Pendidikan

Bahasa Inggris; Nilai Plus Peninggalan Program ISTE

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Minggu, 2 Juni 2013 12:51 WIB • 👁 2.478 Pembaca

Mahkamah Konstitusi (MK) telah menghapus Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang berada di sekolah-sekolah pemerintah, karena dianggap bertentangan dengan UUD. Namun yang masih dibahas sekarang, adalah bagaimana kelanjutan kelas Program Pendidikan Guru MIPA Bertaraf In­ternasional (PPGMIPABI) atau kelas ISTE? Sebab program ini telah dikelola oleh puluhan perguruan tinggi di Indonesia, termasuk UNP.

Terlepas dari keputusan MK, maka tulisan ini menyinggung aspek urgensi bahasa Inggris yang menjadi penciri utama RSBI dan kelas khusus PPGMIPABI di Perguruan Tinggi. Bahasa Inggris digunakan sebagai pengantar dalam aktifitas pembelajaran (medium of instruction). Medium of instruction berarti, bahasa yang dipakai dalam pembelajaran. Indonesia berbeda dengan negara lain yang sudah memakai Bahasa Inggris sebagai pengantar pendidikan seperti Malaysia, Singapura, Pakistan, India, Saudi Arabia, bahkan Ethiopia.

Globalisasi telah membuat dunia menjadi tak berbatas. Medium komunikasi lintas geografis dibutuhkan, berupa bahasa internasional yang disepakati bersama. PBB mengakui lima bahasa resmi yang dianggap sebagai bahasa internasional, yaitu Bahasa Inggris, Arab, Mandarin, Spanyol, Rusia, dan Perancis. Namun, tetap saja bahasa internasional dunia yang paling sering digunakan adalah bahasa Inggris. Ini tak lepas dari peran Amerika Serikat dan Inggris yang kini masih menjadi negara super power dan tempat ber­kantornya PBB.

Lingua Franca (bahasa Latin) adalah sebuah istilah linguistik yang artinya adalah "bahasa pengantar" atau "bahasa pergaulan" disuatu tempat dimana terdapat penutur bahasa yang berbeda-beda. Bahasa Inggris sudah termasuk kedalam lingua franca ini. Pemakaian bahasa Inggris meliputi banyak aspek. Wisatawan lazim menggunakan bahasa Inggris untuk dapat berkomunikasi dengan warga negara asli yang dikunjunginya. Dalam dunia transportasi udara dan laut bahasa Inggris dipakai, karena mustahil kalau para pilot dan syahbandar dan petugas menara pengendali harus menguasai seluruh bahasa di dunia ini. Tulisan dan manual alat elektronik dalam bahasa Inggris, termasuk obat-obatan dan makanan serta benda lainnya yang menjadi komoditas ekspor-impor.

Bahasa Inggris juga merambah dunia pendidikan. Keterampilan bahasa Inggris yang dimiliki mahasiswa akan menolong ia untuk mengakses hal-hal yang selama ini tidak ada dalam sumber pembelajaran lokal, dan memudahkan dalam mengembangkan wawasan pengetahuannya dengan memberikan akses pada pengetahuan yang ada di luar Indonesia.

Sumber pembelajaran kini telah terbuka lebar dengan teknologi ICT (internet). Topik apa saja telah tersedia di dunia virtual. Mau ‘kuliah’ di universitas top seperti Massechuset Institut of Technology Amerika pun bisa, secara virtual. Tapi segala akses kemudahan sumber belajar yang bersikulasi di dunia maya ini memerlukan bahasa Inggris. Seperti buku, menjadi sumber belajar utama, karena buku terjemahan sangat terbatas, semen­tara buku karangan lokal minim akan jumlah dan cakupan topiknya. Keterbatasan finansial untuk mem­beli buku cetak bisa diatasi dengan membaca buku elektronik (e-book). Nah, buku-buku teks dan buku ajar dalam bentuk e-book yang banyak dan gratis dari berbagai disiplin ilmu bertebaran di internet tapi dalam bahasa Inggris.

