masuk," ujarnya, Sabtu (23/3). Kemudian ia dan dua orang anggotanya mulai melompat dengan satu kaki melintasi kotak demi kotak yang tidak berisi stonek dengan syarat jangan menginjak garis persegi. Setelah itu kembali lagi ke posisi awal. Begitu seterusnya.

Tidak jauh dari lokasi tempat anak-anak itu bermain, terdapat seorang bapak bertubuh kecil dan berwajah ramah tengah menikmati suasana sore. Namanya Khaidir. Ia pemilik rumah bercat orange itu. Sambil mengamati anak-anak bermain, ia juga sesekali memberikan nasehat kepada anak-anak agar berkonsentrasi saat melempar stonek agar tidak keluar garis,"Ayo fokus, jangan asal lempar saja," ungkapnya setengah berteriak, Sabtu (23/3).

Sesekali ia mencoba memperagakan cara melempar stonek yang benar, agar bisa masuk dikotak-kotak persegi yang dituju."Nah seperti ini," ujarnya dengan bangga. Anak-anak pun bertepuk tangan pertanda dukungan atas sikap khaidir. "Ye ye," sorak mereka.

Setelah itu, iapun kembali duduk ke tempat semula dan menyaksikan kembali anak-anak yang tengah semangat bermain lore. Khaidir mengaku sangat terhibur dengan anak-anak yang bermain lore di rumahnya. Hal ini karena selain bisa menghilangkan penat sembari menunggu magrib datang, permainan lore juga mengingatkannya pada permainan teman-teman masa kecilnya."Ternyata masa kecil itu memang indah," ungkapnya sambil tersenyum.

Menurut Khaidir tidak ada yang tahu pasti kapan permainan lore ini lahir. Namun permainan ini sudah dimainkan oleh anak perempuan semasa kanaknya dulu dan diwariskan secara turun temurun. Khaidir melanjutkan, dulunya permainan lore ini adalah permainan yang mampu menyatukan antara anak dari kampung yang satu dengan kampung yang lainnya, sehingga mereka saling mengenal dan merasa memiliki saudara dimana-mana. "Ini dusanak, itu dusanak," papar Khaidir.

Banyak nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam permainan lore, diantaranya: meningkatkan keakraban antar sesama teman, bermain sambil berolahraga dan bisa mengundang keceriaan. "Lore adalah pemainan yang mengasyikan," ujar Khaidir.

Khaidir juga menambahkan bahwa seiring dengan perkembangan zaman, permainan anak nagari semakin redup, hilang ditelan masa. Hal ini sedikit banyaknya dipengaruhi oleh timbulnya permainan-permainan yang memanfaatkan fasilitas internet (online) maupun permainan modern lainnya. Jika ini terus terjadi, Khaidir menakutkan akan lahir generasi indivualis yang mementingkan diri sendiri.

Lebih lanjut ia mengatakan, walaupun lore ini hanya permainan musiman, ia berharap permainan ini tetap ada dan terus dilestarikan, jangan sampai terhimpit dan tenggelam oleh arus perkembangan globalisasi. "Walaupun mustahil rasanya, saya harap lore tetap eksis di kalangan anak-anak pada masa sekarang dan selanjutnya," harap Khaidir.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Wahida Nia Elfiza
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

2 + 8 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.