Feature

Jiwa Agung di Mesjid Agung

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Minggu, 2 Juni 2013 13:12 WIB • 👁 1.058 Pembaca

"Senang bisa bantu-bantu orang tua, nanti uangnya dikasih ke orang tua," kata Yudas (15) si penjaga sandal di mesjid Agung Palembang, Sumatera Selatan.

Adzan magrib mulai berkumandang di Masjid Agung Palembang (13/1). Cahaya matahari mulai redup berganti kerlap-kerlip sinar lampu di sekeliling masjid. Yudas, anak laki-laki yang kini duduk di kelas tiga, bangku sekolah menengah pertama ini, mulai menjejerkan deretan sandal jepit. Yudas berdiri di depan gerbang masjid, menanti jemaah yang akan menunaikan sholat magrib. "Sendalnya sampai sini pak," ucap Yudas kepada setiap jama’ah masjid yang tiba di jenjang menuju pintu masjid.

Penampilan Yudas terkesan sederhana. Ia memakai sandal tipis berwarna putih, kaus oblong dan celana pendek ukuran tiga perempat. Remaja laki-laki berusia sekitar 15 tahun ini memiliki tinggi sekitar 150 cm, badannya kurus, rambutnya hitam dengan model potongan pendek tapi rapi, dan tangannya menggenggam kertas kecil bertuliskan nomor-nomor untuk penanda sandal yang akan dititipkan. Sulung dari tiga bersaudara ini, memberikan nomor penanda untuk setiap sandal yang sudah tersusun di rak dekat tangga masjid. Satu persatu sandal dititipkan kemudian setelah selesai sholat, akan diambil kembali oleh si empunya sandal.

Yudas sudah memulai tugasnya ketika waktu Ashar tiba. Hampir setiap hari, sepulang sekolah dan setelah berganti pakaian, Ia bergegas ke mesjid demi mengumpulkan lembaran kertas seribu rupiah yang akan diperolehnya dari jasa menjaga sandal. "Jarak rumah ke masjid lumayan jauh," ungkap Yudas yang juga anak dari petugas kebersihan mesjid itu. Namun ia mengaku masalah jarak tidak akan membuatnya surut semangat untuk melakukan hal itu. Sebelum melakoni pekerjaan ini, Yudas sudah terlebih dulu mengantongi izin dari pengurus masjid.

Sholat magrib berjamaah sudah selesai, saatnya sandal-sandal di­kembalikan pada pemiliknya. Yudas mengembalikan sandal titipan pada pemiliknya dengan memastikan terlebih dahulu nomor penitipannya, sesuai dengan nomor sandal yang ada di rak. Uang kertas seribu rupiah mendominasi kotak milik Yudas. Jama’ah masjid mulai sepi, ia pun segera menunaikan sholat. "Kalau udah sepi gini, saya langsung sholat," tuturnya.

Bukan tanpa kendala Yudas menjalani pekerjaan ini, saat hujan tiba Ia harus bergegas memindahkan sandal ke tempat yang teduh. Yudas mengenang, tak jarang Ia harus ekstra cepat membawa sandal ke tempat yang lebih aman atau menutupi rak sandal dengan terpal jika hujan yang datang cukup deras. "Kalau hujan datang, bisa basah semuanya tapi sandal-sandal jama’ah tidak boleh basah," jelas Yudas sambil melihat rak sandal.

Jika ditanya kemana hasil uang yang dipe­rolehnya saat berlakon menjadi penjaga sandal, Yudas dengan pasti menjawab uang tersebut diserahkan sepenuhnya kepada kedua orang tuanya. Pekerjaan yang sudah dilakukannya semenjak duduk di kelas satu sekolah menengah pertama ini, semata-mata untuk membantu perekonomian keluarganya. "Senang rasanya bekerja, uangnya bisa digunakan buat bantu orangtua," ungkapnya.

Baginya membantu orang tua selain me­nyenangkan juga membanggakan. Salah satu kebanggaannya adalah bisa membuat jama’ah tenang menjalankan ibadah karena sudah ada jasanya yang bersedia menjaga sandal mereka. Pekerjaan ini tentu saja juga tidak membuat Yudas lalai dalam meraih cita-citanya. Ia bekerja, tentu saja tanpa menge­nyampingkan kewajibannya sebagai seorang anak dan sebagai pelajar. Hal ini dibuktikannya dengan tetap bersekolah dan belajar dengan sungguh-sungguh.

Yudas sadar bahwa pendidikan sangat penting untuk masa depannya. Pekerjaan sekarang ini bukanlah sepenuhnya bisa menjadi jaminan masa depannya nanti akan sejahtera. Menjadi anak yang berbakti serta memberikan kebanggaan kepada kedua orang tua, adalah priotitas utama bagi Yudas. Prestasi sekolah juga tak kalah pen­tingnya dengan pekerjaan yang ditun­taskannya setiap hari. Sebagaimana pengakuannya, ia tetap bisa mendapat rangking di kelas.

Disamping memiliki niat mulia untuk membantu orang tua dengan ikut bekerja, Ia juga bisa mengukir prestasi di sekolah. Semester ini Yudas meraih rangking sembilan di kelas. Kedua orang tuanya tentu saja bangga anaknya masuk daftar 10 besar. Yudas juga berharap bisa melanjutkan sekolahnya ke jenjang berikutnya. Selain dirinya, 2 orang adiknya masih kecil dan belum cukup usia untuk bersekolah. Kelak ia berharap, adik-adiknya juga dapat bersekolah, berprestasi dan bisa menjadi kebanggaan bagi kedua orang tua.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Fidia Oktarisa
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

8 + 8 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.