Cerpen

Kardus Kebencian

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Minggu, 2 Juni 2013 13:28 WIB • 👁 1.819 Pembaca

Sarjana adalah debu yang berterbangan di jalan. Ber­serakan disetiap pelosok hingga kota. Bahkan terlindas hujan dan panas. Ada yang nekat menjadi perampas. Merampas dengan tangan. Merampas dengan moral. Merampas de­ngan segala kemampuan naluri yang mereka anggap halal.

Aku lebih suka menyebut kardus. Karena aku tidak suka kotak. Apalagi pengkotak-kotakan dalam sebuah kotak. Kan tidak ada istilah pengkardus-kardusan genre, pengkardus-kardusan kekuasaan, status sosial, popularitas, dan...Ah, sudahlah. Sebab akupun sekiranya ikut dikotak-kotakan. Aku hanya mengumpulkannya dalam sebuah kardus. Kardus yang menampung seribu kekecewaan. Kardus yang menampung seribu kemarahan. Kardus yang menampung segala kekesalan. Kardus yang menampung seribu perasaan. Karena bagiku, karduslah yang paling mengerti. Dan ia hanya ada dalam tubuh yang Tuhan beri. Sebab itulah aku senang menyebut kardus. Bukan kotak. Paling tidak ia bisa mengerti dan menyimpan apa yang kupendam dalam benak. Dan tentang apa yang kusanksikan.

Baiklah kutinggalkan saja persepsi tentang kardus. Karena jika kulanjutkan bisa-bisa darahku naik dan membuat caci-maki yang meningkat menjadi carut-marut. Dan orang-orang yang mencoba mendekat atau sekedar mengajak bergelut akan kuajak ribut.

Ketika malam pecah, tiba-tiba saja aku bertanya pada diriku sendiri. Apakah hasil karya dari tangan penuh dosa ini belum begitu sempurna? Aku menjawab tidak. Karena bagiku buat apa berdusta. Atau mengakui kemerdekaan yang kurasakan sendiri. Aku mengakui bahwa karyaku hampir sejajar dengan Putu Wijaya, Harris Effendi Thahar, Danarto dan maaf saja jika tak sempat kusebutkan nama-nama penyair tenar yang pernah kubaca karyanya. Itu menurutku. Bukan berarti menurutmu. Bukan berarti juga aku sombong atau menepuk dada, Kawan. Aku hanya katakan bahwa karya mereka memang apik. Bahkan ramai pembicaraan tentang karya-karya dari tangan dingin penyair jenius itu. Mahasiswa membahas untuk dijadikannya objek skripsi. Tesis bahkan Disertasi.

Pernah ketika aku bertanya pada teman lamaku di kampus yang juga kebetulan bekerja di surat kabar yang pernah kukirimkan tulisanku, ia menjawab seraya berseloroh.

"Memang, Kawan. Orang-orang redaksi lebih cenderung menjambak tulisan dari tangan-tangan yang sudah ia kenal. Yang sudah besar. Paling tidak dosen. Kritikus. Pakar. Atau orang-orang yang pernah dimuat tulisannya disebuah ontologi sastra nasional. Tulisan dari orang-orang macam kau, ya, paling-paling ia jadikan bahan cerita untuk pengantar se­belum tidur saja." Sebutnya sambil me­nempuk-nepuk pun­dakku lagi menghilang secepat kilat.

Aku meman­dang nanar padanya ketika seolah mengejek kar­yaku. Kepalaku men­dongak. Meski ia me­nga­takan sejujurnya.

Pada suatu ketika yang lalu, aku pernah bernazar pada langit dan bumi untuk menceritakan perkara keadilan pada kalian. Disaat sebatang Gu­dang Garam tertancap di mulutku dan me­nge­pulkan asap serta klebotnya di asbak, aku melanjutkan cerita ketika bulan datang menziarahi gulita.

Di saat pa­car­ku menerima lama­ranku seratus persen, tiba-tiba calon mertuaku bertingkah.

"Jadi kamu ini yang namanya Halan?" Todong ayahnya sambil duduk di sebuah kursi goyang yang me­munggungiku.

Aku manggut-manggut.

"Atas dasar apa kamu mau menikahi putri saya?"

"Cinta." Jawabku polos.

"Ooo, atas dasar kalian berdua saling mencintai? Bagus. Tapi ya nak ya, hidup itu tidak cukup dengan cinta. Sehari, bisa makan cinta. Dua hari, bisa. Seminggu, makan batu anak saya. Lagi pula Bapak itu punya kriteria untuk calon mantu. Legislatif atau kontraktor. Jadi, berat kamu sepertinya. Atau jangan-jangan kamu ini tidak cinta dengan putri saya. Kamu ini cinta dengan harta warisan putri saya. Iya kan?" Todong ayahnya dengan wajah memerah. Matanya memerah. Kupingnya tegak. Kumisnya apalagi.

Buru-buru aku melarikan diri dari rupa yang mengganas itu. Sebelum dua pasang sendal melayang dan mendarat di wajahku. Kutahu ayahmu. Ia adalah bekas prajurit militer yang dirumahkan setahun yang lalu. Meski tidak semua dari mereka yang nanar.