Akan sangat repot bila seorang peneliti (mahasiswa, dosen) memulai penelitian tanpa ditunjang jurnal internasional berbahaa Inggris yang berisi temuan terkini. Contoh jurnal internasional seperti Sciencedirect, Nature, Science, ACS, RSC, dan sebagainya. Jurnal nasional pun ditulis dengan bahasa Inggris untuk meraup penulis dari mana saja serta untuk memperoleh akreditasi. Dalam batas minimal, abstract dari artikel yang ditulis mahasiswa level sarjana juga harus pakai bahasa Inggris.

Sumber belajar lain seperti penuntun praktikum, video pembelajaran, manual penggunaan instrumen, slide powerpoint, kuis, kuliah online, dan sebagainya bertaburan di dunia maya yang umumnya berbahasa Inggris. Apabila ada buku yang terbit dalam bahasa non-Inggris, maka terjemahan bahasa Inggris pun pasti langsung dibuat dan dipasarkan, contohnya buku-buku populer Harun Yahya (Turki).

Beasiswa studi luar ne­ge­ri juga ba­nyak, tapi ten­tu memper­sya­ratkan ba­hasa Inggris berupa angka TOEFL. De­mikian pula halnya program pertu­karan pelajar (student excha­nge) atau­pun kuliah singkat (short course) ke universitas luar negeri. Bahkan studi lanjut dalam negeri pun meng­hendaki angka TOEFL ter­tentu.

Setelah lu­­­­lus sar­jana juga perlu bisa bahasa Inggris, karena pelamar untuk posisi yang bagus di peru­sahaan dites melalui interview oleh ekspatriat atau berupa nilai kemampuan bahasa Inggris berupa TOEIC. Ini karena perusahaan besar banyak mem­perkerjakan tenaga kerja dari berbagai negara. Keterampilan berbahasa ini bukan hanya untuk karir tetapi juga untuk dapat mengejar kesempatan di luar negeri. Gaji di Indonesia dan di luar negeri jauh berbeda dan lowongan kerja itu juga ada di luar negeri.

Sebenarnya, kesadaran pentingnya berbahasa asing ini telah disadari oleh pemerintah dan juga orang tua. Tapi ada yang perlu direnungi, kenapa animo yang tinggi berbeda dengan hasil yang diperoleh. Besarnya animo untuk belajar bahasa Inggris telah membuat pengetahuan ini menjadi sebuah komoditas bisnis, seperti berdirinya Lembaga Bahasa LIA, ELS, Oxford, BBC, English First, serta beragam Lembaga TOEFL. Orang tua mengirim anaknya ke lembaga-lembaga kursus walau berbiaya mahal. Di sekolah telah dimulai pelajaran bahasa Inggris semenjak SD. Tapi kenapa setelah kuliah (yang berarti sudah 12 tahun belajar bahasa Inggris) sebagian besar mahasiswa masih kesulitan berbahasa Inggris?

Mungkin hal ini disebabkan karena bahasa ini belum digunakan sebagai ’Medium of Instruction’. Tidak ada kelas khusus yang secara total berbahasa Inggris. Sementara banyak negara-negara di Asia dan lainnya telah menggunakan Bahasa Inggris sebagai ’Medium of Instruction’. Di Belanda level master seluruhnya pakai Bahasa Inggris. Di Saudi Arabia level sarjana sudah menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar kuliah.

Nah, nampaknya inilah ‘yang tersisa’ dari RSBI atau program PPGMIPABI yang mungkin untuk dilestarikan, yaitu menggunakan Bahasa Inggris sebagai medium of instruction dalam perkuliahan. Seperti yang telah berlangsung selama ini di kelas ISTE dimana dosen mengajar, mahasiswa ber­komunikasi dengan dosennya, tugas, ujian, buku, dan semuanya dalam bahasa Inggris

Sebagai penutup, penulis mencoba me­nelusuri kemampuan berbahasa dari orang Minang yang hebat pendiri republik ini: M. Natsir menguasai minimal lima bahasa (Inggris, Belanda, Yunani, Arab, Perancis, Jerman), Bung Hatta menguasai bahasa Belanda, Inggris, Perancis, dan Jerman, dan Haji Agus Salim menguasai tujuh bahasa asing (Belanda, Inggris, Jerman, Perancis, Arab, Turki dan Jepang). Bagaimana dengan kita?

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Miftahul Khair
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

4 + 4 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.