Refleksi

Mindset Bangsa Tertinggal

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Senin, 3 Juni 2013 12:20 WIB • 👁 1.290 Pembaca

Tidak sedikit anggaran, energi, dan waktu kita habis untuk melakukan "perubahan", bongkar-pasang adalah pemandangan biasa. Akibatnya, kita tetap menjadi bangsa tertinggal.

Pada masa awal kemerdekaan, Indonesia pernah digambarkan sebagai seekor Garuda yang sedang terbang persis dibelakang Jepang. Dibelakangnya berbaris puluhan ekor burung, antara lain Korea, India, Singapura, Malaysia, Pakistan, Philipina, Thailand dan Vietnam. Kalau sekarang burung-burung itu masih berbaris di angkasa bebas, kita akan menyak­sikan sang Garuda sudah berada pada posisi kedua dari belakang, jauh tertinggal dari Singapura, Korea, Malaysia, India dan Thailand. Burung yang membawa bendera mata hari, Jepang, yang persis berada didepan Garuda tadi sudah tidak kelihatan lagi karena sudah tertutup awan. Kita menjadi bangsa tertinggal.

Banyak faktor yang ikut handil terhadap keadaan ini. Namun satu yang paling dominan dan tidak terfikirkan selama ini adalah cara berfikir kita sendiri atau mindset; mindset bangsa kita selalu tertinggal.

Kita tidak pernah memiliki sebuah filsafat semangat to be number one atau frontier seperti yang dikembangkan oleh bangsa Amerika. Bangsa kita senang bernostalgia tentang kejayaan masa lalu sambil bereto­rika tentang masa sekarang tanpa memikirkan masa depan. Alhasil pemikiran untuk tindakan di masa depan, sudah terkalahkan oleh hal-hal tidak bermanfaat.

Penge­cualian barangkali dila-kukan sebuah BUMN yang bermoto "Kami telah berbuat, sebelum yang lain memikirkan". Namun seorang sahabat saya mengatakan: "Kami berbuat tanpa berfikir-fikir". Ini adalah fenomena empiris yang dapat kita saksikan sepanjang hari yang hampir semua sudut negeri ini. Tidak sedikti anggaran, energi, dan waktu kita habis untuk melakukan "perubahan", bongkar-pasang adalah pemandangan biasa. Akibatnya, kita menjadi bangsa tertinggal.

Kenyataan lain yang paling menarik adalah tantangan seorang pejabat (sekembalinya dari studi banding). Ia menginstruksikan kepada bawahannya untuk melaku­kan pembaharuan seperti yang ia lihat di negeri yang selangkah di depan. Dengan nada tegas ia berkata: "Coba terapkan apa yang kita lihat ketika studi banding keluar negeri kemarin". Dengan santai sang bawahan menjawab: "Maaf Pak, kalau kita terapkan apa yang kita lihat di luar negeri kemarin sekarang, maka besok mereka sudah berubah jauh lebih maju dari apa yang kita terapkan hari ini’. "Lalu bagaimana?," tanya sang pejabat. "Itulah yang sedang saya fikirkan; bagaimana caranya kita bisa membuat sesuatu yang sepuluh tahun lebih maju dari apa yang kita lihat di luar negeri kemarin. Dengan itu kita baru bisa sejajar dengan mereka," kata sang bawahan. "Kalau begitu, kita buat ‘renstranya’ dulu," kata sang pejabat.

Renstra (rencana strategis) adalah sebuah persoalan yang "setali-tiga-uang" dengan persoalan diatas-mindset bangsatertinggal. Renstra kita masih berkutat di sekitar visi dan misi yang kabur tertutup awan; mau dibawa kemana bangsa ini, tidak jelas. Renstra kita cenderung "mencontek" bangsa lain yang hasil contekan itu sendiri keliru. Umpamanya, bangsa lain menggunakan kata being dalam visinya, kita memadankannya dengan kata "menjadi". Padahal "visi" adalah sebuah cara pandang kita terhadap masa depan kita yang sama sekali tidak relevan menggunakan kata "menjadi", karena kata "menjadi" lebih bernuansa misi atau cita-cita. Kata "adalah" (be) barangkali jauh lebih bernuasa "keyakinan" untuk berfikir, bersikap dan berprilaku seperti "visi" tersebut. Jika Khairil Anwar mengatakan: "Aku ini adalah binatang jalang", maka cara berfikir, bersikap dan bertindaknya seperti "binatang jalang". Ringkas­nya, visi kita tidak memberikan "rasa" pada fikiran, sikap dan perbuatan kita untuk yakin melangkah ke depan.

Begitu juga halnya dengan dunia pendidikan dan pembe­la­jaran, kurikulum dan program pendidikan yang kita terapkan sekarang lebih ditekankan pada pema­haman kajian masa lalu. Pembentukan prilaku (

behavi­our

) adalah karakteristik kurikulum dua abad yang lalu (

behaviorism

) yang cocok untuk era industri. Kita lebih cenderung memberikan keterampilan hidup untuk masa yang sedang kita jalani hari ini, dan memacahkan perso­alan terkini, ketimbang memper­siapkan genera­si yang terampil hidup pada masa depan. Ironisnya, ketika seorang

futurist

memberikan gagasan tentang masa depan, spontan kita mengejeknya: "Ah itu mimpi," Ternyata, setelah selesai menjalani proses pendidikan dan pembelajaran, bangsa kita tetap tidak mampu bersaing dengan bangsa lain karena "

illeterate

" dengan kehidupan saat itu. Akhirnya, bangsa ini tetap menjadi bangsa tertinggal.

*Dosen Bahasa Inggris UNP

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Januarisdi
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

5 + 7 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.