Dengan perasaan hati yang kecewa dan putus asa, aku memutuskan untuk duduk berselonjor di depan bibir pantai sambil merenungkan nasib. Nasib dalam kotak. Kotak yang mengkotak-kotakan. Terus terang sejak itu, aku benci status pegawai negeri sipil. Apa itu. Tidak akan sudi aku harus membayar sekian ratus juta untuk membeli kursi haram itu. Apa jadinya nanti jika keturunanku kuwariskan harta dan uang dari hasil menyumpal mulut mereka untuk mendapatkan kursi. Bahkan kinerja diantara mereka saja banyak yang tidak serius. Ada pemberitaan bahwa sering terjaring razia satpol pp saat jam kerja. Mereka yang mengenakan pakaian dinas saat ditangkap di sebuah warung kopi sambil mengadu ekor batu. Assu! Aku lempar batu sekuat-kuatnya ke tengah hamparan pantai. Suara azan berdenging. Aku putuskan untuk pulang.

Aku menulis cerita untuk kukirim dalam surat kabar Mingguan. Mana tahu, nasib seorang Sarjana Pendidikan malang sepertiku bisa didengar oleh tuan berdasi. Tapi aku tidak berkecil hati. Walaupun calon mertuaku menolakku mentah-mentah. Tapi masih banyak orang yang lebih malang nasibnya dariku. Sarjana adalah debu yang berterbangan di jalan. Berserakan di setiap pelosok hingga kota. Bahkan terlindas hujan dan panas. Ada yang nekat menjadi pe­rampas. Merampas dengan tangan. Merampas dengan moral. Merampas dengan segala kemampuan naluri yang mereka anggap halal.

Sia-sia.

Dari Minggu ke Ming­­gu tidak pernah kulihat namaku tercan­tum di halaman sastra media. Maksudku nama di bawah sebuah judul. Bahkan yang sering kulihat penulisnya itu ke itu saja. Apa jangan-jangan media itu juga wadah menyum­pal? Tapi tidak mungkin kata hatiku. Barangkali itu hanya ideologi latah. Latah dalam menilai karya regenerasi. Mereka hanya terpaku pada nama. Ke­kuasaan. Status sosial. Padahal tidak sedikit yang diantara karya mereka itu seperti karet gelang yang diceburkan ke minyak tanah. Tapi aku tidak berkecil hati. Paling tidak, aku bisa menjadi diriku sendiri. Aku bercermin pada status yang ada pada diriku.

Mungkin saja mereka cuma menilai dari segi popularitas, maka wajar saja nama penyair amatir sepertiku cuma tertera dalam asa. Aku gigit jari. Astaga, darahku naik lagi. Maag-ku kambuh. Kom­plikasi.

******

Sarjana sepertiku, nilai ha­nyalah sebatas spidol tiga warna yang kutorehkan di papan putih disebuah ruangan berukuran 4x4 meter. Menghadapi segala macam perangai anak-anak yang menepuk dada mereka sebagai anak orang kaya yang tidak bisa dipaksa-paksa atau malah dimaki untuk belajar. Ibuku pernah menyebut-nyebut, bahkan mem­banding-bandingkanku dengan sepupuku, Untung. Ia mujur. Nasibnya baik. Setelah lepas dari Sekolah Tinggi Pemerintah dalam Negeri di Jatinangor, ia diterjunkan bekerja di kantor bupati yang tak jauh dari rumahnya sekarang. Statusnya pegawai negeri. Banyak orang tua bahkan gadis desa yang mengincarnya. Bahkan bapak kepala desa sudah berencana akan datang kerumahnya untuk mengusut kepastian tanggal pernikahan. Aku iri hati. Namun bagiku menjadi seorang pendidik di sebuah lembaga agaknya sudah lebih baik ketimbang menjadi pegawai negeri yang rata-rata makan gaji buta. Menjadi mesin berputarnya pendidikan bangsa. Menjadi pondasi moralitas generasi muda.

Aku benci. Aku marah. Benci aku. Marah aku. Benci marah. Marah benci. Marah-marah. Benci-benci. Semua kutulis panjang-panjang dan kusimpan dalam kardus. Karena kuyakin sesekali kardus itu akan ada yang membuka atau sekedar mengintip ada apa gerangan isi kardus itu. Hatiku benci. Benci pada kotak yang mengkotak-kotakan. Mengkotak-kotakan adalah sebab dari keserakahan. Kemunafikan. Keharusan untuk membayar setiap harapan. Harapan adalah tujuan. Tujuan adalah sampan. Sampan adalah kemudi yang lamban. Apabila aku lamban, itu karena aku tak mampu membayar persoalan. Persoalan sekarang adalah mapan. Mapan adalah idaman. Aku menyimpan itu dalam kardus yang berisi kebencian. Kardus yang hanya terbungkus dalam tubuh yang diberi Illahi.

Aku tidur. Puntung di atas asbak akan klebot, sirna asapnya jika sampai batas terbatas di atas kardus yang ternganga. Kardus yang menampung seribu kekecewaan. Kardus yang menampung seribu kemarahan. Kardus yang menampung segala kekesalan. Kardus yang menampung seribu perasaan.

Padang, 9 Januari 2013

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Rio Rinaldi
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

2 + 6 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.